Lupakan sejenak tentang D3, aku harus fokus dengan kehidupan yang ada, tak perlu mengharapkan yang tidak ada. Aku pun kembali ke rutinitas awal, bolak balik Jakarta-Bandung untuk kegiatan forum penulis di sana. Mungkin beberapa waktu lalu aku bercerita tentang Pak Andhika yang selalu ada menangani dan memberi nasihat atas masalah hidupku, lalu ketika aku takut saat pak andhika dekat dengan Rina, takut ia melupakan masalahku dan tak membuatku semangat lagi dan sebagainya. Ya di sini lah letak masalahku. Di forum ini.
Forum perkumpulan penulis yang berpusat di Bandung inilah yang membuatku tak nyaman, yang menuntutku harus bertahan dan lain sebagainya. Kini aku sedang termenung saja di kantor pusat forum penulis bandung ini. Aku duduk terdiam di ruanganku. Tiba-tiba aku teringat dengan segala perlakuan pak andhika, mulai dari yang sering lupa, kadang tak peduli, dan lain sebagainya. Aaah hidup ini rasanya tak pernah lepas dari persoalan dia, cukup Bunga cukup !.
Bangun dari ketertiduran siang ini, aku baru sadar kalau hari ini kita mau bikin film, dan aku pun mengecek hp. Di sana dikabarkan kalau kumpul di Oke Mall untuk menuju lokasi syuting jam 4 sore, tetapi sekarang sudah jam 5. Ini adalah syuting hari pertama dan aku pun bingung, aku tak tahu tempat dan aku sedang tak bawa kendaraan. Aku keluar dari ruangan dan ternyata di sana ada Arif. “Arif !!!!!” panggilku dengan berteriak.
“Yaaa?”
“Arif, lo pasti mau ke tempat syuting kan?”
“Iya, lo gak kesana?”
“Iya ini mau kesana, nebeng dong.” Namun setelah aku meminta, kulihat Rio muncul dari balik pintu. Baiklah Arif sudah berboncengan dengan Rio dan aku tak mungkin bisa ikut mereka.
“Lo kalo gak bisa dateng ya gak usah dateng, gak apa-apa kali.”
“gue bisa kok dateng.” Ujarku dalam artian aku bisa datang karna aku punya waktu.
“Naik apa?”
“Gak tau, gue juga gak tau tempatnya.” Jawabku pasrah.
“Ya yaudah makanya.” Arif pun menjawab seadanya. Kemudian mereka pun berlalu begitu saja. Langkah berikutnya kutelepon sutradara yang menggarap fil kali itu.
“Halo Min, Mino tempat syutingnya dimana sih? Aku masih di kantor nih.”
“Aduuhh lo masih di kantor lagi, nanti deh gue hubungin lagi yah.” Lalu telponnya pun ditutup. Namun aku masih penasaran, maka aku telpon lagi si Mino.
“Min, aku gimana nih jadinya?”
“Udah lo stay di kantor aja dulu, nanti lo gue kontak lagi.” Tuut tuuut tuuutttt
***
5 jam kemudian
Aku menunggu di kantor tak ada kabar, baiklah aku pulang saja ke jakarta lagi.
Di jalan sebenarnya aku galau, galau segalau-galaunya. Aku pun berniat untuk meng-sms pak andhika, menceritakan semuanya, semuanyaaa. Dan aku pun bercerita. Sekitar beberapa lembar sms. Namun pak andhika tak membalas smsku, yasudah tak apa, aku juga tak begitu berharap ia membalas smsku, aku hanya ingin menceritakan semuanya kepada orang lain, tak peduli ada feedback atau tidak, itu sudah cukup membuatku tenang.
“Aslm pak andhika, saya .................” capek dan sakit hatiku kalau harus mengulang kembali apa yang saya ceritakan, itu sama saja perlakuan buruk dari teman-teman saya yang menyakitkan hati dan saya mengenangnya kembali.
Ketika aku sudah sms panjang lebar, seakan omongan yang didengarkan malaikat lalu disampaikan ka Tuhan, dan memang pak Andhika pun tak membalas satu pun smsku itu. Namun kembali lagi ke janjiku, ya tidak dibalas pun tak apa. Sesampainya aku di rumah, aku pun terasa sangat lelah. Kemudian aku membuka laptop dan mencoba menghibur diri dengan online. Di sana terlihat pak Andhika sedang on, oke tak ada salahnya menyapa, “Hai pak andika.” Tak lama kemudian ia membalas pesan chatku, “Eh Khaira, maaf ya tadi aku gak bales sms kamu, hp saya rusak, itu tadi banyak yang kepotong.”
Alhasil aku pun menceritakan ulang padanya. Aku menceritakannya terputus-putus, dan di selam-selanya pak andika pasti membalasnya dengan kata-kata pendorong semangat dan pembangkit motivasi. Dan begitu pun selanjutnya. Lalu aku pun mengingat sesuatu jauh ke belakang. Rasanya seakan kuulang waktu, dan aku tak pernah menaruh benci atau setitik kesal pun pada pak andika.Lihatlah ia yang masih mau kurengekki dengansegudang masalahku yang membuat hatiku sakit. Lihatlah ia yang masih mau memberiku saran-saran, lihatlah ia yang dengan sabar memberiku semangat, padahal aku sendiri kadang bangkit sedikit lalu tak lama kemudian bisa jatuh lagi.
“kalau sudah ada usaha itu bukan salah kamu.”
” terkadang kita harus berkorban untuk bisa beradaptasi dengan orang lain.”
“orang yang paling kuat adalah orang yang mampu beradaptasi dengan situasi apapun.”
Dan itu adalah potongan-potongan nasihat yang ia berikan di sela-sela ceritaku dan rengekan yang memuncak akan sebuah masalah. Ketika kulihat ke belakang, aku pun bertanya apa yang telah aku lakukan selama ini?
aku mengingat teman-temanku, bahkan mereka sudah kuanggap teman-teman baikku di forum writer bandung, mereka justru meninggalkanku dan tak mau membantuku untuk sampai lokasi syuting. Saat mereka baik, serasa itu tak akan bertahan lama, semua akan kembali ke tabiatnya. Begitu juga dengan Pak Andika yang memang dasarnya orang baik. Kadang aku berpikir, kesalku, benciku atas sikapnya yang pelupa, cuek, itu hanya bagian kecil dari sifat seseorang yang harus aku pahami.
Andai aku bisa mengulang waktu dan memperbaiki semua
***
Saat proker dramaturgiland yang seakan tak dilihat sama sekali.
Saat aku disasarkan ke pos perijinan balai sarbini yang salah.
Saat pak andhika tak memfollow up ku juga dalam acara ajang script writer creative
Saat D3 pun tak dibahas lagi olehnya
Saat saat dan saat semua itu tumbuhlah sebuah penyakit hati...
Namun seharusnya aku mengingat saat.........................
Saat pak andika membelaku di depan pak faiz tentang kebijakan kepala writer di dramaturgiland. Saat itu pak Faiz punya kebijakan, bahwa kepala writer tak memiliki anggota tetap, yang seharusnya menjadi anggota, langsung disebar saja di bagian produksi film masing-masing. “Kalau mereka tak punya rasa memiliki, mereka enggan untuk bergerak, yang memiliki saja kadang cuek pak.” Begitu yang kuingat saat membicarakan dengan pak faiz.
Kemudian saat aku bercerita ia selalu memberikan saran-saran, hingga aku pun menempelnya di kamar, biar aku ingat, harus sabar, harus dewasa, secara sudah 26 tahun. Huhhhh aku menghela nafas dengan kebodohan ini.
Tak seharusnya semua itu terjadi. Satu momen yang menyakitkanku di forum penulis bandung, namun dibalik itu aku sadar, yang dipandang selalu menyakiti, sebenarnya tak pernah menyakiti.
TAMAT
Tidak ada komentar:
Posting Komentar