Selasa, 12 Juni 2012

Kerinduan

            Malam ini April menginap di rumahku, seperti biasa ia pasti menggerecoki apa-apa saja yang ada di kamarku. Singkat cerita aku mendengar teriakan dari luar rumah, siapa itu? Seperti suara Nida, lalu aku pun buru-buru keluar rumah dan menghampiri Nida. “Nid ada apa?” aku pun bertanya dengan nada cemas.
“Ada gempa mbak. Tadi mbak terasa gak?”
“Hah gempa? Mbak gak terasa apa-apa Nid. Aduh kok jadi takut ya.”
“Bung!!!” panggil April yang menyusul kami di bawah.
“Apaan sih Pril?” aku bertanya dengan nada yang agak jengkel.
“Nih aku baru baca di internet, tadi tuh emang ada gempa, itu tuh kita kerasa karena efek gempa di tasik.”
            Sontak dadaku serasa bergetar ada yang bergejolak di sana, Tasik? Sepertinya ada sesuatu hal di sana. Apa ya? Aku pun mencoba mengingat-ingat. “Ya ampun Mbak Yunita.” Ujar April kaget. Aku pun langsung dapat mengingat apa yang selama ini aku cari, “Pak Andika.” Aku langsung kembali ke rumah dan mencoba memberi tahu Pak Andika.”

“Woooy tunggu doong!!!” April mengikutiku.
            Sesampainya di kamar aku langsung mencari hp untuk menelepon Pak Andika.
“Kamu kasih tau Mbak Yunita, aku kasih tau Pak Andika ya.”
“Sip sip.” April menjawab singkat.
“Nah ini dia hp nya.” Tuuuuuuuuuuuuuuuuuut tuuuuuuuuuuuuuuuuut tuuuuuuuuuuuuut
“Halo.” Suara Pak Andika pun muncul dari balik telepon.
“Pak Andika halo.”
“Ya ada apa Khaira?”
“Pak saya baru dapat kabar kalo di tasik gempa ya pak, gimana keluarga bapak? Masih bisa dihubungi kan?” aku bernada panik.
“Oh ya gitu? Saya belum ngehubungin nih, oke deh saya telpon mereka dulu ya. Nanti saya hubungi kamu lagi.”
“Iya pak semoga semuanya baik-baik aja.” Kemudian aku menutup telepon, entah kenapa aku merasa begitu khawatir akan keadaan keluarga Pak Andika. Rasanya setelah perjanjian di dalam hati itu, aku merasa Pak Andika memang jadi yang cukup penting.
“Katanya Mbak Yunita, keluarga dia baik-baik aja.”
“Iya nih barusan Pak Andika juga sms aku, katanya keluarganya baik-baik saja. Syukurlah.”
****
            Pagi-pagi sekali sudah dapat panggilan harus ikut rapat dadakan dari Pak Faiz, haduuuuh Pak Faiz ini hobinya bikin rapat mendadak terus. Aku dan April pun yang masih setengah nyawapergi ke kantor. Tapi kami sudah mandi loh, “sekip sekip” gini kami tetap totalitas kalau berpenampilan.
“Pagi paaak.” Aku masuk rungan duluan.
“Pagi semuanya.” Ujar April sambil nguap.
“Kalian ini pagi-pagi bukannya semangat malah masih nguap gitu.” Tegur Pak Andika.
“Semangat kok pak. Hmmmmmm” aku menanggapi dengan ngantuk.
“Iya baik, selamat pagi semuanya.” Pak Faiz pun memulai rapat.
“Jadi begini, terkait dengan musibah yang ada di kampung halaman saudara kita, di Tasik, ya kampungnya Pak Andika juga. Saya memilih kalian-kalian ini sebagai koord dalam penggalangan dana di kantor. Nanti yang akan terjun langsung ke lapangan kita bisa minta bantuan dari Pak Andika, ya kan pak.” Lalu pak Andika pun mengangguk. Aku mendengar penjelasan selanjutnya dan aku mengerti, berarti tak lama lagi Pak Andika akan mengambil izin untuk tak masuk kantor karena kegiatan ini. Sayang sekali, di kantor harus kehilangan sosok Pak Andika yang tegas.
****
            Penggalangan dana berlangsung dengan lancar, tadi malam Pak Andika sudah berjalan menuju Tasik. Pantas saja pagi ini serasa sepi, biasanya ada yang membangkitkan semangat kami semua dengan kecerewetan lelaki itu, Andika. Ingin rasanya kubunuh kesunyian pagi ini, masa iya aku yang harusnya cerewet melihat mereka yang berleha-leha. Hmmm rasanya dapat menjadi ide yang bagus, aku akan menggantikan posisi Pak Andika.
“Ayoooo semangat dong, kerja jangan malas-malas, masa kalah sama tukang sapu.”
Itu adalah salah satu kalimat yang aku lontarkan, sambil menghampiri mereka satu per satu. Semangat pagi yang biasa Pak Andika suntikan kepada kami, kini aku telah menggantikannya. Pak Andika cepatlah kau kembali, cerewetmu itu berguna.
****
Pulang kantor aku mau mampir ke rumah Yulia.
“Yuliaaa!!!” aku pun memanggil di depan rumahnya.
“Yaaa.” Kulihat yulia dengan pakaiannya yang rapi.
“Mau kemana kamu?” aku pun menanyakan dengan heran.
“Loh bukannya kamu ikut juga? Kan mau ke rumah Pak Tino, itu loh pendiri Dramaturgiland, direktur pertama.”
            Pikiranku pun langsung melayang ke luar angkasa, luar binasa. Aku terdiam, biasanya Pak Faiz selalu mengajak 2 jajarannya, aku dan Pak Andika, ya kami berdua. Kalau untuk Pak Andika aku tau dia tak mungkin ikut karena ia masih berada di tasik, aku?
“Emang Pak Faiz gak sms kamu atau apa gitu?” tanya Yulia dengan heran.
“Enggak tuh, emang siapa aja yang ikut?” tanyaku sok santai, padahal enggak.
“Aku, Pak Faiz sama Mbak Uti.”
            Kembali pikiranku melayang luar binasa, Pak Faiz pasti ingin sekali bertemu langsung dengan Pak Tino, mereka pasti akan bertukar pikiran dalam memimpin Dramaturgiland, kemudian untuk Mbak Uti, dia kan memang humasnya Dramaturgiland ya dia emmang harus ikut, Yulia? Hrd? Oh kenapa aku tidak ya? Mungkin saja ia ingin mengambil semangat Pak Tino kemudian ditularkan ke para karyawan. Mungkin saja demikian.
“Ehhh kok diem, coba cek hape lagi, kali aja Pak Faiz sms kamu, dadakn gitu.”
“Enggak ada kok, dari tadi kan hpnya aku pegang terus.”
“Pak Faiz lupa kali ya.” Jawab Yulia santai.
            Aku memaksa hati dan pikiranku untuk memiliki sesuatu yang sejalan. Mungkin saja buruk-buruknya, Pak Tino punya pengalaman buruk dengan kepala writer pada saat itu dan kebetulan kepala writernya adalah perempuan, sama seperti tahun ini. Mungkin saja Pak Tino pernah dikecewakan, atau kepala writernya saat itu adalah orang yang nyebelin, bodoh, dan sangat kuno. Makanya ia tak mau bertemu dulu sekarang karena masih trauma, maka dari itu Pak Faiz tak mengajakku saat ini. Mungkin saja.
“Kamu gak mau nyoba hubungin Pak Faiz?”
            Aku hanya bisa menjawab dalam hati, untuk apa? Yang ada aku terkesan semakin ingin ikut campur urusan petinggi di perusahaan ini. Aku tak mau. Untuk apa? Aku tak mau. Aku pun masih terdiam, aku membayangkan andai saja di sini ada Pak Andika, pasti ia mengingatkan hatiku ini dengan cara yang keras, untuk tidak berpikir kolot macam ini. Kubayangkan ia berkata, “Sudahlah Khaira itukan masalah sepele saja, jaga galaunya, kalau dari hati saja seperti ini bagaimana Dramaturgiland bisa maju ?????” Dan aku siap-siap untuk menjawab dalam hati, hmmmm aku kan ingin tahu bagaimana bentuknya Pak Tino, kata orang-orang ia seru banget, how creative is he? Dan lain-lain.
***
            Aku mampir sebentar ke cafe, untuk sekadar meminum seteguk teh dan makan sepotong chesse cake. Lalu aku membuka laptop. Aku bertanya dalam hati kapan Pak Andika pulang? Aku membuka facebook untuk sekadar menghilangkan kejenuhan. Kemudian sekaan semua yang kupertanyakan pada langir terjawab, Pak Andika on.
“Pak Andika..............”
Tak lama kemudian ia pun menjawab.
“Ya”
Aku berniat untuk menceritakan semua yang kualami padanya, namun dari pada aku harus kena semprot, lebih baik aku menanyakan hal lain saja. Kini aku tahu, hari ini Pak Andika sudah berada di Jakarta. Dan siap untuk mengguncang Dramaturgiland dengan semangatnya. Aku berpikir untuk menuliskannya dalam sebuah cerita, seperti biasanya hmmmmm... jika dulu aku membuat beberapa cerita untuk mengevaluasi lelaki itu, kini mungkin untuk Pak Faiz sendiri. Ya semua orang butuh evaluasi, termasuk aku.

bersambung

Tidak ada komentar:

Posting Komentar