Nama gue Adisa, eh udah pada kenal juga yah hahaha, sok akrab. Ya buat yang udah baca 2 hari berturut-turut dari part 1 sih, pasti kenal sama gue, Yolanda dan Ardo. Oke tapi cerita kali ini gak mengandung mereka kok. Sedikit info, seiring berjalannya waktu peran utama 2 hari berturut-turut kan selalu ganti jadi yang lebih gress.
Malam itu aku lagi dengerin musik, lagu katy perry yang fireworks. Ya namanya juga inspirasi gak beda jauh sama cinta, selalu datang dari arah yang tak terduga dan di waktu yang semena-mena. Saat itu pula gue dapet inspirasi bikin mini drama (kalo versi korea) atau cerpan *cerita panjang (versi Indonesia), judulnya “Uncomfortable”. Jadi mini drama ini, terinspirasi dari salah seorang temanku yang memang pada saat itu hubungan kami, lagi aku anggap kurang baik. Siapa lagi kalau bukan Niko. Awal kejadiannya, waktu kita makan bareng di Saung Purso, sehabis aku mengerjakan tugas kelompok mata kuliah PH (Production House). Sebenarnya aku curhat aja sama dia tentang keluhanku di PH, gimana susahnya, gimana jenuhnya, gimana temen-temen kelompoknya, ya pokoknya banyak. Gak tahu akunya yang lagi bête atau justru Niko yang lagi bad mood. Aku nangkepnya Niko tuh berubah, kayak lagi ada masalah dan lagi gak mau ketemu sama aku. Tapi dia maksain buat nutupin semua itu dan usahanya kebaca. Wallahu alam aku juga gak tau.
Selesai aku curhat, Niko pun memulai ceritanya, seperti biasa kami selalu timbal balik. “Iya nih kak lagi kesel, ya kakak tahu lah.” Ujarnya memulai cerita.
“Emangnya kenapa lagi sih Nik? Bukannya kamu udah mau keluar dari organisasi itu?” tanyaku. Ini adalah cerita tentang organisasi yang diikuti oleh Niko. Organisasi ini adalah organisasi pecinta bawah laut. “Ya habis, saya kan mau keluarnya baik-baik kak. Tapi kesannya mereka kayak nahan banget gitu. Harus ikut rapat lah segala macem lah.” Katanya makin bernada kesal.
“Ya kamu gak usah ikut rapatnya Nik, gampang kan. Toh juga kalau kamu gak ikut, memangnya mereka akan ngejar? Enggak juga kan.”
“Ngejar kak, sampe kosan lagi. Bayangin aja, kan jadi gak tenang di kosan sendiri.”
“Oh ya, mereka sampe ke kosan kamu?” aku pun kaget mendengar fakta itu darinya. Lalu Niko kembali melanjutkan ceritanya, “Ya saya sih udah konsultasi juga ke mamah.” Mendengar kalimat itu, aku langsung memotong “Hah mama kamu, waaahh!!” ujarku penuh takjub, tapi semua itu sirna begitu saja saat Niko berkata, “Ah udah lah kak, jangan bahas itu dulu. Apa sih.” Aku hanya terdiam dan kembali mendengar ceritanya. Sesungguhnya kaget mendengar ia bereaksi demikian. Biasanya kalau disinggung soal mama, Niko hanya malu-malu kucing, tak sampai seperti tadi. Mungkin ini adalah titik jenuh Niko berteman denganku. Atau mungkin ini juga salahku yang selalu ingin dia ada untuk menghiburku di saat sedih. Ya dua-duanya salah atau dua-duanya benar. Malam semakin gelap dan suasana ini sesungguhnya membuat aku semakin gamang.
***
Fakta atau asumsi terserah kalian, ya asumsi saja. Asumsi keduaku untuk menyatakan hubungan yang renggang kepada Niko adalah saat kami bertemu di jembatan dekat kampus. “Niko, kamu kemana aja? Oh ya ini kan jum’at, kamu pulang gak? Bareng yuk.” Sapaku dengan ceria. Kebetulan sekali di sini bisa bertemu dengan dia. “Kayaknya enggak kak, masih bingung, banyak acara.” Ujarnya tanpa memberhentikan jalan, ia terus bicara sambil berlalu. Aku hanya berkata, “oohhh.” Sudah itu saja. Apa yang terjadi aku tidak tahu, semenjak itu sampai beberapa hari berikutnya, aku merasa mungkin selama ini, aku yang terlalu berlebihan. Sudahlah, tak selamanya teman akan selalu ada di saat kita butuh dan tidak selamanya juga orang itu yang akan ada, di saat kita ingin gembira. *kok jadi berpuisi?
Dari kedua sub cerita di ataslah yang membuatku semakin semangat untuk menulis minidrama “Uncomfortable”. Hingga pada suatu malam, novel itu selesai dan aku sangat senang. Meskipun hubungan kita sedang tidak baik, entah apapun itu jenisnya. Aku tetap bisa berkarya dan suatu saat nanti, aku akan memberikan minidrama itu pada Niko. Itu hadiah dariku untuknya, karena dia sudah terlalu banyak membawa inspirasi. Hanya hadiah tak lebih. Mungkin selebihnya karena memang hobiku menulis, menulis apa saja yang menurutku indah.
***
Keesokan harinya aku mulai berkomplikasi lagi dengan mata kuliah PH. Seperti biasa, aku merasa mata kuliah ini begitu menyita waktuku. Menyita waktuku untuk kursus, untuk mentoring, untuk kajian, untuk rapat rohis dan untuk untuk yang lainnya. Walaupun aku masih diberi kesempatan izin beberapa kali. Tapi salah seorang sahabatku berkata, “Berhenti mengutuk keadaan dan tumbuhkan cinta itu dalam hatimu.” Secara tersirat, aku harus mencintai PH agar kepalaku ini tidak terlalu terbebani. Mungkin akan sulit rasanya bagiku untuk mencintai mata kuliah yang seakan perlahan membunuh hidupku, membunuh kebebasanku. Mana bisa kita mencintai pembunuh? Namun untuk apa mengutuk dia? Toh juga tidak akan mengubah pembunuh itu menjadi sebuah malaikat. Karena aku mengutuknya dalam hati, dan pembunuh itu tak akan pernah dengar sampai kapanpun.
Komplikasi untuk yang kesekiankalinya di mulai pada suatu sore yang agak mendung di kosan Viona. “Eh Dimeng dateng, Vin tuh kekasihnya dateng.” Ujar salah satu teman PH ku. “Hai, sini dong. Aku lemah ni.” Ujar Viona memanja kepada Dimeng. Dimeng itu nama aslinya Dimas, ya Kak Dimas. Kalau lupa Kak Dimas yang mana dan siapa you can read 2 hari berturut-turut part 1 *soalnya gue gak mau bahas lagi siapa Dimas dan kepentingannya apa, semua udah jelas di sana. Berhubung gue anggapnya kalian udah pada tau dimeng atau Kak Dimas itu siapa, intinya aku udah tertarik lagi sama dia, setelah tau dia pacar temanku sendiri, ya sudahlah stop saja untuk apa?
Setelah beberapa jam berbincang tentang progress PH, kemudian sutradara berbicara, “Pokoknya besok senin nih kita kumpul ya, gak mau tau gue, harus pada kumpul semua. Gak peduli ada kumpul apa kek lo di luar sana, KND aja gue tinggalin kok.”
JLEBBB!!
Ini maksudnya apa? Rohis kan sebentar lagi mubes, aku ada di dalamnya dan aku merasa bertanggung jawab untuk ikut ngurus semua itu. “Besok beres kuliah kumpul ye.” Sambungnya. Aku hanya bisa terdiam dengan semua itu. Mungkin sudah saatnya aku menerapkan saran-saran dari temanku, dari sahabatku yang bilang aku harus menumbuhkan cinta dan dari Ni… emmmmm Ni, bahkan untuk menyebut namanya aku enggan dan membuatku semakin bertanya-tanya apa yang sebenarnya terjadi, mengapa dia begitu …. Begitu….. aku tak bisa melanjutkan. Dia hanya bilang, “cuek dikit bisa kan.” “aku bisa Nik,” dan kata itu pun tertahan.
***
Bangun pagi-pagi jam 7, namanya bukan pagi yah. Kulihat sudah ada 5 sms yang masuk. Kubaca satu per satu, “Aslm, selamat kamu terpilih menjadi tim inti, maka wajib kumpul di al-muhajirin jam 15.30” itu tadi dari Kak Charlie. Sudah pasti aku tak bisa ikut kumpul itu, aku sedih sekali. “Eh kamu ikutan kajian JIL gak (Jaringan islam liberal)?” itu dari Evina, semakin bingung saja aku. Sisanya sms non undangan. Aku ingin sekali ikut semuanya atau salah satunya, ya kecuali kumpul PH, tapi apa daya sore nanti PH lah yang harus aku datangi. Kemudian aku melanjutkan tidurku, karena kuliah jam 10.40.
