Awalnya aku kira itu hanya sebuah film pertualangan biasa. Film itu berjudul “Bridge to Terabithia”. Aku dapat rekomendasi filmnya dari Niko, ya dari siapa lagi kalau bukan dari anak itu. Sebenarnya sudah lama aku mendapatkan film itu, hanya saja karena kesalahan teknis aku belum bisa menontonnya. Selain kesalahan teknis, sebetulnya masih banyak faktor lain yang membuatku lama menyimpan film tapi tak menontonnya. Hingga pada suatu hari, aku sudah selesai menonton dan menangis kemudian sadar, sadar akan banyaknya kesamaan di film dengan kehidupan nyata maupun kehidupan tulisan yang kubangun.
Aku suka Josh Huchterson dan Niko suka banget sama Anna Sophia Robb. Awalny juga gak nyangka kalau film ini dibintangi mereka berdua, ya menurutku sesuatu banget aja, kan serasa main berdua beneran *apasih. Waktu awal nonton iseng aja, merepresentasikan bahwa Jess (Josh Huchtersin) itu aku dan Leslie (Anna Sophia Robb) itu adalah Niko. Walaupun, di dalam film Jess adalah laki-laki dan Leslie adalah perempuan, ya habis yang ngefans sama Anna kan Niko bukan aku, begitu juga sebaliknya. Kukira itu cuma sebatas lelucon dalam diri saja, tapi ternyata saat durasi film makin melaju, aku malah semakin yakin kalau anggapanku di awal adalah benar. Kenapa benar?
Memang tak semua apa yang ada pada Leslie mirip dengan Niko dan apa yang ada pada Jess mirip denganku. Tapi aku hanya mengambil sedikit dari apa yang mereka lakukan. Sepintas yang paling aku ingat adalah, Leslie jauh lebih luas memandang sebuah kehidupan sama yang kuanggap dengan Niko. Tidak mempunyai tv adalah suatu hal yang aneh? Tidak bagi Leslie dan ia “pede” dengan keadaannya yang demikian (sebenernya sih untuk yang satu ini lebih mirip kelakuannya Addin) intinya aku melihat dari sisi cara berpikir mereka, sama. Kemudian Leslie yang mengalahkan Jess dalam lomba lari, ya aku pasti kalah kalau lari sama Niko. Karangan Leslie juga bagus, sampai diminta membacakan di depan kelas dan aku rasa Niko juga demikian. Jess memiliki seorang adik perempuan, dan aku memiliki seorang adik laki-laki, ya menurutku sama, anggapanku bahwa adiknya yang di film itu seperti adik laki-lakiku di rumah. (maaf ya pembaca di sini banyak pergantian gender). Jess pernah berlaku kasar pada adiknya, begitu juga denganku, aku juga kadang kesal kalau adik terlalu ikut campur. Ayah juga terlihat lebih sayang dengan adiknya Jess, ya aku pun demikian. Leslie selalu berani untuk memulai sesuatu, seperti memulai untuk menyebrang sungai menggunakan tali, ya begitu seterusnya Leslie untuk Niko dan Jess untukku. Mengenai hubungan yang mereka jalani, seperti sahabat antara laki-laki dan perempuan, seperti Niko dan Adisa. Ketika Leslie meninggal, Jess menangis dan murung, aku pun demikian seandainya Niko pergi ya adakalanya saat-saat di mana aku akan menangis dan murung. Tapi posisi Leslie digantikan oleh adiknya Jess dalam Terabithia, ini yang membuatku sadar, selama ini kadang aku suka beranggapan bahwa Niko seperti adikku, atau Jess yang begitu ingin hanya dengan Leslie, hingga dia mengatakan “ini tempat kami, hanya kami.” Kemudian mendorong adiknya, mungkin aku juga memiliki sifat itu. Namun kembali lagi, aku punya adik yang betulan, dan Jess juga. Kenapa tak bisa menerima adik kami? Senakal-nakal mereka, tetapi itu tetap yang terdekat untuk kita. Kadang aku berpikir ingin memiliki adik yang lebih baik, maka dari itu aku mencoba mengadopsi segala nilai positif dari Niko di tengah kemiripannya dengan adikku, maka jadilah tittle “my little brother” or “my little prince” berangkatlah inspirasi dari sana.
Menangis saat scene Jess memberi mahkota kepada adiknya, dan saat Jess juga menjadi raja. Itu sunggu menyentil hatiku, jika hati disentil maka air mata bisa jatuh dari pangkuan. Seharusnya aku bisa memperbaiki diri lebih baik lagi J
Mungkin aku bisa dibilang dibilang sok tahu, atau apapun karena membuat kemiripan-kemiripan ini. Tapi sebagai sama-sama mahasiswa komunikasi, seharusnya Niko tahu kenapa aku bisa seperti ini dan seharusnya Niko memaafkan aku atas tulisan ini. Pikiran manusia atas apa yang ia lihat lalu ia pikirkan untuk menjadikan sesuatu, atau contohnya pikiranku yang speerti ini kemudian menonton sebuah film dan ingin membuat sebuah tulisan tentu akan berkaca kepada for dan foe yang ada. Experience-nya saat hari-hariku bersama Niko, reference-nya aku pernah membuat cerbung 2 hari berturut-turut, MLP PART 1, MLP PART 2, dan Uncomfotable. Maka lahirlah tulisan ini.
Terimakasih Niko, kamu begitu menginspirasi. Dan maafkan aku sekali lagi karena kamu semakin menginspirasi. Aku hanya ingin menulis dan menulis lagi.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar