Aku duduk di sini di dekat mereka semua yang wajahnya masih polos, aku bahagia di sini berbagi kasih dengan mereka, mereka anak-anak yang tergabung dalam D3 (Dunia Dongeng Dramaturgiland). D3 adalah program bentukan dari Dramaturgiland Production House, pembentuknya adalah Pak Andhika, Bu Natasha dan Pak Syarief. Hmmm kalo untuk Bu Natasha dan Pak Syarief ya aku gak begitu kenal tapi Pak Andhikanya ini loh, hmmmmm.
“Ayo sekarang pertanyaan kelima yaa, kalian tahu semua kan dengan nama Muhammad SAW?”
“Tauuuuu” anak-anak itu pun menjawab serentak.
“Aku, kak.”
“Aku tahu kak.”
Begitulah kehebohan dan keceriaan mereka saat aku datang untuk membawakan kuis-kuissan. Rasanya bahagia sekali bisa main-main sama mereka. “Kak Khaira, makanannya mana?” tanya salah satu dari mereka. “Adaa sayang bentar ya, masnya lagi di jalan mau nganter kesini.” Lalu aku pun menjawab. “Horeeee” dan mereka kembali bersorai.
Lalu tak lama kemudian tukang makanan pun datang, “Naaah kalian musti baris yang rapi, biar kakak bagiin satu-satu, jangan rebutan yaa.” Melihat senyum mereka,bersenang-senang dengan mereka, inilah yang sebenarnya aku harapkan, tapi tidak juga dengan cara yang seperti ini.
“TIIIINNN”
“Hahhhh????” aku pun kaget.
“Kak, kak, kak Dhika udah dateng,”
“Kak ayo kak sembunyi.”
“eummm kakak pulang aja ya, oh ya jangan lupa kalau ditanya kak dhika kalian harus jawab apa.” Aku panik.
“jawabnya ini semua dari tetangga.”
“tetangga mana?” aku mengetes mereka.
“Gak tahuu, kita lupa nanya.”
“Sippp pinter. Kakak pergi dulu yaaa.” Lalu aku berlari lewat pin belakang dan bersegera mungkin meninggalkan komplek D3.
***
Aku berlari padahal nafasku rasanya tinggal setengah dan “Auuuu, maaf-maaf.” Aku menabrak seseorang di jalan dan itu ternyata adalah “April???”
“Bunga?”
“Pril, lo ngapain di sini?”
“Lewat doang gue gak ngapa-ngapain. Lo pasti abis....”
“Ikut gue, jangan ngomong di sini.” Dan kami pun memutuskan untuk pergi ke sebuah cafe terdekat.
***
“Bunga, bunga, lo tuh ya.”
“Lo tuh ya apa?” jawabku belaga pilon.
“ini ni bener-bener gak baik banget bung.” Jawabnya mulai menyerius.
“Gak baik apanya sih? gue baik-baik aja.”
“Pertama, lo ajarin mereka buat bohong, kedua ini tuh kelakuan ilegal, ngerti? Nanti lo bisa masuk penjara.”
“Mereka mau menjarain gue? Berarti yang menjarain gue pak Andhika dong?” tanyaku manantang.
“ya iyalah dia kan pemiliknya, pastia dia yang akan menjarain lo suatu saat nanti.” April pun semakin kesal.
“Emang aamiin, kayaknya emang lo pengen banget gue dipenjara.” Aku pun langsung beranjak ingin pergi dari tempat itu.
“Eh hei, gue bercanda.” April mencegah dengan menarik tanganku. Lalu ia melanjutkan, “gue Cuma gak mau temen gue kayak begini. Lo bilang aja sih sama dia kalau lo......” tak sempat melanjutkan kalimat, aku langsung menyanggah, “capek bgt rasanya di-PHp-in pak andhika, apalagi kalo udah menyangkut DDD (Dunia Dongeng Dramaturgiland)" ujar Khaira dengan suntuk.
“Ya mungkin Pak Andhika tu paham lo sekarang lagi sesibuk apa. Lo lagi ngurusin penggarapan film baru, lo juga ikutan komunitas writer di bandung, belum lo punya masalah ini masalah itu. Kayaknya pak andhika tuh orang yang paling paham deh sama lo.”
“Lo ngebela dia? Lo suka sama dia? Lo mau putus dari bang dugi?’’ omonganku pun ngelantur, sambil menangis.
“Gua gak suka, gua Cuma mau menyadarkan elo, kalau dia tuh gak seburuk yang lo pikirin.” April makin menjadi dalam membela pak andhika, aku pun merasa semakin bingung.
“Gue inget banget dulu,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,
Dan setting pun berubah mundur ke beberapa bulan yang lalu.
“Eh Khaira, sini sini saya nyariin kamu dari tadi.” Panggil Pak Andhika saat kami bertemu di lorong. “kenapa pak?” tanyaku.
“Kamu bisa mendongeng gak?”
“Bisa, aku dulu pernah juara lomba dongeng pak, waktu SMP sih hehee, kenapa pak?”
“kamu tau D3 kan?” tanyanya.
“Tau pak, kenapa? Saya mau dipekerjakan disitu?”
“Iyaaa tenang aja, nanti saya kabarin lagi ya...”
***
“Tapi sampai sekarang dia gak pernah ngebahas-bahas tuh.” Ujarku semakin lemas.
“sekarang lo pikir deh, kalo sekarang lo direkrut kesana, apa yang bisa lo lakukan? Lo akan semakin susah untuk membagi waktu, belum sama masalah-masalah lo, lo juga curhat tentang masalah lo ke dia kan, ya dia tahu lah, dan dia gak begok, kemudian dia berpikir untuk masukin lo pa gak, ya keputusannya seperti ini.” April mencoba lagi untuk meyakinkan aku. Namun aku pun tetap terdiam dan aku tak tahu harus melakukan apa. Pergilah kasih

Tidak ada komentar:
Posting Komentar