***
Di kampus pikiranku gamang, lalu aku membalas sms dari Kak Charlie, “Wslm, trimakasih kak sudah memilih saya sebagai anggota tim inti, doakan saja karena hanya keajaiban lah yang mampu menghantarkan saya ke masjid itu jam 15.30.” ya karena memang hanya dengan keajaiban Alloh aku bisa berkumpul di sana. Kalau aku bisa kumpul otomatis PH dapat kuhindari bukan? Ya bukan maksud untuk menghindari, tapi aku hanya ingin bekerja sebaik-baiknya karena sudah diberi kepercayaan menjadi tim inti. Tak lama kemudian Kak Charlie membalas, “emangnya ada apa?” maka mulailah aku menceritakan tentang kegalauanku akan PH.
Tak berhenti sampai di situ, aku terus memohon keajaiban di dalam hati kecil ini, walau aku tahu itu tak mungkin terjadi. Sekarang sudah mata kuliah kedua, semakin dekat saja dengan PH semakin dekat saja dengan kejenuhan. Aku duduk dengan wajah yang datar di mata kuliah, kemudian sapaan seorang teman mengagetkanku, “Eh Disa, nanti ikut kumpul matkul Projek gak?” “Emang nanti ada kumpul Projek? Bukannya kita kumpul PH juga yah?” tanyaku balik. “Kayaknya yang PH gak jadi deh. Palingan cuma adanya Projek, kan PH besok kumpulnya jadinya.” Subhanallah, lepas dari PH nyangkut di Projek, mak jleb dleg slekk. Gak tahu lagi mau ngomong apa.
Mendengar berita itu aku langsung meng-sms Lisu dan Addin. Mereka kan sama jurusannya sama aku, dan mereka adalah dua orang yang kemungkinan menjadi tim inti juga perwakilan dari angkatan kami. “Lisu, kamu kumpul Projek apa rohis?” itu untuk Lisu, dan untuk Addin, “Ddin, kamu disuruh kumpul rohis gak sore ini?” setelah semuanya terkirim aku mengharap mereka memberikan jawaban yang sesuai dengan harapanku. Tak lama kemudian, hapeku bergetar,
“Aku ikutan kumpul Projek Dis.” Dari Lisu.
“Enggak Dis.” Dari Addin, dapat disimpulkan, hanya aku saja perwakilan dari 2010. Lalu kalau aku ikutan kumpul Projek, perwakilan 2010 gak ada dong, ini gak adil untuk rohis pikirku.
“Kamu kumpul Projek gak Ddin?” dalam hati aku berdoa agar Addin tak kumpul, setidaknya aku ada teman untuk membolos hehehe.
“Insya Alloh kumpul.” Yaaaahh aku langsung sedih membacanya, sedih bercampur galau aku mau milih yang mana. Addin kumpul Projek, terus aku gak kumpul. Kenapa harus begitu, setahuku dia paling males sama yang namanya kuliah bersama, tumben kami tak kompak dalam hal kemalasan *gak mendidik.
Terus nanti kalau aku kumpul rohis, gak ada Addin ya, kenapa ya dia gak kepilih? #keppo.
***
Selesai perkuliahan, aku langsung mencari mangsa untuk menghasut agar tak kumpul Projek, *sumpah ini jangan ditiru.
Sasaran pertama : “Yaya, Egi, kalian ngumpul Projek gak?” ketemu di jalan langsung saja kucegat.
“Enggak deh kayaknya Dis, kepalaku pusing banget.” Ujar Yaya.
“Enggak akh males hehehe.” Oke deh 2 sasaran kena.
Sasaran kedua : “Ardi, Tama eh kalian pada ikut kumpul Projek gak?” yang ini juga nemu di jalan dan langsung dicegat.
“Gak Dis, lagi bête gue hehehe.” Asyik *loh kok temen bête malah asyik, dan Tama hanya geleng-geleng kepala saja. Maka Bismillah aku memilih untuk kumpul anggota tim inti. Setelah gue pikir-pikir, gak apa-apa lah bolos sekali-sekali, kan di sana udah ada Lisu, dan aku ngewakilin bagian rohisnya. Hahaha bagi-bagi tugas.
Jam sudah menujukan pukul 15.30, saatnya kumpul tim inti di masjid.
“Assalamualaikum, makasih udah pada dateng semuanya.” ujar Kak Charlie dan seterusnya, kemudian dia menjelaskan tentang apa saja tugas kami sebagai tim inti mubes. Tak lama kemudian kak Rahma nyeletuk, “Eh ngapain sih Addin pake kemeja kayak gitu, kayak SPM deh.” What?! Addin, Addin ada di sini. Dia gak kuliah Projek? Hatiku mulai bergejolak, lalu kulihat memang dia ada dan masuk masjid. “Addin, kamu gak kuliah Projek.?” Tanyaku penasaran. “Gak ada, kuliahnya gak jadi. Tadi tuh cuma pemilihan koord-koordnya aja.” Jawabnya santai. Ini baru namanya Subhanallah. “Terus kamu gak ikutan Ddin?” tanyaku pura-pura polos. “Enggak akh, males aku.” Yes ada tambahan mangsa baru yang gak ikutan Projek, *sumpah ini sangat sesat sampai-sampai selonjor saja susah. *ehhh
Saat rapat selesai, aku dan teman-teman jalan menuju arah pulang, tiba-tiba “Eh itu Adisa, Adisa!!” seperti ada yang memanggilku, ternyata di sana ada sekumpulan orang yang mereka adalah kelompok PH.
Mati!
“Nanti kumpul di kosan Yurike ya jam 8.” Ujar Jiko.
Ya aku hanya bisa menyimpulkan ini adalah salah satu titik keadilan saja, aku bisa kumpul tim inti, tapi kumpul PH nya juga gak boleh ketinggalan.
***
Kumpul seperti biasa, sekarang ngomongin tentang iklan apa aja yang layak ditayangin untuk hari-H ujian praktiknya. Sesungguhnya aku sudah mulai mengikhlaskan jika memang Niko sekarang menjauh dariku, ya tak semua teman dapat bertahan sesuai dengan yang kita harapkan. Aku juga mulai ikut membaur dengan teman sekelompok PH, membuang segala pengutukan walaupun PH masih merebut jam lesku esok hari. Jadi kami akan presentasi iklan jam 1 siang, ya sudah pasti kalau itu akan telat dari dosennya untuk menguji mental kita. Dan otomatis tak akan bisa ikut les aku. Kembali lagi semua itu direbut.
Mencoba untuk ikhlas di PH bukan berarti aku meninggalkan seluruh kebiasaan buruk yakni main hape saat yang lainnya mendiamkan aku. Aku masih melakukannya sesekali, main hp smsan sama Evina dan teman-teman rohis yang lainnya. Sebenarnya complicated juga sih kalau aku jelaskan duduk permasalahan kenapa aku masih berkelakukan seperti ini.
KRRIIINGG
Hapeku berbunyi, dan aku membaca sms yang masuk, “Kak besok kuliah jam berapa? Aku punya buku bagus nih.” Siapa yang mengirimkannya? Siapa lagi kalau bukan Niko. Aku tak bisa mengungkapkannya dengan kata-kata, tapi aku hanya tersenyum penuh makna saat membaca dan melanjutkan sms itu. Kukira akan selamanya menjadi hubungan yang kurang baik, tetapi semua itu sirna dan satu kata “keajaiban”.
“Eh Jiko, besok kita jadi presentasi iklan jam 1?” tanya Sasa.
“Gak tahu, Pak Deni nya kan masih di Singapur, kemungkinan jadinya sabtu diundur, tapi nanti gue kabarin lagi.” Jawabnya. Jawaban yang begitu mengagetkan aku. Jadi kalau besok tak ada presentasi, aku akan bisa kursus, aku bisa? Rsanya satu kata lagi harus kuulang, “keajaiban”
***
Kejaiban datang dari arah yang tak terduga, itu adalah benar? Mau bukti? Aku buktinya. Semakin kita tak percaya dan menebak-nebak dari mana arah keajaiban itu datang, maka akan membuat hati kita semakin tersiksa, karena sesungguhnya keajaiban datang dari arah yang tidak terduga.
Kemudian pada akhirnya aku dan Niko berbaikan kembali, dari sudut pandangku. Mungkin dari sudut pandangnya kami masih baik-baik saja. Mengenai kursus, mungkin selasa aku bisa kursus, tapi sabtu? Sepertinya harus dikorbankan, karena akan ada presentasi dan kuliah bersama yang konon katanya dimulai jam 1. Mana mungkin selesai jam 3. Tapi siapa yang tahu? Hari ini saja kejadiannya demikian, untuk sabtu? Who’s know? Only God and belief towards the miracle.
Adisa, sebuah nama kecil yang ingin jadi besar di tengah lautan yang ombaknya bisa disetting, jangan pernah berpaling J *gak nyambung.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar