Senin, 06 Agustus 2012

Memanggil dari jauh !

Memanggil dari jauh !
            Aku, April, Yulia dan Mbak Andhini sedang di ruang meeting untuk merencanakan agenda berikutnya setelah presentasi serial drama “pergilah kasih” kemarin. Kali ini kami akan merumuskan tentang training syuting film untuk anak-anak magang. Aku pun bersuara mengenai dresscode saat itu, “Temen-temen gimana kalau dresscode trainernya pake rompi yang biasa di pake Mas Darwin aja? Kan itu dramaturgiland banget. Biar anak-anak tuh ngerasa udah syuting beneran padahal ya baru latihan.” Ujarku dengan penuh semangat. Karena dari dulu aku paling suka yang namanya mengurus dresscode. Dan yang aku tahu dari pengalaman sebelum-sebelumnya, pasti para tutornya itu hanya memakai baju alakadarnya saja dan aku sangat tak menyukai hal tersebut, seakan-akan membuat semangat para calon pembaharu menjadi surut.
            “Oh yaudah iya gitu aja, biar mereka tuh keliatannya udah nyambut banget anak magang jadi keluarga besar dramaturgiland.” Mbak Andhini menyetujui ide yang kuajukan, senang sekali rasanya. “Iya soalnya juga pas aku masih kuliah dulu, kalo diajarin syuting di lapangan gitu ya bajunya juga tertata gak yang santai gak jelas gitu.” Tambahku. “Ohhh gitu ya.” April mengangguk-angguk. Aku tak sabar menunggu hari lusa, pasti akan ada kamera yang berjejer di sana, siap dipakai untuk melatih anak-anak baru. Ini pasti akan menjadi pengalaman yang tak pernah kulupakan.
            “Oh ya aku lupa kenapa sih Pak Faiz dan Pak Andhika gak jadi sutradara cadangan buat ngelatih mereka? Soalnya 31 sutradara yang buat mngelatih ini aja masih ada yang batal tiba-tiba kan.” Aku mulai mengkritisi lagi. “Aku gak tahu sih. Nanti deh aku tanyain lagi.” Jawab Mbak Andhini dengan santai. Kadang kala aku berpikir, sutradara dari dramaturgiland sangat sedikit yang langsung terjun ke lapangan, kita lebih memilih pelatih dari luar, aku sedikit tak mengerti, namun lambat laun kupaksakan untuk menerima semua ini.
            Setelah beberapa jam merumuskan semuanya, maka rapat pun ditutup oleh Mbak Andhini, “Yaudah sekian dulu ya meeting kita kali ini, besok kita bakal briefing para sutradaranya, tetap semangat ya.” Lalu aku pun pulang ke rumah untuk menunggu hari esok.
***

            Tiba hari ini untuk briefing beberapa sutradara yang bisa hadir. Sepertinya aku akan telat datang ke kantor karena aku harus mengepel rumah terlebih dahulu dan sesudah itu aku malah terkulai lemas di kasur. Berniat untuk istirahat sebentar, tiba-tiba kepala ini terasa pusing. Apa yang terjadi padaku? Ah kukira ini hanyalah pusing biasa, ku tidurkan sebentar saja paling nanti juga sembuh. Setelah beberapa menit aku beristirahat, ternyata bukannya tambah reda tapi rasa pusing ini diikuti dengan rasa mual. Tak kuat menahannya aku buru-buru ke kamar mandi.
            Apa yang terjadi? Kepala ini bertambah pusing, perutku mual dan rasanya tak karuan. Aku segera meng-sms April untuk memberitahukan keadaanku padanya. “Ya udah kalau kamu gak bisa dateng ya gak usah, siapin energi buat besok aja, besok bakal lebih butuh banyak tenaga Bung.” Membaca sms itu justru aku merasa tak percaya, apa segitunya rasa sakit ini? Pasti semua ini bisa kutahan dan aku akan segera lekas ke kantor. “Aku setengah jam lagi sampe kantor, kira-kira briefingnya masih jalan lah ya.” Dan April membalasnya, “Ya Insya Alloh.”
