Rabu, 21 Maret 2012

Cinta Itu Bukan Sebuah Kampanye

     Namaku Althalifa aku anaknya mama Adisa dan papa Addin, aku juga punya satu om namanya om Niko. Alhamdulillah aku sudah kuliah sekarang, aku kuliah di tempat dan jurusan tempat mama dan papa dulu kuliah. aku kuliah jurusan mankom :). bedanya aku masuk ke NAGA ISKOM (Himpunan Keluarga Islam Fikom), dan mama papa dulu enggak. aku seneng banget bisa  kuliah di tempat yang sama kayak orang tuaku.
"Mau mama sisirin gak rambutnya?"
"Mau ma."
"Kamu emang selalu mau kan lifa. kapan mau gedenya coba anak mama, kalau mau kuliah aja, rambutnya masih disisirin mamanya."
"IIiiiih aku kan cuma mau selalu deket sama mama."
begitulah, aku dan mama memang sangat dekat. mama dan papa juga om Niko ngontrak rumah di jatinangor ini dan tinggal bersama aku. sengaja aku yang meminta, sebenarnya aku bisa aja tinggal sendiri, tapi gak tau kenapa kalau ada mama rasanya lebih aman.
      Suatu hari aku ada konflik, bukan dengan teman
tapi justru konflik yang complicated banget. aku, BKI, dan mata kuliah huh -____-
"Lifa sayang, kenapa sayang? Kok kamu murung gitu? Ada yang nyuekin kamu di kampus?"
"Enggak ma."
"Cowok itu yang cuek sama kamu."  mama mulai menggodaku.
"Enggak juga ma."
"Terus anak mama kenapa ? Kamu gak biasanya kayak gini loh. Lifa cerita dong sama mama."
       Sebenarnya aku bingung harus cerita apa sama mama. tapi aku beranikan diri untuk menata kalimat yang tepat untuk bercerita sama mama.
"Gini ma, aku kan ada mata kuliah kampro. mama dulu ada gak?"
"Kampanye dan propaganda? Ada kok sayang, kenapa?"
"Dosen aku minta kita semua bikin proposal kampanye individu, nanti yang bagus dipilih buat direalisasiin."
"Terus?"
"Masa dosennya gampangin banget ma, dia bilang kalau mau kampanye solat di masjid juga gak apa-apa, katanya tinggal cari aja datanya terus bikin riset kecil-kecilan, yang penting datanya ada."
"Iya memang begitu Lifa, terus Lifa udah punya tema?"
"Nah itu dia ma, Lifa punya tema yang terinspirasi dari dosen Lifa itu."
"Temanya apa sayang?"
"Mentoring ma,"
      Sejak itu aku dan mama terdiam. kami seperti kembali ke masa lalu. entah apa yang mama pikirkan aku tak tahu, mama yang tadinya menatap mataku sambil menanggapi pembicaraanku, kini menatap lurus ke depan seperti sedang menerawang jauh entah kemana. aku pun demikian, sambil menceritakan di mana titik kesedihanku, ini semua berawal dari...................


      Sore-sore aku sms Kak Disti, "Kakak, aku boleh minta data mentoring gak?"
"Data mentoring maksudnya?" Kak Disti menjawab sms-ku.
"Buat ada urusan kak."
"Kampro?" kak Disti menebak dan tebakannya memang benar.
"Emang nya kenapa kak." mungkin di sini salahnya aku berbalik tanya. aku malu sebenarnya mengajukan tema mentoring karena aku tahu di kelas gak akan ada yang mengajukan tema itu, bahkan Rina atau Dewa sekalipun yang hampir hafidz.
"Kamu tuh yang jelas dong Lifa, jangan bikin aku suuzan, jelasin yang jelas."
Mati gue mau ngomong apaan nih, ide buat bikin kampanye macam apa aja aku belum bisa jabarin. Ini ditanya kejelasan. maksud aku, maunya dapetin data itu dulu, terus dilihat-lihat, terus nemu ide insya Alloh, aduh kok aku jadi takut ya. setelah aku pikir-pikir aku jujur aja deh sama kak disti, kali aja dia bakal ngasih, karena kasian sama aku.
"Jadi gini kak, saya disuruh bikin proposal kampanye, nah saya kepikiran mau ngambil tema mentoring kata dosennya, yang penting datanya kuat dulu tapi emang sih blum kepikiran jelas buat bikin apaan. mungkin event, buka stan dll. maaf kak kalau aku emang belum tau banget kampanye tuh kayak apa. tapi kalau emang gak boleh ya saya akan ganti tema kak."

1 jam kemudian

krik

gak ada balasan dari kak disti, mankom 3 tingkat di atas aku itu. huhhhhh aku kira dia sebagai kepala departemen mentoring di NAGA ISKOM akan memberikan data tersebut dengan mudah, soalnya kupikir ini memang tidak mungkin akan gol untuk angkatanku, tapi untuk NAGA ISKOM, bukankah dapat direalisasikan di sana?
kembali ke masa kini, "Gitu ya sayang." kata mama singkat. dan kulihat mata mama berkaca-kaca.
"mama kenapa nangis? aku salah ya ma, kalau mama sendiri yang bilang tema itu gak bagus, aku akan langsung ganti tema ma." aku panik melihat mama semakin mengeluarkan banyak air mata. kemudian kupegang pipi mama dan mencoba menghapus air matanya.
     "Mama juga pernah ngalamin hal yg sama persis kayak kamu Lifa. mama waktu itu tinggal di kosan, jadi mama gak bisa cerita ke ibunya mama, seperti kamu kayak gini."
"Mama cerita ke aku mau gak?"
"Iya sayang, dengan senang hati."

       Lalu mama memulai ceritanya dengan melanjutkan ceritaku. ternyata yang mama alami juga sama seperti yang aku alami, mama juga awalnya meng-sms senior NAGA ISKOM, namanya tante Desti, wah hampir sama ya namanya. 
"Tapi karena mama tetep ngeyel dengan tema itu, mama akhirnya maju terus sampe hari-H akan ngumpulin draft proposal tentang mentoring, tanpa data yang jelas. mama cuma wawancra beberapa teman mama yang 1 angkatan di bawah mama aja."
"Terus gimana ma?"
"Mulai dari saat pengumpulan itulah, hati mama mulai tergoyahkan akan pilihan mama sendiri. Mama masih inget banget. Waktu itu..........
"Nah kalian sudah mnulis draft proposal kan, baik ini kamu, kamu temanya apa?" tanya Pak Jupiter pada salah satu teman mama yang duduk di depan.
"Sarapan pagi pak."
"Ya cukup menarik, kumpulkan saja datanya, jelaskan disitu kegunaan sarapan pagi itu bisa meningkatkan daya kerja otak, atau gimana-gimana. nah coba, siapa yang di sini tadi sarapan pagi?"
kemudian hanya sedikit yang menunjuk tangan. 
     "Kamu apa mas temanya?" mama mulai berpikir, ini pasti akan ditanyai satu per satu.
"Ini pak, judul kampanyenya, kerahkan kerahmu."
"Apa?" pak Jupiter tak mendengar
"Kerahkan kerahmu pak."
"Itu maksudnya apa itu, tentang apa?"
"Ya pak tentang pake baju berkerah, soalnya ada beberapa dosen yang mau mahasiswanya pake baju rapi." katanya menjelaskan.
"Ya terus kalau semua mahasiswa pake kerah, lu mau apa? emang apa yang bakal terjadi, kamu ni lucu. tapi bagus ya judulnya, tapi cobalah cari yang lebih menarik."
       mama hanya menunggu giliran saja untuk dikomentari oleh dosen itu, "Ya kamu apa mbak?"
ini giliran mama, "Mentoring pak." setelah mama menjawab mama pun berharap ada sambutan baik dari dosen yang mirip bapak PD 3 itu. "Hah mentoring, emang ada masalah apa dengan mentoring kita?" 
"dikit pak yang ikut."
" emang kenapa kalo gak mentoring? masalah gitu buat elo?"
JLEBBBB
JLEBBB
TOMBAK BESI nyangkut di jantung
 "ya sebenarnya saya tu terinspirasi sama cerita bapak yang kampanye solat di masjid itu, saya sih mikirnya kenapa enggak kalo mentoring." kataku agak gemetaran.
"Yaa kalo kampanye solat di masjid kan jelas, solat itu kewajiban. nah kalo mentoring? coba di kelas ini siapa aja yang ikut mentoring?"

krik

     Tidak ada satu pun yang tunjuk tangan, sudah kuduga memang akan seperti itu kejadiannya. "Di sini mentoring wajib gak sih?" tanya dosen itu, lalu salah satu temanku menyeletuk, "ada yang wajib ada yang enggak pak. gak jelas."
"wah gak jelas nih, gimana dong. kalau jaman saya kuliah dulu, belajar agama ya dari mentoring itu.coba kalau disuruh pilih , pilih kampanye mentoring apa cuci tangan pakai sabun?"
dan semesta alam kelas menjawab cuci tangan pakai sabun, hey please itu bukan tandingannya dan mereka tak bisa disandingkan.

"gitu sayang ceritanya."
"hmmm dosen itu kayaknya gak setuju ma, tapi di sisi lain, dia sempet bilang kalau pelajaran agama, ya didapetnya dari mentoring."
"mama juga berpikir demikian sayang. pikiran kamu sama kayak mama yah."
"Ma lanjutin ceritanya dong ma."
     Lalu mama melanjutkan ceritanya, mama bilang setelah pengumpulan draft proposal itu, tugasnya berlanjut untuk membuat proposal sungguhan, lengkap dengan data dan acara apa saja yang akan diadakan untuk menunjang kampanye. mama masih bingung, karena tante Desti tak kunjung memberikan data itu. mama bilang, mama sampai meminta tolong kepada murobinya agar bisa mendapatkan data itu, namun usahanya pun gagal. 
     sampai pada detik-detik h-1 pengumpulan tugas, mama masih belum mendapatkan data yang akurat dan lengkap tantang mentoring. mama hampir putus asa, mau ganti tema malah gak kepikiran apapun juga. lalu di tengah malam itu mama benar-benar sedih, saking sedihnya mama sampai menulis sebuah tulisan di buku cetak kampanya dan propaganda. tepatnya di samping halaman daftar rujukan.
kemudian mama mengambil buku itu dan menunjukannya padaku
aku pun membaca tulisan itu :
aku gak menyalahkan keadaan.
tapi rasanya kayak dipermainkan
kayak dioper ke satu cinta ke sayang yang lainnya
di satu sisi kayaknya cinta itu terlarang banget buat aku
tapi di sisi lain rasa sayang dari cinta selalu nunjukin eksistensinya
yang ngebuat aku gak bisa milih dengan pasti, mau ninggalin atau mau lanjut?
ini bukan tentang cinta antar manusia
ini lebih dari sekadar sistem perempuan dan laki-laki
makin hari makin ditunjukin aja kalau aku benar-benar terlarang untuk semua itu.,
tapi semakin hari berjalan, sedikit demi sedikit
ibarat ada air yang muncul dari tanah
padahal kalau aku minum itu gak boleh
tapi air itu dimunculin perlahan sih, tapi pasti
perlahan menghantarkan aku ke ladang dehidrasi
tapi selalu berusaha muncul agar aku bisa meminum air itu
ini bukan kegalauan boy! dan bodohnya aku gak berani nanya siapa-siapa tentang semua ini.
padahal aku hanya ingin kejelasan
ini terlarang atau tidak.
kalau terlarang aku tidak akan menghiraukan harapan2 itu'
tapi kalau menggantung begini
aku kan jadi bingung
ya Alloh ujiannya begitu variatif.

     begitulah isi curhatan mama di buku itu. tapi aku agak sedikit bingung. "Kamu kok diem sih sayang? ada yang mau tanyain?"
"Iya ma, maksud puisi tadi apa ya? kok kayaknya mama cinta banget sama kampanye mama?"
"mama memang mencintai NAGA ISKOM, seperti mama mencintai hal yang sangat mama cintai. mama melakukan dengan sepenuh hati. makanya mama pilih tema itu. tapi, hari demi hari ad 2 jalan yang menunjukan eksistensinya. di samping mama seakan dipersulit mencari data, lambat tapi pasti. ide untuk bikin acara kampanyenya dapet."
"Iya ma? wah hebat dong."
"Iya sayang, tapi ya mama juga bingung. hehehehee. sampai akhirnya proposal itu mama kmpulkan, untuk tidak dibahas pada saat itu, tapi malah minggu berikutnya."
"Apa yang terjadi ma?"
"Ya seperti biasa, malah lebih parah, semua dosen itu pada dasarnya menunjukan sikap yang mendukung tapi terkesan benci-benci cinta untuk mendukungnya. seperti pak Husneidi. beliau bilang,
"ah kurang menarik itu, apa masalahnya."
tapi kemudian beliau juga melanjutkan.
"ya minimnya pendidikan agama membuat orang bisa seks bebas sepuasnya, banyak tong sampah yang isinya alat-alat seks. ada seks bebas, seks terjun bebas apa lagi itu. itu karena orang lupa sama agama."
      mama cuma bisa menghela nafas, aku pun demikian. mama bilang, setelah rentetan kejadian itu, mama sadar kalau gak semuanya bisa terwujud dengan sistem yang biasa-biasa aja. dan kecintaan mama terhadap NAGA ISKOM malah semakin bertambah, karena NAGA ISKOM bagaimana pun juga harus maju, dan sekarang aku yang akan melanjutkan cinta dan perjuangan mama.

2 komentar: