Minggu, 29 Juli 2012

Separuh Aku


“dan terjadi lagi, kisah lama yg terulang kembali.
Kau terluka lagi dari cinta rumit yang kau jalani
Aku ingin kau merasa kamu mengerti aku mengerti kamu
Aku ingin kau sadari cintamu bukanlah dia”
            Aku melihatnya, ya aku selalu melihat dia dari awal aku menginjakkan kaki di perusahaan televisi ini. Aku yakin ia juga melihatku, aku yakin ia sadar akan adanya aku di kantor ini. Aku juga yakin kalau dia tahu namaku, Dodi. Aku yakin semua itu dan aku pun tahu namanya, hanya saja aku pura-pura tak begitu paham akan namanya. Nama yang terlalu indah bagiku, Ratu Larasati. Aku juga tahu kalau dia bangga kalau dipanggil lara, katanya memang dia suka sedih. Sejujurnya aku tak pernah tega memanggilnya seperti itu.
“Hai Do, kamu ngapain di sini? Gak masuk ruangan, meetingnya udah mulai 5 menit loh. Masuk yuk.” Sapanya dengan penuh keceriaan.
“Nyantai sih Ra.” Jawabku sambil mengarahkan senyum tipis padanya. Aku memang tak mau mengumbar banyak senyuman alias sinyal-sinyal kepada dia, aku bukan tipe orang yang ingin mendapatkan wanita dini hari, aku ingin mendapatkannya di pelaminan.
Saat rapat mulai berlangsung, aku mendapati berulang kali Lara selalu menyebut namaku, “bener yang dibilang pak dodi kalau kita ini....” dan seterusnya. Aku tau Ra, kalau kamu suka kan sama aku. Aku ini gak kepedean loh, beneran, mau buktinya?
“Kikan, kikaan, kikaaaann, hari ini gue seneng banget kaaan.” Lara heboh menghampiri Kikan yang sedang duduk di mejanya.

“Apaan sih Lara? Heboh amat pagi-pagi.” Kikan kaget.
“Tau gak sih, gue udah kasihin rainbow cakenya ke Dodi. Tapi ya gitu deh, dia awalnya gak langsung menyambut rainbow cake itu, dia nanya dulu ‘apaan nih’ tapi gue seneng banget.”
“Ya ampun Lara, ati-ati loh nanti kamu dikira suka sama dia.”
“Ya gak lah Kaaan, dia kan tipe orang yang gak mau pacaran gitu, jadi pikiran dia pasti bersih. Lagi pula nih ya, gue kan udah pinjem modem dia selama seminggu, dan gue ngambil tiap hari balikin tiap hari juga. Kayaknya ganggu hidup dia banget gak sih. Makanya sebagai ucapan terima kasih gue kasih rainbow cake bikinan gue sendiri. Rasional kan.” Ujar Lara dengan sangat antusias. Tapi siapa bilang Lara justru aku dapat membaca semua itu, aku sangat mencium cintamu sejak pertama kali kau membuka pintu interaksi di antara kita.
“Tapi gue ada keselnya juga nih sama tu si Dodi.”
“Cak elaaah kenapa?” tanya Kikan penasaran.
“Masa yah, kan gue mau balikin modem dia, terus dia tuh manja banget, nyuruh gue nganterin ke daerah radio dalam, gue mana ngerti jalan-jalan di sana, akhirnya gue naik ojjj......” aku pun lewat di samping mereka yang sedang duduk mengobrol. Lara seketika langsung menghentikan pembicaraannya. Aku sedikit melirik ke belakang dan melihat Lara heboh karena melihatku melewati ia dan Kikan tadi. Lara lara, aku pun juga mencintaimu.
Tapi semua itu rasanya belum pantas kau dapatkan Ra, aku tahu hatimu masih suka terpecah belah untuk lelaki-lelaki yang kau kagumi. Aku ingat saat kamu.......
“Gimana Ra, kamu udah nanya ke panitianya belom tentang file filmku yang ilang.” Tanyaku panik pada saat itu.
“Tenang tenang udah lo tenang aja napa sih Do, gue udah bilang dan di dalem juga banyak kok yang belum bawa karya filmnya. Tenang dan beberapa dari mereka yang gak bawa juga udah ada yang diterima. Hmmm tenang ya Do.” Jawab Lara dengan senyuman yang sangat sumringah. Senyuman seceria ini sehabis keluar ruangan wawancara kerja, rasanya gak mungkin kalo gak ada apa-apa di dalam sana.
