Jumat, 02 Maret 2012

2 hari berturut-turut PART 6

Asyiiiikkkk 2 hari berturut-turut sudah sampai ke angka yang paling aku suka. ENAM

      Setelah berteriak-teriak gak jelas saat tahu kemarin Niko ternyata gak sibuk sama sekali, maka hari ini aku pun bangun kesiangan, *apa hubungannya? Ya udah kalau gak nyambung, jangan diambil hati ya kakak.
"Adisa, cepetan ke masjid Kak Hadian udah mau pulang jam 11, jadi rapatnya mau dikelarin sampe jam 11 aja."
*WHAT* kaget banget lah, orang jam setengah sepuluh masih gelemotan di kasur. Aduh panik abis, langsung buru-buru mandi dan ngojek ke kampus.
      Sesampainya di kampus, aku berlari menuju TKP rapat. Di sana sepi, hanya ada Evina dan Reni. Bahkan sang calon ketua organisasi, Lisu juga gak ada. Uhhh gimana dong kalo sepi begini apa serunya? Mana tadi kayaknya Evina sms serius banget, sampe-sampe aku langsung bawa notes yang isinya ide-ide (kreatif) untuk kemajuan organisasi ini. Usut-punya usut ternyata ini hanya pembagian tugas untuk riset ke seluruh elemen kampus, mau diapakan lembaga ini. Hmmmm ya sudah ikuti saja dulu lah ya.

      Selesai rapat, kami ke musola untuk solat dzuhur, ya soalnya masjid yang tadi mau dipake para ikhwan untuk solat jum'at. Jadilah aku, Reni dan Evina perempuan-perempuan yang keluar dari masjid *kayak judul novel. Saat kami keluar, aku melihat Addin yang sedang sibuk memamsang karpet untuk jamaah solat jum'at yang akan duduk di luar. Tak tahu kenapa, tiba-tiba aku berpikir. Apa ada aak mankom selain dia yang mau melakukan tugas ini? Dari angkatan kami yang berjumlah 170 manusia. Ya memang itu adalah campuran islam dan non islam, ada yang kuliah hari itu ada yang enggak, ada yang sakit ada yang sehat juga kan, tapi kenapa hanya Addin seorang diri? Dia terlihat tulus melakukan semua itu, seperti tanpa beban. aku jadi makin..... makin bangga punya sahabat kayak dia, *sok akrab.
      Adzan dzuhur terdengar merdu, menyerukan kami untuk segera berwudhu dan mendekatkan diri pada Alloh, memohon segala apa yang kita inginkan, kemudian Alloh berikan yang terbaik untuk kita. Termasuk teguran terbaik yang kualami hari ini. Jadi, aku, Evina dan Lisu akan rapat ulang mengenai pmbagian tugas riset yang diperintahkan oleh Kak Hadian. Sembari menunggu Lisu, aku meng-sms Niko.
"Kuliah Nik?"
"Nope."
"Di mana?"
"Nih di perpus."
      Ohhh Niko ada di kampus ini juga, pikirku demikian. Perasaan bebeapa menit yang lalu aku dan Evina ke perpuas, tapi kok Niko gak ada ya? Aku jadi pengen ke sana lagi.
"Nik, rame gak di sana? Tag-in komputer dong."
"Net nya gak nyala kak."
Tak lama kemudian Lisu datang.
"Lisu, rapatnya di perpus aja ya." kataku saat dia menghampiri kami, Evina pasti setuju deh kayaknya. 
"Eh ini cuma kita aja yang rapat? Addin gak diajak?" tanya Evina sambil ia melihat ke arah masjid. Memang ada Addin sih di sana, lagi ngobrol sama temen kelasnya Niko.
"Hmmmm emang dia mau, aduh Addin males gitu." aku pun mulai membete, ya karena aku tahu Addin itu masih suka selebor dan keliatan gak bertanggung jawab. Walaupun otaknya ada banget, lebih dari aku.
"Aku samperin Addin dulu aja kali yah." lalu Lisu pun berjalan ke dalam masjid.
"Evina, kita duluan aja yuk."
"Ohh mau duluan? Terus nanti kita tunggu Addin di sana ya."
"Iya"

di Perpus.
      Kami meletakan tas di rak, karena untuk masuk dan bereksplorasi di dalam perpus, mahasiswa dilarang membawa tasnya, kecuali barang berharga seperti hati, cinta, syukur dan pahala *gak jelas gue.
"Taruhan seratus ribu, Lisu pasti sendirian deh." candaku
"Adiuh kamu ini." 
Memang tak lama kemudian Lisu datang dan aku melihat hal itu, melihat Lisu hanya seorang diri tanpa Addin.
"Su, mana Addinnya, gak mau ikut kan dia."
"Addinnya masih gak konek kayaknya, tapi katanya dia mau nyusul kok."
      Persetan amat sama janji-janji palsunya Addin, palingan juga dia gak akan dateng. Paling bagus juga dia ketiduran di masjid, "Sok taruhan sama aku sejuta si Addin gak akan datang." 
"Adduh kamu ini masih aja." Evina berkomentar
"Hahahaha." garing lo Su.
      Masuk pintu kedua perpus, Niko sudah kelihatan, dia sedang sibuk dengan laptopnya, Maka aku tak mau mengganggu, aku hanya menggodanya dengan mengingatkan tentang pertanyaan itu, "Heh tanya-tanya, mana pertanyaannya." sambil kucolek pake buku tebal. Sakit kali yah, aduh!
"Ehhh Kak Adisa, kaget tahu kak." kagetnya, dan aku pun berlalu bersama rekan-rekan organisasi.
Kami bertiga mengambil posisi di meja diskusi, mengatur jarak juga tentunya. Kemudian rapat dipimpin oleh Lisu,tapi penjelasannya dijelaskan oleh Evina. Aku tak begitu fokus karena sambil membuka buku untuk menyelesaikan tugas kuliahku. Beberapa menit setelah Evina menjelaskan beberapa point tentang rapat sepi tadi jam 10,,,,,,,,,,,,,
"Eh itu Addin."
MATI GUE.
      Ya gue tahu sih, mana mungkin gitu mereka bakal nagih satu juta sama gue satu-satu. Tapi pas gue ngomong tentang taruhan bercandaan itu, dalam lubuk hati yang terdalam memang udah yakiiiin banget kalau mahluk menggoda ini gak akan pernah dateng.
"Evinaaa, evina Addin dateng, aduh aku seneng banget semua pemeran utama dalam novel baru aku ada di ruangan yang sama, Niko, aku, Addin. ihhhhh." andai mereka saling mengetahui dan saling mengenal lanjutku dalam hati.
Ini keajaiban banget. dan dia pun duduk di samping Lisu. Addin yang mengenakan pakaian koko itu terlihat anggun *hah. Kulitnya masih sama saat kita pertama kali bertemu, senyumnya, diamnya, ketawa kecilnya, seriusnya, blo'onnya, aduh ini kenapa malah ngomongin Addin? Aku bertanya dalam hati. Rapat pun dilanjutkan.
      Walau dilanjutkan, aku masih memikirkan. Tuhan memberiku kesempatan untuk berada di ruangan yang sama bersama orang-orang yang aku sayangi dan aku cintai, Addin jelas, Niko adik kecilku dan para sahabat organisasi. Jelas sekali di novel yang kutulis, ceritanya memang kami bertiga saling mengenal dan saling mendukung, Niko mendukung pernikahanku dengan Addin (aamiin), dan Addin juga gak pernah cemburu saat aku dekat dengan my little prince. Aduh ini lagi rapat apa lagi gimana sih aku, alhasil aku gak tahu tadi Lisu dan Evina membahasnya udah sampe mana.

Rapat selesai

      Tapi cerita ini belum selesai. Lanjut pulang dari kampus, aku bermain dengan Niko. Kami memilih-milih cafe yang mana yang tepat untuk internetan dan ngobrolin banyak hal. Lalu kami memilih salah satu cafe dekat kampus. Kini pikiranku sudah berkurang beberapa persen atas kekaguman karena satu ruangan dengan 2 orang penting itu, *ya soalnya lo semua menginspirasi, jangan ge eR dulu deh.
Hahahahahahaa!!
Pikiran ini terupdate rasa penasaranku atas pertanyaan yang tak kunjung ditanyakan oleh Niko. Apakah pertanyaan itu adalah pertanyaan yang selama ini aku tebak. Atau bahkan lebih parah?
Sebetulnya total dari ngobrol-ngobrol kita di tempat itu 4 jam sih, tapi kayaknya baru-baru jam ke 3 deh Niko pada akhirnya mengutarakan pertanyaan itu. Okeeee lama banget gak seh gue nunggu pertanyaan doang, bukan nunggu jawaban loh, nunggu pertanyaan. Hebat banget.

"Kak, itu yang super mie surprise, kan ada dedikasinya. Pas dedikasi ke aku, kok ada kata-kata (*masalah buat lo) itu buat aku apa gimana? Aku kaget kak."

ASTAGA pertanyaan macam apa ini?
Padahal memang aku memberikan pernyataan konyol itu untuk orang-orang yang misalnya menganggap kalau dedikasi untuk kamu tuh gak penting. Yaaa aku cuma gak mau, mereka pada nanya aneh-aneh kenapa ada kamu dan merasa kamu gak pantas untuk ada di urutan itu. Ahhhh ya gitu deh ribet banget kamu Nik, kirain mau nanya apa.
      Penasaran tak terobati juga ternyata, Niko masih melupakan satu pertanyaan yang ia miliki. Katanya takut gak enaklah nanyainnya ke aku, inilah itulah , ah banyak alasan kamu dek, pusing aku. Tapi sudahlah aku tak mau memaksanya untuk menanya lagi, aku yakin apapun pertanyaan itu pasti bukanlah pertanyaan yang akan mengganggu hubungan adik kakak yang unyu-unyu ini *hah.
      salah satu konten obrolan kami adalah edit meng edit, edit apa? Ada deh, yang jelas dalam pengeditan itu aku baru menyadari sesuatu, di programnya Niko aku melihat ada gambar UFO.
"Kamu suka Ufo? Alien? sebagainya?"
"Iya kak, emang kenapa? Suka banget malah."
ADUH!
      Panik, sumpah lah ya langsung panik gue, Panik beneran!! Kan ceritanya mau bikin My Little Prince PART 2, an alien. Gitu judulnya, ceritanya? Ntar lah ya, ngapain sih keppo banget.*ehhh
Ya memang aku merencanakan ceritanya ada aliennya gitu, tapi kalau tau Nikonya suka banget ama begituan dan intensitas kesukaan dia lebih tinggi, bisa-bisa novel gue diecengin ama dia. Ya takut aja dia bilang "Aahahahahhaha Alien mah gak kayak gene kali kak." kan sakit jantung gue digituin ama adek sendiri.

Ya mau bagaimana pun, ini karyaku, Adisa.
Stepenie Meyer aja bisa bikin vampire yang punya rumah mewah dan mobil sport kok, kenapa enggak Adisa bisa bikin Alien yang. . . . . . . . . . . . . . . .

-TERIMA KASIH CINTA-

2 komentar:

  1. yeeey part 6, pertamax nih
    kayanya bakalan ampe panjang ni cerita

    BalasHapus
    Balasan
    1. tergantung script writer asal (Alloh SWT)
      mksdnya pertamax opo dek ?

      Hapus