Bunga!!!!!!!! Suara itu seperti memanggilku dari belakang. Lalu aku menoleh untuk tahu dari mana asal suara itu. “Bungaaaa!!!!” ternyata itu adalah April yang berlalri menghampiriku. Ada apa ya dia lari-lari begitu? “Bunga, ihhh lo gue panggil-panggil bukannya berenti malah diem aja. Nih hape lo ketinggalan di ruang meeting.” Katanya sambil memberikan hp itu padaku. “Oh hehhehe makasih ya Pril, gue kira tadi apaan.” Jawabku santai.
“Ehhh kenapa? Sini hape gue.”
“Lo lagi deket sama Pak Andika ya?” tebak April dengan mata yang berkerlingan.
“Ehh apaan sih, lo pasti baca-baca sms nih ya.” Tebakku.
“Ya gak sengaja kebaca, Pak Andika sms kamu tuh katanya mau rapat berdua.”
“Gak mungkin lah Pril. Masa Pak Andika ngajak aku rapat berdua, mana mana sini aku baca.”
“Cieee tukan kepo banget. Hihihihiiii, gak salah-salah amat kali kalo lo jadian sama bos. Lo kan bakal jadi putri yang kaya raya, ntar sering-sering traktir gue yaaa.”
“Lo suka ngaco nih. Sini gak hape gue.” Aku mulai marah gara-gara sikap April yang terlalu mau tahu urusan pribadi gue dan Pak Andika.
“hihihiiii dasar gitu aja marah, gue dukung lo kok jadian sama Pak Andika.”
“Tutup ya mulut lo, Pak Andika tuh bos kita. Sini!!!” kataku sambil merebut hape dari tangan April.
***
Beginilah hari-hari gue di kantor. Aprilia itu sahabat baik gue, kemana-mana kami selalu bersama, divisi aja kami sama. Ya beginilah kalau sudah bersahabat sejak kuliah. Apalagi akhir-akhir ini aku lagi emang deket sama Pak Andika, bos killer di dramaturgiland production, tempat aku bekerja. Dari awal masuk dramaturgiland, aku udah serem duluan sama si bos, tapi mau gimana lagi, kerja di sini tuh impian gue. Kerja di salah satu PH yang paling besar dan jaya di Jakarta. Tapi lama-kelamaan, gue bisa adaptasi dengan gaya bos alias si Pak Andika itu. Dan pada akhirnya gue merasa nyaman aja dipimpin sama dia. Mengenai kedekatan gue dengan dia yang dibahas oleh April tadi, ya emang ada benernya sih. Jadi ceritanya gini. Eh sebelum masuk cerita, gue belum memperkenalkan diri, nama gue Khaira Bunga, gue bagian divisi script di PH ini. Ini kisah gue
****
“Khaira, khaira sini dulu kamu.....” panggil Pak Andika, doi emang sering banget manggil pake nama depan gue. “Ya pak ada apa?” tanyaku
“Mengenai sms saya semalam, kamu bisa terima kan projeknya?”
“Saya sih nganggepnya bukan projek kok pak, kemajuan dramaturgiland adalah kemajuan buat kita semua.”
“Bagus kalau begitu. Data-data yang perlu kamu pelajari sudah saya kirim ke email kamu. Kamu segera baca dan analisis ya, mana yang cocok untuk PH kita nanti kamu bisa adopsi, mana yang gak cocok abaikan aja.” Ujar Pak Andika, seperti biasa kalau dia udah ngomong memberi penejlasan, pasti keliatan cool.
“Iya Pak beres, itu program kerja Phnya boleh saya edit kan?”
“Boleh, boleh banget Khaira, saya tunggu besok ya di rapat.”
Hatiku begitu berbunga-bunga karena mempunyai kesempatan ini, kesempatan menjadi tim inti perumus proker baru di dramaturgiland. Bayangin aja ini PH besar dan aku sudah lama punya ide-ide untuk ngembangin PH ini, ide-ide aku akan segera diketahui oleh Pak Andika, sang bos. Dan akan sangat mudah untuk ide-ide aku itu menjadi kenyataan. Aku jadi gak sabar buat pulang ke rumah untuk segera mengedit proker PH ini sesuai dengan ilham-ilham yang aku dapatkan selama bekerja di sini. Aku yakin dramaturgiland akan semakin maju dengan inovasi yang aku punya, dan Pak Andika pasti bangga sama aku.
“Dooorrr kenapa lo senyam senyum, pasti habis diajakin makan malam sama Pak Andika.” April mengejutkan.
“Yeee elu pikirannya ngedate mulu, ada deeh Pak Andika tuh spesial lagi buat gue sekarang hahahaha.” Aku balas meledek April
“oh gitu jadi lo gak bagi-bagi sekarang?”
“Ehh tunggu dulu, jangan marah dulu napa sih. Yuk sambil jalan gue ceritain.”
Maka aku dan April pun berjalan menyusuiri lorong kantor, yang agak sepi, agar kita berdua bisa mengobrol leluasa.
“Lo tau gak sih, gue terpilih jadi tim inti penyusun proker dramaturgioland, kan bentar lagi mau ganti kepala. Nah aku seneng banget, Pak Andika tuh milih gue sebagai salah satu perumusnya.”
“Waaaahh brati lo bisa nyampein ide-ide lo itu dong. Ya kaaan?” tebak April dengan ikut girang. Memang selama ini hanya April yang tahu kalau aku memendam banyak inovasi untuk PH ini, namun aku masih belum berani mengungkapkannya, tapi sekarang saatnya untuk mengungkapkan.
“Iya April aku akan bisa nuangin semua ide-ide aku di proker editan aku, aku seneng banget, kamu doain ya semoga aku lancar dalam mengerjakan proker itu.” Lalu kami pun berpelukan layaknya seorang sahabat. Jujur hatiku saat ini sangat senang, tak bisa dilukiskan oleh apapun, rasanya hanya bisa dituliskan oleh proker editan yang akan aku buat nanti malam.
***
Malam ini aku berpacaran dengan banyak buku dan laptop tentunya. Semua itu untuk mengedit proker versi aku, versi Khaira Bunga. “Ckckckckck, ini buku-buku kita jaman kuliah dulu kan? Perencanaan komunikasi, komunikasi organisasi, aduh banyak banget apa lagi inih? Mtv? Ya ampun ini apa sih kok berantakan gini di meja lo?” tanya April.
“April, ini tuh buku penunjang buat aku, aku kan mau bikin proker, aku rasa nih ya, buku-buku kuliah kita dulu berguna banget diterapin buat proker dramaturgiland ke depan, biar alur komunikasinya tuh jelas ya pokoknya banyak deh. “ lalu aku lanjut mengetik sementara April nyerocos.
“Ya ampuuun, seniat ini lah lo bikin proker?” tanya April santai.
“April, semua itu aku lakuin emang pake dasar pertimbangan ilmu kita jaman kuliah dulu. Ya menurut aku masih layak kok.”
“hmm yayayaaaa.” Lalu aku aku kembali melanjutkan aktifitas mengetikku. Tak lama kemudian
KRINGGGGG
“Tuh sms, pasti dari Pak Andika.”
“Ihhh apaan sih kamu.” Aku pun malu-malu oleh godaan dari April.
“Ihh mukanya merah ihhh...”
“Apa sih orang sms biasa.” Lalu aku membacanya, ternyata memang benar Pak Andika, dia hanya mengingatkan untuk supaya aku cermat dalam memilih program kerja.
“Kok lo senyum-senyum sih nerima sms pak Andika doang?”
“Apaan sih Pril, aku kan seneng aja, jarang-jarang aku dapet sms dari dia, dan dia jadi perhatian sama aku. Mungkin gara-gara aku dapat amanah gede ini kali ya. Hahahaha.”
“Awas hati-hati jatuh cinta.” April kian menggoda.
“Ihhhh stop April, aku tuh cuma terkesima aja sama perlakuan dia akhir-akhir ini.” Aku mengelak.
“Eh iya Bung, waktu itu katanya kamu mau diikutin ajang script writer kreatif.”
“Iya sih, gak tau tuh katanya Pak Andika, aku disuruh tunggu kabar dari dia, ya aku tunggu aja, belum ada progress, yang penting proker ini dulu jadi hehehe.” Jawabku sambil menyeruput kopi.
“Ohhh gitu, yaudah. Eh gue tidur duluan ya, lo jangan begadang. Demi andika lo begadang hahahaa.”
“Beres bosss, aku ukur-ukur kok, ini juga bentar lagi beres, kan tinggal nyalin, idenya kan udah gue ketik dari kapan tahu, terus diprint, trus dihias, pake cinta.”
*krik*
Ternyata April udah tidur, cepat sekali tidurnya anak itu. Sekarang suasana malam makin sepi, aku makin konsentrasi dan semangat untuk melanjutkan tulisan ini. Bismillah ini karyaku, semoga diterima sama Pak Andika.
***
WHAT!!!! THE HELL aku kesiangan sehingga aku harus buru-buru dan berlarian menuju ruang meeting. Hari ini adalah rapat merumusan proker. Sambil menenteng proker yang sudah dalam bentuk editanku, aku berlari melewati lorong kantor, menuju ruang meeting. “Maaf Pak Andika aku telat.”
“Ya gak apa-apa masuk aja.” Ia mempersilakan.
Aku melihat di sana sudah lengkap para personil perumusan proker, mereka adalah orang-orang di posisi yang sangat tinggi dalam Ph, sesaat aku jadi minder melihatnya. Mana rapat sudah dimulai, kalau begini caranya apa ada waktuku untuk mempresentasikan semua ide-ideku? Mana di sana ada Bu Rahma, dia kan tangan kanannya Pak Andika. Pasti kata-katanya Bu Rahma lebih didengar dari pada kata-kata ku di rapat ini.
“Maaf Pak ini proker hasil editan saya, silahkan dibaca.” Sambil memberikan sebuah buku berhias ke tangan Pak Andika.
“Oh iya-iya Khaira terima kasih.” Jawabnya sambil mengambil buku itu, kemudian apa yang ia lakukan !?????? pak andika hanya meletakkan proker buatanku itu di atas bangku, yang jelas takkan terlihat oleh anggota rapat, sesaat setelah ia meletakkannya di atas bangku kosong di sampingnya, ia langsung melanjutkan rapat yang sedari tadi telah berjalan. Mungkin Pak Andika tidak mau buru-buru membuka hasil karyaku, menit demi menit jam demi jam aku tunggu kapan pak andika membuka hasil karyaku. Tetapi itu tak kunjung datang, ia hanya menejlaskan bagaimana proker ia edit dengan frame tanpa membaca referensi dari PH lain yang kemarin ia rekomendasikan untuk aku. Ini tak adil, aku sangat sedih melihat keadaan ini, aku kecewa dengan pak Andika. Kukira aku akan melihat apakah sejauh ini inovasi dan pemikiranku bisa diterapkan di sini atau tidak, tapi apa. Tak sedikitpun pak andika membuka buku yang aku kasih.
“Kamu kenapa mukanya begitu khaira?” tanya Pak Andika
“Aku kebelet mau ke belakang pak.”
“Oh ya silahkan.” Aku terpaksa berbohong, karena aku harus keluar dari ruangan ini untuk menumpahkan segala kesedihanku. Aku berlari ke kamar mandi, dan aku terdiam di sana. Terdiam di depan kaca toilet, aku menatap diriku ini. Menatap seorang Khaira Bunga yang begitu bodoh, mau saja termakan omongan seorang Andika yang begitu perhatian, namun hasilnya, tak sedikitpun ia membuka apalagi mempertimbangkan apa yang susah-susah aku buat semalaman. Pak Andika hari ini telah sukses menghancurkanku berkeping-keping, aku terlihat bodoh di sana, aku memberikan semua yang ada dalam pikiranku tapi sama saja nilainya dengan orang yang tak berpikir sama sekali. Aku benci Pak Andika, aku menyesal sudah bisa memaafkan segala kegalakan masa pemerintahannya selama aku bekerja di sini, aku menyesal telah terlena dan mengikuti semua anjurannya dengan begitu apik dan hampir sempurna. Ya sempurna bagiku karena aku mengerjakannya dengan sepenuh hati. Bukannya aku ingin pamrih, tetapi aku butub dihargai, bukan hanya disuruh lalu seakan mereka lupa sudah menyuruh apa sama aku. Aku terlelap dengan semua kebodohan ini.
****
Hari-hari selanjutnya kujalani dengan gamang. Setiap aku bertemu Pak Andika, aku selalu memasang muka jutek atau muka pas-pasan seorang pegawai, aku tak pernah lagi menebar senyum kepadanya. Aku hanya ingin ia sadar kalau ia sedang bersalah, namun ia tak sadar juga, ia maalah menganggapku sedang sakit dan menyuruhku berisitirahat. Aku sungguh tak bisa lagi menerima perhatiannya itu. Diri ini sudah terlanjur kecewa dan sangat kecewa. Aku tak tahu lagi harus melakukan apa untuk membersihkan nama Andika Coki di mata batin aku.
“Khaira.....” tegur Pak Andika.
“Bapak....”
“Ke ruang rapat sekarang ya. Ada rapat mendadak.” Perintahnya
“baik pak,” dan aku hanya bisa manut kepada dia karena dia bos aku. Lalu aku pun berjalan menuju ruang rapat.
Sesampainya di sana baru ada Mbak Nur dan Mbak Andini. “Mbak Nur, Mbak Andini juga ikutan rapat mendadak sama Pak Andika?” tanyaku
“Iya nih, kamu juga toh Bung?” jawab Mbak Andini dan balik menanya.
“Iya nih mbak, kira-kira rapat apa yah kok mendadak banget sih, saya gak nyiapin apa-apa loh.” Jawabku basa-basi. Tak lama kemudian Pak Andika datang. Dia tidak langsung memulai rapat tetapi malah menyamperi Mbak Nur. Aku merasa dicuekin di sini, belum lagi Mbak Andini ikutan ngobrol bareng mereka. Dari pada dibilang suka ikut campur, maka aku lebih baik diam. Tapi walaupun diam kupingku tetap bisa mendengar. Bukan maksud untuk menguping, tapi samar-samar kudengar bahwa Pak Andika membicarakan tentang ajang script writer kreatif. Hah ajang script writer kreatif????
Lalu aku semakin semangat mendengarnya, tetapi lambat laun semangatku memudar. Aku kembali dibuat sedih sangat sedih rasanya. Aku ingat sekali, dulu saat ia menempel iklan tentang ajang script writer kreatif, tak ada satupun yang meresponnya lalu karena aku merasa tertarik aku menanyakan hal itu padanya. Awalnya aku hanya iseng, tapi lama kelamaan, aku jadi menaruh harapan, dan Pak Andika mengatakan bakal mengurusi semuanya untuk aku. Tapi apa sekarang? Di depan mataku ia calonkan peserta lain, tanpa mengingatku sedikitpun. Mungkin aku ini masih tergolong penulis kacangan dibanding mbak Nur atau mbak Andini. Tapi setidaknya aku butuh penejlasan dari senua ini.
“Ya pokoknya semangat ya mbak nur, siap kan mbak ya???”
“Ya insya Alloh hehehe.” Dengan wajah sumringah.
Sakit rasanya melihat semua ini, sakit sekali. 2 kali aku dikecewakan oleh Pak Andika. Semakin membuat aku sadar, mau dipaksakan kayak apaa juga, aku emmang taka kan pernah bisa bekerja sama dengan dia. Mau kubuat citra sebaik apapun juga dia di mataku, tetap saja dia takkan pernah berubah. Rasanya butuh hati yang sangat kuat untuk menghadapi kekecewaan bertubi-tubi seperti ini.
“Khaira, khaira gak lagi ada masalah kan??” suara itu mengagetkan lamunanku.
“Ehh pak andika, enggak kok, lagi pula kalau saya ada masalah kenapa?” aku balik bertanya seakan menantangnya, tapi dia hanya diam.
“Kita ada projek baru ni bung. Nanti kamu bagian tanggung jawab, nulis script puisi, bikin puisi dlu aja deh. Gimana-gimananya kita bahasa setelah makan siang ya.”
Ya Alloh projek baru bersama Pak Andika. Meski baru 2 kali, rasanya aku sudah capek dikecewakan olehnya. Namun aku harus bertahan, aku mencintai dramaturgiland dan aku ingin maju bersama perusahaan ini. Aku hanya ingin pak andika berubah, walau terasa adil untuk yang lain, tapi aku juga manusia yang butuh keadilan.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar