Pagi-pagi sekali Niko sudah sibuk di kamar kosannya. Kamar kosan yang sangat berantakan, maklum lah para lelaki memang suka gaya yang tak rapi. Berserakan di kasurnya kertas-kertas dan buku, di mejanya juga tak kalah hebat. Banyak kain batik dan boneka-boneka terdapat di sana. Pemuda yang berkulit coklat ini terlihat sedang asyik menata barang-barang yang akan dimasukannya ke dalam kardus. “Boneka wayang udah, boneka yang ini udah, satu, dua, tiga, hmmm dress batik. Sip. Beres.” Ujarnya sambil mengecek barang-barang yang kemudian ia bawa ke tempat jasa pengiriman barang itu.
Beberapa menit kemudian sosok yang tinggi semampai ini, keluar dari kosan lalu berjalan kaki dengan kardus cukup besar di tangannya. Niko akan pergi ke TIKI untuk mengirimkan kardus tersebut. Sesampainya di sana, ia langsung mengurus segara prosedur untuk mengirim barang. Untung saja tempatnya tidak ramai jadi semuanya bisa berjalan dengan cepat. Setelah urusan kirim mengirim beres, Niko langsung menghubungi seseorang, “Kak Disa, titipannya udah aku kirim ya kak.” Ujarnya melalui ponsel.
“Oh iya Nik, makasih ya. Kakak tunggu titipan kamu.”
“Hmm mulai deh sundanya.”
5 hari kemudian
Suasana kampus senin pagi ini cukup ramai. Ya maklum saja, soalnya senin adalah hari pertama dalam satu minggu, dan senin juga yang biasanya diawali oleh kesibukan urusan masing-masing manusia di muka bumi ini. Ya itu semua biasanya, terkecuali buat Niko dan teman-temannya yang pecinta seni sunda itu. Tiap ke kampus masing-masing dari mereka pasti ada saja yang memakai atribut budaya, entah itu syal, jaket, kemeja bahkan tasnya sekali pun. Mereka enjoy menggunakan semua itu, gak malu dan takut kalau-kalau ada yang bilang mereka tradisional banget. Kan jaman sekarang, kalau bukan orang-orang kayak gitu yang melestarikan budaya, siapa lagi itulah pemikiran mereka. Kembali lagi ke hari senin, hari senin yang seharusnya menjadi sumber kesibukan mahasiswa untuk urusan akademik, tapi bagi mereka senin adalah urusan UKM (Unit Kegiatan Mahasiswa) PESOHOR (Pecinta Sunda Bogor), yang mereka nanungi. Tapi jangan salah sangka dulu, bukan berarti merka cabut kuliah atau bolos, memang sudah takdir Tuhan di hari senin jadwal mereka yang berbeda-beda kelas ini kebetulan kosong. Jadi senin digunakannya untuk ngumpul bareng.
“Eh Nik kumaha? Maneh geus ngirim pesenan lanceuk maneh?” tanya Aris salah satu teman Niko
“Udah kok, tenang we, beres eta mah.” Jawabnya santai.
“Hmmmmm tu Des, dengekeun si Niko, sok menang orderan, promosina gede-gedean. Jadi produk the tereh payu.” Tiba-tiba Tina nyeletuk menggoda Desta.
“Yeee tong ngabandingkeun urang jeung si Niko, urang alon tapi pasti.”
“Heh heh gandeng pisan, ieu karek ngamimitian kalem we.” Niko pun menyahut dengan gaya coolnya.
Lalu tawa mereka pun menggelak di depan gedung kampus yang berlokasi di daerah bogor itu.
KRIIIINGGGGG
Ponsel salah satu dari mereka berbunyi, Niko langsung merasa bahwa suara itu adalah suara ponselnya. Buru-buru ia melihat panggilan dari siapa yang masuk, kemudian memisah dari forum dan mengangkatnya.
“Ya Kak Disa naon? Pesanannya udah sampai?”
“Apaan Nik, boro-boro sampe. Sekarang kakak malah udah pake dress batik dari tante Delisa, masa nyampenya keduluan sama tante Delisa yang baru pulang dari Batam. Huhh kamu tuh. Pesenan kamu belum nyampe Niko!!!” teriaknya agak marah dan kesal.
“Hah? Kok bisa sih kak? Perasaan alamatnya udah bener deh.” Niko bingung.
“Ihhh kakak kesel ah sama kamu, udah ya. Untung ada tante Delisa bawain batik-batik juga, jadi ya rada terobati deh, udah ya daaa.” Telepon pun dimatikan.
“Aya naon Nik?” tanya Desta santai, namun Niko hanya kembali duduk bersama mereka, dengan diam dan wajah datar.
***
Di tempat lain, di daerah Jakarta, tinggalah seorang gadis yang bernama Adisa di rumah kos yang mewah. Adisa adalah mahasiswa baru di salah satu universitas ternama di Jakarta. Ini adalah sepenggal kisah Adisa saat ia baru pulang ospek fakultas. Dengan dandanannya yang tak lazim, rambut kuncir 3, dengan pita yang berbeda-beda warna, nametag yang sudah agak kusut juga baju SMAnya. Ia berjalan menuju kamarnya yang ada di atas. Saat hendak membuka pintu kamarnya, ia tertegun melihat sebuah kardus cukup besar. Kardus itu terletak di atas keset tepat di depan kamarnya, terlihat ada tulisan : Kepada Disa.
Ia berpikir mungkin ini pengirimnya hanya salah tulis nama saja, harusnya ditambahkan satu huruf lagi di depan, yaitu ‘A’. Karena pikirannya yang demikian, Adisa langsung membawa kardus itu ke dalam kamarnya, lalu membuka isinya.
“Adisa.” Salah satu penduduk kosan lain menyambangi kamarnya.
“Iya. Masuk aja.” Sahutnya dari dalam.
“Cieeee dapet paket ni yeee. Dari siapa?” tanya perempuan itu antusias. “Sini coba aku liat. Untuk Disa di jalan kenanga nomor 234. Loh?” lanjutnya sambil bertanya.
“Kenapa ‘loh’ Mir?” tanya Adisa sambil mencopti atribut ospeknya dan membuka lemari untuk memilih baju ganti.
“Ini kan bukan alamat lo. Alamat kosan kita kan jalan kenanga nomor 224” kata Mira mengklarifikasi. Lalu Adisa sambil memegang beberapa pasang baju ganti yang baru ia ambil dari lemari, mendekati Mira yang sedang meneliti alamat. “Hmmmm iya ya, ah tapi kan ini nama gue, mungkin aja ini buat gue. Udah lah, kalau pun salah, ya salah tukang posnya dong.” Adisa santai menanggapi.
“Iiiihh Adisa kok gitu sih, balikin yuk ke alamat ini.”
“Udah lah, ini paling salah-salah nulis aja kok. Udah pokoknya aku mau buka dulu. Lo mau lihat gak?” tanya Adisa. “Ya mau sih, yaudah deh buka buka.”
“Huuuu buka buka, tadi aja pake segala neliti alamat. Huuuuuu.” Meledek teman.
Kemudian Adisa, membuka satu per satu elemen yang ada pada kardus, mulai dari membuka selotip yang merekatkan kardusnya, menggunting sesekali karena selotipnya agak keras. Lalu Adisa melihat barang-barang itu.
“Whaaaa bagus-bagus banget.” Katanya berdecak kagum.
“Boneka wayang? Boneka apa lagi nih, hmmm.”
“Ini bagus banget Mir, ya ampun aku suka banget. Lucu deh, nih kalo boneka ini aku taro sini, bagus kan. Terus boneka yang ini mau ako taroh di meja belajar. Tuh liat deh, kamar aku jadi lebih unyuuu…” kata Adisa sambil langsung menempatkan bonek-boneka itu di tempat yang ia maksudkan.
“Ya ampun Adisa, ini kan boneka biasa aja kali. Di pasar juga banyak. Ini Indonesia banget, emang kamu gak pernah liat.” Mira agak meremehkan.
“Hmm emang banyak ya? Tapi buktinya di kamar lo gak ada kayak ginian tuh. Buat apa banyak di pasaran kalo kita sendiri aja males ngoeksinya. Satu lagi Mir, lo tau kan, nyokap bokap gue mana pernah beliin gue beginian, palingan selalu ngajak ke singapur, ke Thailand, korea buat belanja barang-barang di sana. Paling yang gue tahu tentang Indonesia, cuma apa tuh tari bali, terus kebaya batik. Gitu kan. Kan gue jarang liat versi lucu gini.”
“Duhhh Nona Adisa, emang pas sekolah gak dikasih tau tentang budaya?”
“Yah Mir, lupa mulu lo. Gue kan pindah-pindah sekolahannya, ngikutin kerja bokap gue, dan itu kebanyakan di luar Indonesia. Mati aja gue tentang budaya. Tapi sumpah, ini tuh bagus. Ternyata bagus ya Indonesia.” Ujarnya menghebohkan kamar kosan.
“Oh ya gue lupa, lo kan bule gagal, pindah sana sini tapi ngomongnya Indonesia-indonesia juga hahahhaha.” Mira meledek dan menertawakan Adisa.
“Ihhh apaan sih, bodo amat, yang penting ini lucu banget.” Balasnya melengos.
***
TOK TOK TOK suara pintu.
“Ya Pak.”
“Ini kang, pos. silahkan tanda tangan di sini ya.” Niko pun menggoreskan tanda tangannya.
“Nuhun ya.” Kemudian ia menutup pintu kamarnya, “Pos dari siapa nih? Adisa? Kok namanya mirip kakak sih.” Pikirnya sambil membuka secarik kertas tersebut, Niko pun membacanya sambil duduk di atas kasur.
“Halo ini Niko ya? Niko ini aku Adisa, mungkin kamu belum kenal siapa aku. Tapi tenang aku akan jelasin semuanya sama kamu. Jadi aku udah nerima paket boneka-boneka tradisional kamu, walaupun aku sih gak kenal kamu. Tapi aku lihat disitu namanya untuk Disa, ya mungkin salah penulisan.
Langsung ke intinya aja ya, jujur aku suka banget sama paket yang kamu kirimin. Aku tuh sering dibilang bule gagal sama temen-temen aku, soalnya dari kecil sekolahnya pindah-pindah mulu, malah ada beberapa yang ke luar Indonesia, tapi bahasa aku tetep gak kebule-bulean. Terus dari aku kecil, mama papa aku gak pernah ngajarin aku tentang budaya negara kelahiranku ini. Paling yang aku tahu cuma, kebaya batik, tari bali, masakan padang udah. Dan hingga pada akhirnya aku takjub sama kiriman paket kamu, ternyata kalau batik dimodif jadi bagus banget ya. Terus bonek-boneka itu juga bisa mempercantik kamar kosan aku, aku suka banget dan tertarik dengan semua ini. Kalau boleh tahu, kamu ngirim itu untuk apa ya? balas suratku ini ya, soalnya aku tertarik banget sama kiriman paket kamu, barang kali kamu bisa cerita-cerita ke aku tentang gimana budaya di sini. Kan kata orang-orang banyak. Makasih
Salam
ADISA
Niko hanya terdiam sehabis surat itu. Terdiam dan tertegus duduk di atas kasurnya yang masih berantakan juga dari kemrin. Lalu ia bergumam satu nama, “Adisa”. Kemudian senyum terukir di bibirnya yang agak tebal.
***
Masih di kosan mewah tempat Adisa tinggal, ia kini sudah berdandan dengan lazimnya mahasiswa, karena masa ospeknya sudah selesai. Sepulang kuliah ia buru-buru masuk kamar karena kebelet pipis. Ia berlari dari bawah langsung ke atas menuju kamarnya, namun sepertinya ia lupa meletakan kunci di tas bagian mana.
“Aduh mana sih ni kuncinya, aduh ssstttt kebelet kebelet…” ujarnya sambil mengoprek-oprek tas warna coklatnya itu.
Tiba-tiba muncul Mira dari kamar sebelah dengan nongol kepalanya saja dari pintu. “Woy kenapa lo ribet banget?”
“Mira mira, mira numpang pipis ya.” Ujarnya sambil ari menghampiri kamar Mira, kemudian ia langsung segera masuk ke kamar mandi yang ada di dalam kamar temannya itu.
Tak lama kemudian, Adisa keluar dengan perasaan lega, “Thanks ya, untung ada lo. Eh itu paket siapa?” tanya Adisa. “Ini paket buat lo, dari Niko.” Ujarnya sambil senyam senyum.
“Hah Niko? Niko bales surat aku, pake paket lagi balesnya. Tapi kok bisa ada di lo sih? Lo mau ngambil paket gue ya.” Tebaknya sambil bercanda
“Yaelah paling juga isinya batik, ato gak bonek lagi. Nih.” Lalu Mira memberikannya pada Adisa. “Gue mau buka di kamar gue sendiri ahh, dadaaa Mirooong. Hahahaha.” Kemudian ia buru-buru lari ke kamarnya dan menutup pintu lalu menguncinya.
“Hihiiiii Niko ternyata bales jadi seneng. Wow!!!” Adisa kaget karena paket itu berisi dress batik yang sangat cantik dan pas di ukuran badannya.
Hai Adisa, sebelumnya aku mau jelasin dulu sama kamu, kalau paket itu emang kayaknya salah kirim deh. Tapi gak apa-apa kok, barang-barang yang udah kamu terima dan kamu taro di mana-mana itu, buat kamu aja. Makasih ya udah suka produk yang aku kirim. Aku senang bisa berbagi sama kamu. Aku harap kita bisa berteman dan aku juga bisa bantu kamu lebih mengenal budaya di sini. Itu aku udah kirim dress batik, semoga kamu suka ya. Dan aku juga kirim barang lainnya, itu semua buat kamu.
Oh ya, aku kan mau jadi temen kamu dan mau bantuin kamu. Boleh dong aku minta foto kamu. Biar kita saling tahu. Makasih ya.
Salam
Niko
***
Kali ini kampus terasa sepi, ya sepi lah, karena ini haris sabtu dan tidak ada perkuliahan. Namun keramaian bisa saja terjadi, jika ada PESOHOR bertengger di salah satu selasar kampus. Terlihat di sana ada Niko, Desta dan teman-teman lainnya. Mereka sedang asyik mengobrol namun Niko malah asyik dengan tulis menulisnya sendirian.
“Eh tisaprak paketna gagal dikirim, babaturan nu ieu jadi jago nulis. Naha nya? Hahahaaa” ujar salah satu teman Niko untuk meledekinya.
“Apaan sih berisik maneh.” Lalu Niko kembali melanjutkan tulisannya sambil senyam-senyum.
***
Hai Adisa,
Aku udah terima foto kamu, kamu cantik banget. Ini sekarang aku kirim foto aku, semoga kamu gak menyesal ya. Hahahaha. Oh ya, kalau kamu mau tau tentang PESOHOR kamu buka aja di www.pesohor.com di sana lengkap kok tentang sunda, sunda dulu ya Adisa. Yang lain menyusul.
Setelah membaca alamat web itu Adisa langsung membuka laptopnya dan menelusuri alamat itu. Di depan layar laptop Adisa senyam senyum saja bak seorang yang sedang jatuh cinta.
“Dis, mau nasi goreng gak? Gue lagi beli tuh.”
Namun Adisa tak menjawabnya, ia malah makin sibuk dengan laptop dan urusan senyam senyum yang tak ada habisnya itu. Adisa sedang melihat video tarian sunda, kemudian sedikit-sedikit ia mempraktekannnya, gerak tangan, reka pinggul, ya seperti orang yang belajar menari sunda.
****
Ternyata di belahan bumi lainnya pun laptop Niko juga sedang online, namun bedanya laptop Niko sedang dibajak sama Desta. “Wessss Niko udah mulai temenan ama neng geulis ni ye, friend request, Adisa Annisa Gilang.”
“Ehhhh, ngebajak yeh, minggir-minggir, enyah lo dari kamar gue.”Niko menghampiri Desta dan menyuruhnya pergi, dan Niko kembali menguasai laptopnya. “Hmmmm, sok basa gaul, gini deh kalo udah kena serang virus merah jambu, suka susah.” Desta meledek lagi dari pintu kamar.
“Hai Niko.”
“Ehh Adisa, cepet banget, lagi ol juga.”
“Iya kebetulan. Eh kemarin makasih ya, barang-barangnya bagus banget. Aku harus bayar berapa?”
“Gak usah, santai aja kali.” Niko pun berchatting ria dengan wajah yang antusias.
“Aduh, dicuekin deh. Balik yeh Nik.”
“Eh Des, des. Des !!!” niko mengejarnya namun Desta sudah pergi.
“Halooooo, kamu kenapa diam?”
“Eh sorry tadi temen aku pergi. Mungkin karena aku sibuk main laptop kali ya.”
“Maafin aku ya, ya udah aku off deh gimana?”
“Eh jangan, gak apa-apa kok Adisa.”
****
Walaupun sudah menjadi teman di facebook, tetap saja ritual surat menyurat antara Niko dan Adisa tak padam begitu saja. Mereka tetap aktif surat menyurat seperti biasa. Mungkin mereka pikir itu lebih romantis? *hah romantis? Jadian juga belum. Dan seperti biasanya juga, Niko selalu mengirimkan surat atau paketnya dengan bungkus warna biru.
Kali ini Adisa membaca suratnya di depan kamar, sambil menikmati angin sepoy-sepoy.
Adisa yang baru belajar seni sunda,
Aku seneng deh bisa berbagi ilmu sama kamu, aduh kok kata-katany formal banget ya hehehehe. Iya nih, bersama surat ini aku juga kirim beberapa barang lagi buat kamu, kamu udah lihat kan. Dan total semua barang itu ada 5 buah, dan 5 adalah rangkaian huruf yang indah kalau di sana ada huruf c, i, n, t, a, aku cinta kamu. Kamu mau gak jadian sama aku?”
***
Niko juga sedang membaca surat balasan dari Adisa di depan menja belajarnya, ditemani ssecangkir kopi. Sepenggal isi suratnya adalah, alum au jawab pertanyaan kamu, kalau kamu datang kesini dan langsung menyatakan itu sama aku. Aku tunggu ya.
***
Oke aku akan ke sana, aku nanti mau naik kereta aja, biar waktunya agak lama. Soalnya, aku kan butuh memupuk keberanian untuk bilang itu semua langsung ke hadapan kamu. Hehehehe. Tunggu aku ya.
Adisa pun tersenyum lalu menjatuhkan tubuhnya ke kasur. Ia tersenyum memandang langit-langit kamar.
***
Pagi-pagi Adisa udah ribet aja nyariin gunting buat buka bumbu po mie. “Aduh mana sih gunting gue, huh mana lagi. Huh pinjem Mira aja kali ya. Mir!!! Mira…” panggilnya sambil berjalan menuju kamar Mira. Saat ia hendak masuk ke kamar Mira, ia melihat Mira sedang nonton tv. “Innalillahi, kereta api tabrakan sama mobil, ya Alloh serem banget mana meninggal semua begitu, untung penumpangnya dikit tuh. Eh ada neng Adisa.” Mira tersadar ada teman di belakangnya.
“Kereta api jurusan mana tuh?”
“Itu, Bandung- Jakarta, liat aja. Hiiii tadi sensirnya gak paten, masih keliatan darah-darah gitu.”
Saat Adisa melihat tv untuk beberapa saat, Adisa menyadari kaalu yang diberitakan itu adalah kereta Api yang dinaiki oleh Niko.
“Niko????” katanya datar, badannya bergetar, dan wajahnya hanya terpaku pada satu sudut. Di sampingnya ada Mira yang meudian merangkul temannya yang sedang syok itu.
***
5 hari kemudian
“Adisa, Adisa, nih aku bawain bubur buat kamu.” Kata Mira sambil mengetok-ngetok kamar wanita berambut panjang itu.
“Iya masuk aja.” Jawabnya dari dalam kamar, lalu Mira membuka pintu itu perlahan. Terlihat di sana ada Adisa yang sedang berbalut selimut sedang terdiam sambil memegang boneka pemberian Niko.
“Makan dulu yuk, kemarin kan lo makannya cuma dikit.”
“Ini boneka pertama pemberian Niko.”
“Iya gue tahu, kalau lo gak makan gini, Niko juga gak tenang di alam sana.”
“Gue Cuma mau Niko, gue belum jawab pertanyaan dia.”
Tiba-tiba sesosok laki-laki ada di depan pintu kamar Adisa. “Pos mbak.” “Oh iya pak bentar.” Mira menerima pos itu. “Niko????” Adisa bergegas bangun dan melihat pos yang datang untuknya. namun ia kembali kecewa, “Yah warnanya coklat, berarti bukan dari Niko. Paling dari mama.”
“Ya udah nih lo buka dulu.” Kemudian Adisa membuka paket yang ada di tangannya. Ternyata isi paket itu adalah sebuah proposal dan surat.
Adisa.
Mungkin saat kamu membaca surat dan proposal yang ada di dalam paket ini, Niko sudah tidak ada. Tapi kamu jangan sedih ya, Niko mencintaimu dan Niko ingin sekali minta tolong sama kamu. Kamu baca baik-baik proposal itu dan tolong penuhi undangan yang ada di sana, untuk ke Fikom Unpad di acara pameran kebudayaan. Kamu gantikan Niko di sana ya,dan kamu jadi salah satu pengurusnya juga, ini sudah dibawakan surat pengantar. Jangan lupa pakai dress batik yang Niko pernah kasih ke kamu. Nanti kamu ke sana bersama PESOHOR, karena Fikom mengundang ukm-ukm kebudayaan yang ada di seluruh Jawa. Niko harap dengan ini kamu bisa semakin mencintai budaya di negri kita.
Salam sayang
(pengantar) Niko
***
Suasana gedung mustopo begitu ramai, pembukaan acara pameran kebudayaan sudah resmi dibuka dengan gunting pita. Keramaian orang-orang yang mengenakan pakaianbatik jawa barat, dan di tengah-tengah mereka semua ada sosok Adisa dengan batik pemberian Niko, beserta gelang yang melingkar di tangannya. Adisa terlihat cantik, tersenyum kepada setipa detail dari acara ini.
Lalu ia beranjak mundur dan berbalik untuk sesaat keluar dari gedung mustopo, ia menuruni tangga sambil berkata dalam hati, “Niko, seandainya kamu bisa datang saat itu, aku sudah menyiapkan jawaban ‘ya’ untuk pertanyaan cinta kamu. Namun karena semua itu tak mungkin terjadi, aku hanya bisa persembahkan acara yang aku hadiri ini dan pakaian yang sedang kukenakan ini, sebagai lambing cinta kita yang abadi. Selamat jalan Nik, selamat jalan dan aku akan selalu mencintai budaya ini seperti aku mengagumi kamu.”
TAMAT
(Ehhh ini Niko sama Adisanya beda yah sama yg di 2 hari berturut-turut,,, cuma kebetulan aja, nama ini lagi penak buat mood gue nulis)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar