Aku menyudahi kegiatan chit chat dengan Pak Andika, karena sekarang waktunya solat. Aku solat di musola cafee, kemudian aku membuka handphone. Aku melihat ada 2 sms, siapa ini? Mana sms yang masuk dari hp khusus forum kepenulisan pula. Jangan-jangan ada info, maka kubaca dan aku pun terkaget.
“JANGAN LUPA YAAA SEKARANG KUMPUL DI LAB TV JAM 3”
“JADWAL KUMPUL DI LAB, KELOMPOK 1-5 JAM 2, KELOMPOK 6-10 JAM 3”
Panik, ya emmang aku langsung panik. Dan di dalam panik aku mengambil suatu hikmah, mungkin ini alasan mengapa Tuhan menemukanku di kejadian di mana Pak Faiz melupakanku, dimana Pak Faiz melupakanku untuk mengajak bertemu dengan Pak Tino. Setelah membaca sms maka aku langsung menuju parkiran dan menuju laboraturium. Aku menaiki tangga dengan setengah berlari, namun kaki ini terhenti saat ada buni panggilan masuk dari hapeku. Hah Yulia? Ada apa?
“Halo.....”
“Bunga maafin aku ya, kamu dimana sekarang? Ke Pizza Hut yuk, disuruh sama Mbak Tiana, sekalian ketemu Pak Tino, di sini ada Pak Andika juga loh.”
Kalau ini di sinetron mungkin hpku sudah terjatuh dan berguling-guling di tangga. Aku syok mendengarnya, baru saja Pak Andika chit chat sama aku tadi sebelum aku tahu harus ke lab tv, dan ternyata jika semua ini tak terjadi aku akan bisa bertemu semuanya, semuanya lengkap sekali.
“Maaf aku gak bisa, hari ini ada kumpul di lab tv, jadi aku gak bisa.”
Otot-otot di wajahku terasa begitu lemas, dan aku pun mulai gontai menaiki tangga menuju lab. Apa yang terjadi, setelah prakiraan positif ternyata aku harus diuji dengan hal seperti ini. Namun tetap saja, otak jahat masih bisa merasuki pikiranku, sampai detik ini Pak Faiz tak ada menghubungiku, mungkin memang aku tak diharapkan hadir di sana. Tapi mengenai Pak Andika? Singguh aku bingung dengan semua ini. Sesampainya di lab kulihat banyak teman-teman sekolahku di sana, sekolah tv. Aku hanya diam tak mampu bicara dengan mereka karena masih syok. Apa ini? Kehidupan macam apa ini? I’ve lost my freedom, my love, my my my all of them. Aku masih berjalan dengan gontainya di sana. Menatap ratusan manusia yang memiliki kepentingan sama denganku, menunggu jadwal dan pengumuman di sekolah tv. Sebagian dari mereka ada yang sama seperti ku, sudah bekerja dan ada yang niat ingin sekolah saja. Aku pusing, oh tidak ini bukan pusing, ini adalah rasa miris. Dadaku sesak, ini sungguhan sesak bukan hanya sugesti, dadaku sesak dan aku hanya bisa diam melihat semua ini. Kenapa sesedih ini hari ini?
Beberapa bisikan selalu datang ke telinga kanan dan kiriku, “apakah kamu ingin bermain dengan mereka? Kau rindu masa-masa bermain dengan mereka? Kau bukan anak kecil lagi, kau harus kuat.” “Apakah kau ingin berbagi cerita dengan Pak Andika, bagaimana kalau di sana tak ada Pak Andika, apakah kau masih semiris ini, apakah kau masih segontai ini?” Triiiiinnnnnnnnnnnn. Bunyi sms itu memecah suara-suara yang masuk ke telingaku.
AKU TUNGGU CERITAMU TENTANG HARI INI.
Seakan Pak Andika sangat tahu apa yang aku alami hari ini, apa yang aku alami sore ini. Seakan ia tahu, bahwa akan ada cerita lanjutan tentang kejadian hari ini, tentang sebbuah cerita kekecewaan dan cerita kerinduan, tentang cerita lanjutan yang tadi awalnya sudah kukirim kepadamu.
APA BAPAK SUDAH BACA CERITA YANG TADI?
SUDAH HEHEHE jawabnya dengan santai, tulisan yang santai.
Maka percakapan kami pun berlanjut di sms, terus terang saja ini cukup mengobati sekaligus tambah melukai. Aku benci sekolah tv ini, aku benci sekolah tv yang wajib kujalani ini, aku ingin bebas, aku ingin seperti karyawan dramarurgiland lainnya, yang tak perlu sekolah lagi, aku benci !!!!!!!
SABAR
Itulah kata-kata langganan keluar dari dalam diri Pak Andika. Sabar. Samapai kapan aku harus sabar, kadang aku bertanya demikian, namun aku pun bisa menjawab, ya di Al qur’an saja begitu banyak kata sabar dan anjuran untuk sabar, hmmm Pak Andika gak salah juga sih. Walaupun begitu tetap saja aku masih syok dengan semua ini. Kemudian pimpinan dari sekolah tv pun menjelaskan apa-apa saja yang harus kami siapkan dalam menghadapai ujian akhir, ya ujian akhir dan aku harap aku tak akan pernah menyentuh sekolah tv ini lagi. Tapi rasa-rasanya aku akan lulus dnegan nilai yang buruk, ini seperti mimpi buruk untuk memilih sekolah sambil berkiprah di dramaturgiland.
NIKAMATI SAJA APA YANG KAMU DAPAT
Ya paling tidak, aku selalu didukung langsung oleh Pak Andika. Pak Andika yang cerewet, aku ingin bapak kembali ke kantor secepatnya dan kita akan bekerja lagi di dalam keramaian J
Tidak ada komentar:
Posting Komentar