Terinspirasi dari :
Rumor – Butiran Debu
Peterpan – 2 DSD
Rara berjalan gontai menyusuri lantai atas gedung kantor. Rara berjalan dengan tatapan yang kosong, di tangannya memegang sebuah kotak berwarna hijau. Sembari ia berjalan lambat dan sesekali rambutnya berterbangan ditiup angin, air matanya pun jatuh setetes demi tetes. Namun Rara tetap berjalan di atas gedung itu, menunduk seperti tanpa harapan. Lalu ia duduk di sudut beton, kotak hijau juga masih berada di tangannya sebelum kotak itu tejatuh karena tangan Rara yang terlalu lemas. Saat ia duduk, ia menatap jauh ke atas, seakan menembus langit dan kembali mengulang ingatannya ke beberapa hari yang lalu.
***
Rara berjalan masuk ke ruangan Vovo. Vovo adalah teman baik Rara, seperti pacaran namun mereka bukan sepasang kekasih. “Vo, makan yuk. Aku masakin bakso ayam telor buat kamu, cobain deh.”
“Ihh baik banget tumben. Mana sini. Pake kuah gak ni?” tanya Vovo sambil senyam senyum.
“Pake dong kan kamu gak suka yang kering-kering, aku tuangin buat kamu ya.”
“Kamu gak makan?” tanya Vovo sambil menatap ke arah Rara
“Makan kok tenang aja, aku bawa dua porsi. Hehe. Aku ambil mangkok di pantry dulu ya.”
“Eh gak usah, aku kan ada nomor pantry, suruh anterin aja.”
“Ya udah.”
Rara dan Vovo pun duduk di sofa yang ada di ruangan Vovo. Vovo sedang membuka akun facebooknya sendiri dan Rara berkomentar tentang status-statusnya selama ini. “Vo, kamu masih aja ngomentarin buruk tentang demokrasi.” Tanya Rara santai.
“Ya demokrasinya buruk juga sih, minta dihajar emang.” Jawabnya agak menggebu-gebu.
“Ehh jangan galak-galak dong. Aku kan jadi takut.”
“Hahahha takut ya kalo aku galak.”
“Ya iyalah kan kamu jadi serem gak ganteng lagi deh.” Rara mulai merayu.
“Emang aslinya aku ganteng ya?” jawab Vovo sambil mengelus dagunya.
“Ihh kepedean, hahahaha.”
Mereka pun bercanda dan tertawa bersama. Vovo dan Rara memang sudah kenal dekat sejak mereka kuliah, kemudian mereka pun dipertemukan kembali di kantor yang sama. Hubungan mereka jadi makin dekat, namun sampai sekarang juga di antara mereka tak ada yang pernah mengungkapkan cinta satu sama lain. Mereka hanya menjalani apa adanya, selalu bersama layaknya mencinta namun tanpa ikatan apapun.
“Tanggal 28 kamu dateng kan ke konser aku?” tanya Vovo sambil memegang tangan Rara.
“Konser hahaha, kamu tu bukan konser tapi cuma ngisi acara di meetingnya Pak Direktur. Dasar kepedean.” Jawab Rara sambil senyam senyum.
“Ehhh itu konser, aku kan nyanyi 3 lagu di sana, lebih dari 1 lagu itu udah banyak.”
“Kamu tuh lucu banget klo udah nganggap kamu sama band mu itu lagi konser, kamu tuh kepedean hahahaha.”
Saat Rara tertawa pun Vovo memandanginya dengan penuh arti, senyumnya pun selalu terlukis di bibirnya saat melihat Rara yang ceria. Begitu juga dengan Rara yang selalu tertawa lepas saat berada bersama Vovo. Membiarkan segala kebahagian memenuhi hatinya saat ia bersama lelaki berambut agak coklat itu.
“Eh tu mangkoknya udah dateng.” Ujar Vovo, kemudian Rara mengambilnya.
“Makasih ya mas.”
“Aseeek makan-makan.” Vovo bersemangat.
“Eh kamu tuangin dulu yah aku mau bales sms dulu.”
“Ciyeeee sms dari siapa sih, sampe mau ngebales dulu dari pada nuang makanan. Biasanya juga kamu duluin makan dari pada orang.” Katanya agak menggerutu manja sambil menuang bakso ke mangkok.
“Iiih kamu tuh apa sih. Oh ya Vo, sorry banget ni.”
“Kenapa? Kamu tiba-tiba laper banget dan pengen makan 2 piring, jadi aku gak kebagian?” tebak Vovo ngelantur.
“Bukan itu Vovooooo” Rara mencubit tangannya.
“Au au au au.”
“Canda deh lo.” Wajah Rara pun jadi berubah.
“Ya terus sorry kenapa cantik?”
“Gue, kayaknya gak bisa ikutan makan nemenin lo deh, justru elo yang bisa makan 2 piring. Yayayaya gak apa-apa ya sekali ini aja. Anggap aja ini lo dapet rejeki nomplok. Oke?” ujar Rara sambil mengacungkan jempol kemudian ia mengambil tas dan berlalu keluar ruangan.
“Da Vooo. Makan yang kenyang ya.” Sambil ia melambaikan tangan dan tersenyum
Pas di depan pintu pun Doni sudah menunggu Rara. Doni adalah manager divisi Rara, ia tampak berdiri tegap menunggu kehadiran Rara. “Siap Ra?” “Siap Pak.” Rara juga kali ini senyumnya tampak lebih lebar dan tulus hampir mirip dengan segala keceriaan saat ia bersama Vovo. “Kamu bisa gandeng tangan saya dong.” Doni menyodorkan lengannya bak pangeran yang akan mengajak sang tuan putri.
“Kita mau seminar atau mau pergi dansa?” tanya Rara polos.
“Kalau pulang seminar kamu mau kita ke pesat dansa? Why not?” Doni menantang Rara.
“Bapak bisa dansa?” tanya Rara sambil senyum menatap Doni.
“Liat aja nanti.”
Kemudian mereka berjalan keluar kantor. Tangan Rara pun masih senantiasa terekat di lengan Doni, mereka tampak seperti sepasang kekasih padahal mereka hanyalah Bos dan bawahan saja, namun memang Rara dengan Doni juga sama-sama dekat seperti Rara ke Vovo, meskipun lebih lama umur pertemanan Rara dan Vovo. Saat mereka berjalan seperti sepasang kekasih itu pula, Vovo melihat mereka dari kejuahan tepatnya dari pintu ruangannya.
Rara baru bertemu dengan Doni di kantor tempat ia bekerja, merasa sepemikiran maka Rara mudah untuk menjadi teman baik Doni. Entah kenapa semenjak Rara berteman dengan Doni seakan menggeser posisi Vovo. Seperti contohnya tadi, Vovo dinomor duakan oleh Rara hanya karena ajakan seminar tak wajib dari Doni, dan Rara pun lebih senang dan terbuka dengan Doni.
“Bapak kenapa sih milih saya buat ikut seminar ini?”
“Ya karena kamu yang cocok, yang menurut saya sudah bisa diikutkan seminar seperti ini?” jawabnya dengan penuh wibawa.
“Ohhh,” Rara hanya mengangguk saja.
***
Hari ini Rara masuk kantor dengan mata yang terlihat ngantuk, Vovo yang melihat perubahan dalam diri Rara langsung menanyakan apa yang terjadi. “Semalem pulang jam berapa sama Pak Doni?”
“Malem Vo.”
“Mata kamu aneh, kamu pasti kurang tidur.” Vovo khawatir.
“Gak Vo, aku gak apa-apa. Udah kamu gak usah khawatir. Aku ke kantin dulu ya, belum sarapan.” Jawab Rara agak lemas.
Di kantin Rara meminum secangkir teh dan makan sepotong sandwich. Dengan mata yang masih agak ngantuk namun senyumnya masih bisa terlukis di bibir, sembari ia mengingat saat semalam berdansa dengan Doni. Ia rasakan dansa semalam adalah dansa pertama yang paling indah, walaupun keesokan harinya ia harus seperti ini.
“Hei.”
“Hei”
“Sarapan? Maaf ya semalam kamu jadi kurang tidur, sampe harus sarapan di kantor” ujar Doni lembut.
“Gak apa-apa, sekali-kali sarapan di kantor hehehe.”
“Oh ya aku ada sesuatu.” Kata Doni dan membuat Rara semakin penasaran bahagia. Kemudian Doni mengeluarkan sebuah kotak berwarna hijau.
“Apa ini pak?”
“Rumah kamu kan di kebayoran baru, deket sama rumahnya Mbak Asri. Kamu kasihin ini ke Mbak Asri ya.” Doni mengatakannya dengan penuh kemantapan.
“Em emang Mbak Asri ulang tahun ya Pak?” tanya Rara agak gugup.
“Iya 3 hari yang lalu. Tolong ya, dia kan sekarang udah resign dan jarang ada di kantor.”
“Baik Pak. Oh ya Pak saya permisi dulu ya. Mau kembali bekerja.”
“Silahkan.” Ujar Doni sambil tersenyum.
***
Rara sedang duduk di mejanya, namun bukan pekerjaan kantor yang ia kerjakan. Ia malah memainkan macromedia flash untuk membuat sebuah animasi yang biasa ia upload ke youtube. Kali ini ia membuat sebuah animasi sepasang alien yang sedang bersantai di planet berwarna pink, kemudian ada pesawat yang menghantarkan pesanan, dan ternyata itu adalah sebuah bom. Kemudian bom itu memisahkan sepasang alien tersebut dan seterusnya. Ini hanyalah sebuah gambaran atau representasi tentang perasaan yang dialami Rara sekarang. Rara kira Doni memang benar-benar menaruh hati padanya tetapi apa? Ia malah menitipkan sebuah kado untuk perempuan lain. Itu tandanya tak akan perasaan tentang Doni untuk Rara.
***
“Halo Rara, kamu ke ruangan saya ya.” Ujar Doni lewat telepon.
Kali ini Rara berjalan gontai tanpa semangat menuju ruangan Doni. Rara membuka pintu dan Rara menemukan Doni sedang membuka laptopnya.
“Ada apa pak?” ujar Rara.
“Saya udah liat post terbaru kamu di youtube.”
“Terus?” Rara masih belum mengerti tentang apa yang dibicarakan Doni.
“Ya saya tahu apa maksud dari postingan video animasi itu.”
“Hah hahaha bapka hanya sok tahu kan. Mana mungkin bapak tahu hehehe.” Rara mencoba untuk tenang.
“Ra kamu tahu kan, perusahaan kita ini perusahaan yang besar. Kalau nanti ada klien-klien kita yang melihat postingan ini, mereka tahu keadaan hati salah satu pegawai dan ya kamu ini kan mempunyai posisi yang cukup lumayan di perusahaan Ra.”
Rara seketika terdiam, merasa kreativitasnya dibatasi oleh semua pencitraan sebuah perusahaan. Padahal membuat animasi adalah hobi utamanya semenjak ia bisa. Namun ia juga tahu bahwa animasi yang selama ini ia posting di youtube adalah representasi perasaan yang ia alami saat itu. Dan yang seakan membatasi karyanya saat itu adalah Doni. Orang yang semula ia kira akan memberika kebahagiaan baru, setelah ia rela meninggalkan Vovo.
“Yaudah ya pak, saya hapus postingannya.” Rara pun gegabah lalu mengambil alih laptop yang ada di hadapan Doni.
“hei hei saya gak bilang kamu harus hapus kok. Tapi kamu ngerti kan maksudnya.”
“Ya itu sama saja kan saya harus menghapus karya saya itu, yaudah sini. Saya hapus, mana? Saya buka www.” Rara semakin menggila dan gemetaran memegang laptop Doni.
“Gak saya mau apus aja, bahkan saya langsung menghapusnya lewat laptop bapak. Ya, sebentar pak. Ini akan saya hapus, tenang aja pak.” Rara pun mengambil laptop Doni dengan semakin gemetaran dan berkeringat. Doni pun akhirnya agak membentak Rara “Hei Ra, dengarkan aku, aku gak nyuruh hapus postingan animasi itu.” Kini mereka bertatapan sangat dekat. Air mata Rara seketika pun menetes di hadapan sedekat itu.
“Kamu nangis Ra?”
Tanpa menjawab Rara keluar dari ruangan itu dan membanting pintunya. Ia berjalan gontai dengan berlumuran air mata. Ia berjalan lambat dengan perasaan yang sangat kacau.
***
Rara yang masih duduk di atas gedung masih meneteskan air matanya. Di depannya juga masih tersedia sebuah kotak hijau yakni kado dari Doni untuk Asri. Aku terjatuh dan tak bisa bangkit lagi, aku tenggelam dalam lautan luka dalam. Aku tersesat dan tau jalan pulang, aku tanpa Vovo butiran telur. Ujar Rara dalam hati ia berpikir pilihannya untuk menjauh dari Vovo untuk mendekati Doni adalah salah, ia seharusnya tetap bersama Vovo, karena sepertinya hanya dengan Vovo, Rara bisa bahagia. Kini tanpa Vovo, Rara seperti butiran telur yang menggelinding namun tak mulus, karena bentuk telur tidaklah bulat sempurna.
Terlalu lama menggalau Rara tak betah juga, Rara melihat layar hp nya. Dan ia ia melihat sekarang tanggal 28. “Konser Vovo?” ia kaget mengingat hari ini Vovo tampil di seminar kantor dan ia diminta Vovo untuk datang menontonnya. Seketika Rara langsung berlari menuju aula untuk melihar Vovo bernyanyi. Saat ia akan memencet tobol lift ia mendapati tulisan bahwa lift rusak, maka ia menuruni tangga dengan sangat tergesa-gesa untuk dapat sampai ke aula tepat pada waktunya.
Ia berlari sekuat tenaga, dan akhirnya ia sampai.
“kumenatap langit yang tenaaaang, dan takkan menangisi malaaaam, tuk tetap berdiri kumelawan hari, kuakan berarti ku takkan mati. kumenatap langit yang tenaaang, dan takkan menangisi malaaaam, tuk tetap berdiri kumelawan hari, kuakan berarti ku takkan mati.”


Tidak ada komentar:
Posting Komentar