Tak lama kemudian aku melihat sesosok yang gagah, tinggi, mengenakan kemeja merah maroon dan berdasi keluar dari ruangan wawancara, ruangan yang sama dengan ruangan yang Lara masuki tadi saat wawancara. Oh jadi karena lelaki yang berdasi dan berjambang ini toh Lara sampe segitu bahagianya. Keluarnya ia dari ruangan pun juga membuat perhatian Lara teralihkan. Aku tahu Lara, kamu kagum dengan Pak Santoso si rajanya media di kantor ini, dia pun sudah terkenal. Tetapi aku juga sangat tahu kau masih mencintaiku, kau pun menolongku, aku pun mencintaimu Lara.
Kini sudah berbeda ceritanya, kulihat Lara dan segerombolan anak HRD yang lain melintasi ruanganku, dan mereka berpapasan dengan Pak Santosa dan Bu Viona yang sedang bergandengan. Lara memalingkan wajahnya dan teman-temannya pun ikut pura-pura tak melihat. Aku pun penasaran memang segitu berubahnya sekarang sikap Lara terhadap bapak sok gagah itu? Aku keluar dari ruangan hanya menongolkan kepala, samar-samar kudengar.....
“Ihhhh belagu banget sih tuh viona, mentang-mentang pacarnya pak sentosa, lagaknya selangit banget. Pak santoso jga, huhuuu pas wawancara aja baik banget kayak jelmaan malaikat, aslinya kayak gitu juga huhhhh” Ujar Lara dengan kesal.
“Ya udah lah ra, dia juga kayaknya bukan cowok baik-baik hehhee.” Lanjut Yuli.
“Ya udah yuk ke kantin aja, mending gue sama......” dan suara itu pun semakin samar dan menjauh. Lara aku yakin kalimat penuhnya adalah namaku, atau namaku dalam bentuk lain.
****
“Dodiii!!!!” panggilnya dan aku menoleh dengan santai, sebisa mungkin tetap terlihat cool saat ia membutuhkanku.
“Do bareng ya masuknya.”
“Yuk.” Jawabku dengan pelan kemudian kami berjalan.
“Do kamu kemarin lembur gak? Aku denger kamu lebur sama Pak Iko?”
Oh ternyata kamu mau nanyain Iko bukan aku, ya Lara aku mengerti kok. Tapi di sisi lain kamu selalu ingin dekat dengan aku kan?
“Iya ada Pak Iko juga.” Jawabku sangat singkat.
“Eh ehh ayo lari liftnya ada yang kebuka tuh.” Aku pun masih berjalan santai saat Lara berlari, aku melihat Pak Iko juga masuk lift itu, Lara pasti ingin satu lift dengan Pak Iko. “Dodiiii!!!” panggilnya, mungkin hanya formalitas. Aku hanya melambaikan tangan tanda aku bisa menyusul, dan saat pintu lift perlahan tertutup, aku melihat ia sudah memberikan senyum termanisnya untuk Iko Durwantoro.
***
Lara, aku tahu kalau kamu sedang sedih. Oh mungkin bukan sedih, kau sedang galau. Kau masih labil mungkin, walau umurmu sudah 20an, kamu masih mudah untuk jatuh hati. Aku tahu Lara, tapi di sisi lain aku juga tahu kau menyisihkan begitu banyak porsi untuk mencintaiku di samping mereka. Bahkan saat kau membuatku begitu sakit hati, aku tetap yakin dan aku tahu kalau separuh hatimu sudah menjadi milikku atau sebaliknya.
“Ra, Ra sini dulu Ra.” Aku memanggil wanita cantik itu yang sedang melewati ruanganku.
“Ya Do ada apa?” jawabnya dengan senyuman yang begitu indah, aku tau Lara, kamu pasti senang kan karna aku memanggil kamu.
“Tolong smsin Pak Iko dong, aku butuh kunci brangkas nih.”
“Oh ya, bentar ya.” Lara Lara aku tahu kamu pasti senang sekaligus bingung kan, itu sangat terpancar di wajahmu sayang, aku Dodi menyuruhmu meng-sms Pak Iko yang mungkin sedang kau kagumi itu.
“Kata Pak Iko, dia lagi makan di daerah kemang.”
“Ya terus gimana ini aku butuh buat meeting nanti.”
“Ya aku sms lagi ya.”
Lara Lara, aku tahu kamu bingung, kamu juga pasti ingin kunci itu ada di tanganku kan dan tidak membiarkan aku kelimpungan seperti ini dan kamu juga tak ingin Pak Iko terganggu di sana.
“Pak Iko lagi makan di kemang, dan kuncinya ada di  rumah.” Wajah Lara pun berubah saat mengatakan pesan itu.
“Ya terus gimana dong ni, rapatnya jam 2, ini udah jam berapa?”
“Ya mana aku tahu, nih kamu tanya sendiri sama Pak Iko. Kenapa jadi aku yang repot deh.” Wajah indah itu berubah jadi kesal.
“Yaudah deh.”
****
“Do... mana yang bisa aku bantu?” Lara menawarkan bantuan saat kami lembur bersama, aku, Lara, Setia dan Alfred. “Udah kamu bantuin yang lain aja dulu sana, tadi mbak Setia butuh diketikin katanya.” Aku pun menolak bantuannya, aku masih setia dengan sikap cool ku ini, tapi Lara?
“Udaaah sini, mana yang mau diburn duluan?” Lara kelihatan sekali ingin membantuku malam itu. Seketika ia langsung mengambil alih dan ya memang pekerjaan kami semua malam itu ada campur tangan dia, dia orang yang sangat cepat dalam bekerja, teliti dan ulet. Dan tentunya ia pasti sangat senang sudah bisa membantu aku.
“Yah Laraaaaa....”
“Eh eh kenapa Do?”
“Ini mati, aduh udah aku save belum ya?”
“Hah, do kamu jangan bercanda do, aduh aku jadi dek-dekkan beneran. Oh My God kalo gak ke save, aku yang ngetikin lagi deh.”
Lara Lara kamu panik banget, ini kan auto save. Kamu mencintaiku ya Lara?
***
“Dengar laraku, suara hati ini memanggil namamu, karna separuh aku dirimu.
Ku ada di sini, pahami lah kau tak pernah sendiri,
karna aku slalu didekatmu saat engkau terjatuh
aku ingin kau merasa kamu mengerti aku mengerti kamu
aku ingin kau pahami cintamu bukanlah dia”
            Lara, aku sejujurnya kasihan melihat kamu. Kamu tidak bisa dikatakan korban sih, kamu juga tidak bisa dikatakan penjahat. Ya begitulah Lara. Aku ikut sedih dengan semua yang kau alami, tapi ketahuilah Lara, bahwa apapun yang terjadi, aku selalu ada di dekatmu, bahkan sangat dekat, terlebih saat kau jatuh, aku tahu. Mungkin saking dekatnya kita berdua, kau tak pernah menyadarinya.
Saat ...................................
“Itu bukan menjelekkan perusahaan lain pak, bapak sok tahu deh.” Ujar Lara.
“Ya tapi kan kalau status di twitter atau facebook itu singkat, kalimatnya bisa-bisa gak utuh. Ini perusahaan besar Lara, kita bisa-bisa diberitain macam-macam cuma karena postingan kamu di jejaring sosial.” Lara hanya terdiam mendengar semua pernyataan itu.
“Kamu ngerti kan kalau kamu ini kerja di perusahaan besar, Lara. Bukan main-main. Jadi kamu pun harus jaga dong perkataan kamu di dunia maya. Sedikit itu bisa mempengaruhi perusahaan kita juga loh.” Lanjut Pak Iko.
“Baik pak saya akan menghapus semua status saya yang bapak kira berbahaya.”
Feri Bencisangatdengancewextukangbelicireng
Duh sebel bgtt guW dagh, Macedt banggatts smpe keringethan beudt ni kpala, gmna tar muW kerja, bisa-bissa Guw kgk Rapieh dagh L
Larasati Ratu
Itu semua bukan masalah harga tapi harga bisa membeli semua, namun semua yang dibeli oleh harga akan kembali bukan dengan jiwa. Mata itu bisa menipu dan mata mudah tertipu.
Delete?
Dodi Prawira
Demokrasi itu gila, gak masuk akal. Mungkin kalau demo crazy itu baru agak bener. Indonesia yang aneh yang benar hanyalah tanah jawaku yang senotosa.
Saat ..................................
            “Kamu nyadar gak sih selama ini kita tuh belajar dari bawah ke atas, dari yang gampang-gampang dulu tentang tv. Padahal kita tuh perlu tahu tv itu kayak gimana dari dasar. Hufftt kadang suka bingung sama pemerintahan di sini.” Ujar Lara
            “Ya aku juga mikir gitu Ra, sama kayak kamu.” Ya gak apa-apa lah sekali-kali bikin Lara seneng dengan kesetujuanku akan pendapat dia J.
***
“dengar laraku, suara hati ini memanggil namamu, karna separuh aku dirimu.
Dengar laraku, suara hati ini memanggil namamu karna separuh aku,
menyentuh laramu, Semua lukamu tlah menjadi lirihku, karna separuh aku dirimu”
            Larasati :
            Rasanya aku capek sama semua ini, Pak Iko, Pak Sentosa lama-lama mereka semua bertingkah, dan gak bisa diatur. Ya memang bukan aku sih yang ngatur mereka, hehehe. Tapi kadang aku yang sudah terlanjur mencintai kantor ini, ingin melakukan segalanya dengan maksimal, tapi aku tahu mereka kayaknya sibuk dengan urusan masing-masing. Dodi, hanya ia yang tersisa dan selalu tersisa. Kenapa aku jadi kangen banget sama dia ya? Seperti bisa aku pasti naik ke atap kantor untuk menenangkan diri, menikmati lembutnya sentuhan angin langit dan aku menerbangkan segala pikiran yang membebani.
            Rambutku merasa terbang menuju langit tanpa meninggalkan kepalaku, bajuku seakan bergelombang, angin ini seperti angin surga, bahkan surga pasti lebih indah dari ini. Aku seakan menggapai langit dan menyentuh segala yang kucintai. Kertas itu menyentuh telapak tangan kiriku. Aku melihatnya, itu adalah sebuah kertas bertuliskan sebuah lirik, atau puisi?
“dan terjadi lagi, kisah lama yg terulang kembali.
Kau terluka lagi dari cinta rumit yang kau jalani
Aku ingin kau merasa kamu mengerti aku mengerti kamu
Aku ingin kau sadari cintamu bukanlah dia”
“Dengar laraku, suara hati ini memanggil namamu, karna separuh aku dirimu.
Ku ada di sini, pahami lah kau tak pernah sendiri,
karna aku slalu didekatmu saat engkau terjatuh
aku ingin kau merasa kamu mengerti aku mengerti kamu
aku ingin kau pahami cintamu bukanlah dia”
“dengar laraku, suara hati ini memanggil namamu, karna separuh aku dirimu.
Dengar laraku, suara hati ini memanggil namamu karna separuh aku,
menyentuh laramu, Semua lukamu tlah menjadi lirihku, karna separuh aku dirimu”
            Dodi? Ini seperti tulisan Dodi. Rasanya aku bersalah kalau menyampingkan Dodi. Aku sadar aku mungkin masih mencintai dia, dia yang selalu ada di dekat aku? Iya juga sih. Dia tak pernah merubah sikap, sikapnya selalu sama, cuek, gak jelas sih kadang-kadang, cool bahkan terlalu dingin untuk kusentuh. Dodi dodi, mungkin aku selama ini tak pernah sadar kalau semua itu ya kamu. Rasanya sudah terlalu lama aku berkelana untuk mencari cinta, tapi kenapa ujung-ujungnya selalu ada kamu? Hmmm mana mungkin kamu tahu keadaan yang sebenarnya tentang cinta besar ini. Kukira dulu Pak Iko bisa memendam dan menghapus kamu dengan sangat kilat, tapi kenapa kamu kamu lagi ya yang ada di otak ini.
            Aku meremas kertas bertuliskan kalimat indah itu. Aku letakkan di dadaku, meresapi akan hadirnya aku sebagai lara di separuh lirihnya Dodi. Ahh sungguh romantis. Aku tak percaya. Aku ingat, aku kesini membawa puding coklat dari pantry. Ups, aku lupa dengan flanya. Sudahlah....
            “Mau fla?”  suara yang indah tiada tara.
            “Tadi pudingnya jatuh ketubruk cleaning service yang turun ke bawah.”
            Aku hanya menyunggingkan senyumku ke arahnya sambil aku menyodorkan cup pudingku ke arahnya, kemudian ia dengan seleboran dan belepetan menuangkan fla itu.
            “Separuh aku?” ujarku sambil menatap jauh ke depan ke langit luas. Tetapi Dodi masih terdiam sambil melihatku penuh arti, baru kali ini ia melihatku, menetapku begitu lama.
            “Seperti puding ini, rasanya memang tetap enak kalau gak pakai fla, dimakan flanya aja juga gak masalah. Tapi separuh dari kenikmatan puding ya ada di sini, fla ini.” Dodi tersenyum dan aku pun membalas senyumannya diiringi rambutku sehelai dua helai menyambar wajahku.

tembusan : Peterpan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar