Sabtu, 04 Agustus 2012

Have you been here??

Have u been here ??
            Itulah satu pertanyaan yang muncul di benakku saat aku melihat beberapa foto-foto berlatarkan paris di profil facebook Pak Andikha. “Pak Andikha udah ada di Indonesia?” tanyaku pada diri sendiri, dan tak bisa kupungkiri wajahku berubah dan di sana juga terdapat beberapa guratan bahagia. Aku tersenyum sambil masih memainkan laptop.
***

            Perasaanku semalam ternyata memang benar, kemudian semakin dikuatkan dengan beberapa pernyataan dari Yulia dan April. “Eh katanya Pak Andhika mau ke sini tadi sih udah aku telpon, tapi kok belum dateng ya?” gumamnya. Oh berarti benar kalau Pak Andhika memang sudah berada di Indonesia. Setelah meninggalkan Indonesia selama beberapa bulan untuk menghadiri seminar tahunan, rasanya aku tak mampu dan tak cukup bisa memanage bibir ini sekalipun untuk berkata sepatah dua patah kata megenai kedatangannya di Indonesia. “Eh eh tadi gimana jadinya? Aku yang bagian penjelasan per episode kan?” tanya April.
“Iya nanti dilanjutin sama Zaki untuk penjelasan per sessionnya. Oke bisa lah ya.” Jawabku dengan tenang. Ya bagaimana tidak tenang? Hari ini akan ada presentasi drama yang tim kami pegang, drama itu berjudul “pergilah kasih”, yang diproduseri oleh Pak Andhika sendiri. Dan sangat kebetulan sekali Pak Andhika sekarang sudah tiba di tengah-tengah kita, pastinya akan bisa menambah orang yang ada di stage untuk presentasi nanti.
            Sudah sejam aku menunggu. Menunggu yang tak terlihat menunggu. Tiba-tiba aku mendengar Yulia “Nah itu Pak Andikha!” aku tak kuasa menyembunyikan semuanya, aku memang sangat menunggunya pulang dari Paris untuk kembali menjadi pimpinan pada produksi drama “pergilah kasih”. Selama ini aku menggantikannya untuk memimpin jalannya syuting “pergilah kasih”, kini sudah datang kembali pemimpin yang sebenarnya. Tugasku selesai dan aku kembali bisa bekerja sama seperti dulu.
            Dari balik tirai ruangan April aku melihat Pak Andhika yang sedang berjalan menuju kumpulan kami yang sedang mempersiapkan presentasi. Aku melihatnya berjalan selangkah demi langkah, akhirnya datang juga pemimpin kami dari negri jauh. Aku hanya terdiam melihat semuanya mengalir begitu saja. Kulihat Yulia langsung menyambutnya dengan ceria, dengan khas Yulia yang semua orang sudah mengenalnya. Pak Andhika makin putih, ya mungkin pengaruh tinggal di luar negri. Sisanya tak ada yang berubah, dan aku masih menikmati pemandangan itu dari balik tirai ruangan April.
            Pak Andhika sudah di sini itu tandanya presentasi serial drama ini makin berjalan sempurna. Nanti beliau akan memimpin jalannya presentasi, lalu nantu aku akan melanjutkannya dengan khasku yang ceria, kemudian untuk sesi tanya jawab bisa dipandu dengan Zaki. Akan menjadi presentasi yang sangat apik. Pemutaran beberapa episode dengan sound yang sudah dipersiapkan oleh Darwin,
            “Khaira!” Pak Andhika memanggilku untuk keluar ternyata ia melihatku di sini.
            “Ya pak?” jawabku sambil berjalan keluar ruangan.
            “Itu gimana nanti konsep presentasinya?” tanya Pak Andhika dengan gayanya yang cuek dan wajah agak seram. Pikirku ini adalah sebuah tanda baik, beliau sudah menanyakan tentang konsep presentasi, berarti kemungkinan besar beliau juga akan ikut dalam acara itu.
            “Jadi begini pak, sebenernya kekuatan kita itu ada di mixing sound yang dikelola sama Mas Darwin, terus nanti polanya kita ceritain secara kesuluruhan dulu, baru per episode dan per session. Begitu pak.” Ujarku menjelaskan konsep umum presentasi. Namun Pak Andhika hanya terdiam, kemudian aku mulai melanjutkan lagi, “Eummm nanti bapak ikut presentasinya kan?”
            “Hah aku?” jawab Pak Andhika dengan nada yang tidak mengenakan.
            “Iya bapak, soalnya kru yang lain juga lagi masih pulang kampung, kan gak enak aja kalo depan anak-anak magang mereka lihat kru kita yang sedikit, nanti mereka gak semangat lagi.” Kataku sambil mencoba membujuk Pak Andhika.
            “Gak ah, aku gak ikut, kalian aja.”
            Serasa semua ini berakhir begitu saja. Dia kan yang menggawangi produksi ini tapi dia juga yang gak mau tampil untuk presentasi? Apa-apaan ini? “Emangnya Pak Faiz kemana?” tanya nya. “Pak Faiz kan direktur, dia ikut jajaran direktur bidang lain lah pak. Emangnya bapak lupa?” aku mulai emosi. “Bapak ikut dong, masa iya bapak absen gitu aja?” aku masih menawar. “Enggak akh Khaira, kamu nii.”  Kelakuan Pak Andhika kali ini  benar-benar menyulutkan emosiku. Aku tak mengerti mengapa ia bersikap aneh seperti ini?
            “Bapak ini gimana sih? Pokoknya bapak harus ikut, saya janji deh bapak gak akan terlalu ribet nanti di sana. Jangan yang aneh-aneh deh pak, pake acara gak ikutan segala.” Aku menegurnya dengan nada yang agak marah. “Apaan sih Khaira, tenggorokan saya ni lagi sakit, lagi pula saya pake celana jeans, gak enak, gak pantes.” Kemudian semuanya hening mendengar percakapan kami berdua.
            Aku pun tak habis pikir mengapa akhirnya menjadi seperti ini? Aku benar-benar bingung. Aku yang tadinya berniat agak tegas, ya mungkin ini bekas sisa aku memimpin mereka di produksi “pergilah kasih”, tapi ini semua malah sangat terlihat konyol. Aku pun langsung mundur dari kerumunan dan berjalan menjauh dari mereka. Berjalan menuju tempat yang paling nyaman untuk kusinggahi saat itu.
***
            Aku hanya terdiam di sana, diliputi oleh angin-angin yang setia bergelora menyapu kepalaku,, memberikan kesejukan yang sendirinya mengeringkan air mataku. Aku pun tak tahu harus berkata apa untuk kejadian aneh ini. Apakah hanya aku yang merasakannya? Apakah aku memang sedang bermimpi? Kuharap begitu.
            Aku takut ini adalah langkah yang salah, langkah yang seharusnya tak pernah aku ambil dari awal, hanya karena sebuah alasan profesionalitas. Saat aku terdiam dan terlalu banyak terdiam, kemudian seakan ada yang membisikkan sesuatu dari jauh ke belakang waktu ini berputar.
“dan terjadi lagi, kisah lama yang terulang kembali, kau terluka lagi dari cinta rumit yang kau jalani. Aku ingin kau merasa, kamu mengerti aku mengerti kamu, aku ingin kau sadari, cintamu bukanlah dia.”
            Lirik indah selalu memenuhi telinga hatiku, seakan mencoba mengingatkanku kembali bahwa semua yang kupilih dahulu mungkin tergesa-gesa dan semua yang pernah kutinggalkan masih setia menungguku untuk kembali.
“Karna aku selalu di dekatmu saat engkau terjatuh.”
            Aku pun susah untuk kembali ke keadaan awal, dan karena waktu takkan pernah berhenti untuk memberiku kesempatan berpikir bodoh. Karena waktu juga yang menjadi saksi, aku telah bercampur, aku lambat laun memahami apa yang ia inginkan untuk kemajuan kami, apa yang kamu inginkan Andhika untuk kemajuan kita semua, aku paham. Maka aku bangkit untuk kembali bekerja sebagaimana mestinya, untuk melanjutkan beberapa projekku yang tersisa bersama nya.
            Karena bagaimana pun, aku ada di sini, seakan segala usahaku adalah nafasku untuk memajukan semua yang seharusnya maju. Dan aku takkan pernah berhenti, akan terus memahami, masih terus berpikir, dan aku akan memaksa atau berdarah untuk segala kebesaran ini. Namun aku pun kembali mengingat saat kemarin aku senang sambil bertanya, “apa dia sudah di sini?” tapi rasanya pertanyaan itu masih akan ada di benakku.  “Have u been here? Because i didn’t see u yet. I feel, he is not you. Maybe, the original or the best Mr Andhika didn’t come here yet. So i’m going to wait you, here.”

Tembusan : NOAH

Tidak ada komentar:

Posting Komentar