            Aku bergegas untuk mengganti baju dan saat aku berdiri rasa sakit di perut ini makin menjadi, aku terjatuh duduk ke lantai, ini begitu menusuk perutku seakan tak mengijinkan aku pergi kesana. Aku menangis karena tak kuat dengan rasa yang menjadi-jadi ini. “Siapa aja yang udah di sana?” masih sempatnya aku mengambil hp dan meng-sms April. “Mbak Andhini, Pak Andhika, Sesi, Mas Darwin...............” dan seterusnya yang ia sebutkan. Di sana ada Pak Andhika? Mengapa justru hal itu yang terlintas di kepalaku saat sakit ini menyerang perutku?
            “Kayaknya aku beneran gak bisa kesana Pril. Maaf ya.” Kemudian aku langsung ke kamar mandi, ini sudah tak bisa kutahan lagi. L
***
            Kuterlelap hingga lama, saat ku terbangun di samping sudah ada Sesi. “Sesi, kok ada di sini?” aku agak kaget melihat dia masuk ke dalam rumah. “Mbak Bunga katanya sakit? Tadi pintu rumah mbak kebuka, jadi aku masuk aja. Nih aku bawain makanan. Mbak makan ya.” Ia membawakanku bubur ayam. “Makasih ya Ses.”
            Sambil membuka plastik bubur aku bertanya kepada Sesi apa saja hasil rapat tadi, “Ses, tadi gimana rapatnya?”
“Biasa aja sih mbak.”
“Ya gimana? Aku mau ceritanya dari awal dong.” Aku meminta dengan manja.
“Ya gitu banyak kok sutradara yang dateng, terus mereka juga banyak yang nanya-nanya. Ya kalo menurut aku sih lancar-lancar aja semuanya.” Jawab Sesi.
            Tak terasa kami berdua berbincang begitu asyik walaupun yang Sesi ceritakan masih jauh dari harapanku, entah mengapa aku merasa pasti ada sesuatu dalam briefing itu yang belum aku ketahui. Dan ternyata perasaanku itu benar adanya. Hal itu dibuktikan saat April dan Yulia menyusul datang ke rumahku.
            “Buat yang dresscode gimana Yul? Kamu udah briefing-in sama mereka kan, kalo mereka harus pake rompi yang biasa sutradara dramaturgiland pake.” Aku bertanya dengan nada yang kubuat optimis, walaupun tetap saja tak bisa kusembunyikan bahwa aku meragu atas apa yang aku tanyakan ini, firasatku mengatakan, mana mungkin ini hanya keinginan pribadi dengan pengalaman pribadi saja.
            “Enggak, jadinya mereka disuruh pake baju rapi aja.” Jawab Yulia dengan gayanya yang sangat sangat polos. Aku hanyalah manusia biasa yang mempunyai sisi marah, aku manusia biasa yang masih sering memelihara egoisme. “Ohhh gitu ya.” Responku singkat. “Iya soalnya kita tuh gak mau beratin mereka gitu. Gak usah yang pake rompi atau segala macem lah.” Lanjut Yulia. Sesaat pikiranku melayang ke beberapa jam yang lalu saat meeting. “Ya mereka ngerti lah, mereka kan udah jadi sutradara yang profesional pasti mereka mau lah kalo aturannya pake dresscode gitu.” Ujar Mbak Andini seolah meyakinkan aku.
            Ini tak kujadikan sebagai beban pikiran yang berarti. Hello Khaira Bunga it just about dresscode. “Bung, badan kamu kok makin anget aja sih, kita ke dokter aja yuk Bung.” Ajak April. “Aku gak apa-apa, nanti kalo dibawa ke dokter yang ada aku harus dirawat lagi, terus apa kabar besok, kan aku mau liat proses latian syuting mereka.” Jawabku memanja. “Ya tapi kamu anget begini, yuk ke dokter. Kan ada aku, ada aku yang siap membawa kabur kamu kalo mau dirawat. Hahaha.” Lalu tawa kami menggelak.
            “Hmmm aku gak apa-apa kok, eh bentar ya aku ke toilet  dulu.” Kemudian aku beranjak dari kasur untuk ke toilet. Astaga! Kepala ini rasanya berat sekali, seakan semua tak mengijinkan aku berjalan sendiri, aku merasa juga ada yang menusuk-nusuk dari dalam perutku, rasanya sangat tidak enak. Kemudian semuanya gelap dan aku tak mengerti dengan semua ini.
***
            “Bunga.... Bunga.....” suara-suara itu seperti terdengar sangat indah memanggil namaku. Suara itu suara perempuan, seperti nada yang mengkhawatirkan. Apa yang terjadi? Semuanya terlihat buram. “Bunga ini aku April.” “Bunga ini aku Yulia, Bunga kamu udah sadar kan.” Aku masih setengah sadar untuk memahami mengapa begitu denganku. “Permisi ini pasien yang bernama Khaira Bunga? Saya akan memeriksanya sebentar.” Ujar sesosok pria berjaket putih. Ini rumah sakit?
            Kemudian dokter itu mengecek tekanan darahku dan melihat mataku, mulutku, dan mengecek nadiku. “Tekanan darahnya rendah, tadi kenapa?” tanyanya dengan ramah.
“Perutnya sakit, kepalanya juga pusing banget, saya gak tahu kenapa gitu. Bolak balik ke belakang terus.” Dan seterusnya aku menjelaskan, satu hal yang tak aku inginkan dari semua ini, aku tak mau mereka menahanku di sini untuk merawat lebih lanjut.
***
            Setelah melewati beberapa pemeriksaan pada akhirnya aku lolos dari penjara rumah sakit. Aku bisa kembali pulang dengan beberapa obat yang harus aku minum.
“Udah kalo besok gak bisa dateng kamu gak usah maksain yah.” Ujar April dengan penuh keibuan.
“Gak akh, apapun yang terjadi besok aku harus tetep dateng, besok itu akan jadi hari yang spesial Pril, aku kan pengen liat gimana mereka, lagipula besok aku kan jadi penanggung jawan Mas Chaerul Umam dan Mbak upi, masa kutinggal gitu aja?” aku memberontak.
“Ya tapi ini menyangkut kesehatan kamu Bung, kamu emang mau nyusahin kita semua kalo terjadi apa-apa besok sama kamu? Tadi aja kamu udah sempoyongan gitu. Gak ada, pokoknya besok kamu harus istirahat di rumah.” Jawab April dengan lebih tegas lagi.
Mendengar pernyataan April yang sangat tegas itu, aku malah merasa takut dan sedih. Seketika air mataku terjatuh, dan aku menyandar ke pelukan April. “Ya ampun Bunga, aku gak maksud marahin kamu kayak gitu kok. Maaf dong, kamu jangan nangis ya Bunga. Aku tuh Cuma gak mau kamu makin parah sakitnya. Bunga jangan nangis dong.” Aku pun masih belum mau membuka mataku, air mata ini terus mengalir dan meresap ke jaket yang kututupkan ke mata. Aku tak mengerti, iasanya aku sudah snagat terbiasa dengan ocehan April dari yang bercanda sampai yang marah sekalipun, kami pun juga pernah berantem dan aku pun pasti tetap tegar, namun kali ini mengapa aku menangis?
Memang aku merasakan ada hal lain yang membuatku menangis, selain dari nasihat April tadi. Aku sadar tentang hal itu. Aku sangat sadar sesadar-sadarnya mengapa aku menangis saat ini. Aku ingin semuanya kembali baik dan seperti sedia kala, namun kenyataannya tidak seperti yang aku bayangkan. Aku sangat menginginkan hal itu, aku sangat ingin namun bibir ini pun juga tak sanggup berbagi cerita ke April sekalipun. Air mata ini menjadi saksi bisu di depan pipiku, aku ingin kembali ke keadaan yang indah, aku, mereka, dia dan segala kesuksesan usaha kami atau segala kemaksimalan usaha kami di tengah persahabatan yang diselimuti kebahagiaan. Tapi semua itu belum kulihat. Mungkin karena semua belum ada di tempatnya masing-masing.
***
Akhirnya tiba juga hari ini, aku merasa badan ini sudah mulai bersahabat kembali. Aku, April dan Yulia bersiap untuk berangkat ke kantor. “Eh nanti aku mau beli makan dulu ya, kalian duluan aja gapapa kok.” Ujarku, berhubung ini bulan puasa aku gak enak aja sama mereka yang lagi puasa. “Ihh gapapa udah aku temenin aja.” Kata Yulia. “Aku duluan ya, soalnya mau ketemu sama bagian keuangan dulu nih, udah janji.” Lanjut April sambil buru-buru memakai roknya. “Ya udah gak apa-apa.” Jawabku.
Setelah bersiap aku dan Yulia naik mobil untuk mencari makanan terlebih dahulu. Tapi sayang seribu sayang, di sekitar sini sama sekali tak ada toko makanan ataupun restoran yang buka. Memang sih sebelumnya aku tahu di bulan Ramadhan memang jarang ada warung makan yang buka. Alhasil aku hanya membeli beberapa bungkus roti untuk mengganjal perut sebelum minum obat.
Sesampainya di kantor, aku langsung mempersiapkan berkas yang harus kubawa ke lapangan nanti. Semua berkas sudah tertata rapi sesuai dengan sutradaranya masing-masing. Aku kebagian mendampingi kelompok yang dipimpin oleh Mas Chaerul Umam dan Mbak Upi dan itu di outdoor. Sekali lagi aku pun berpikir itu adalah outdoor. Maka di sana akan terbuka sekali, mana bisa aku makan? Sedangkan aku butuh makan untuk minum obat. Sesegera mungkin aku melihat absensi data pendamping kelompok syuting yang ada di meja Mbak Andini, kulihat ada beberapa nama yang kebagian mendampingi di indoor. Ada April, Mbak Disti, Pak Andikha? Apa aku minta tukeran saja dengan April? Tapi setelah aku lihat lagi, April di outdoor lantai 16, di sana hampir tak ada ruangan make up yang lowong, lalu di mana aku makan? Kulihat lagi, Pak Andhika? Dia mendampingi di ruangan yang sebelahnya mushola, mungkin aku bisa minta tukar tempat dengan Pak Andhika.
“Pak Andhika.” Aku memanggil pria yang sedang serius memainkan komputer di meja Mas Darwin.
“Ya.” Jawabnya sangat sangat singkat.
“Bapak mau gak tukeran tempat sama saya? Saya yang di indoor, ya pak ya. Saya butuh banget ni.” Ujarku sedikit memohon.
“Emang kenapa?” ia masih saja menjawab dengan jawaban yang tak menyenangkan.
“Ya saya butuh deket mushola, ayolah please.” Aku kembali mengucapkan kata itu.
Namun apa daya? Sepertinya ia terlalu konsen dengan komputer yang sedang ia utak atik itu, sehingga aku tak diperhatikan. Tiba-tiba perutku kembali melilit sakit, memang tak sesakit yang semalam, seakan bayi yang menendang perut ibunya, saat ayahnya sedang emmarahi sang ibu. Aku berlutut di lantai, namun Pak Andhika tak melihat hal itu, ia masih terlalu sibuk dengan urusannya di sana. “Auu sssss..” aku meringis, namun semua ini harus kutahan, yang ada nanti aku malah diejek sama Pak Andhika, aku dibilang manja atau apalah.
Sempat terbesit di benakku bahwa dunia ini tak adil, mengapa aku yang sangat membutuhkan hanya seonggok ruang indoor saja susahnya seperti ini. Apakah aku salah tak memberi tahu Pak Andhika alasanku sebenarnya ingin bertukar ruangan? Tapi aku hanya malu mengatakan kalau aku sedang sakit, dan penyakitku tak enak didengar. Maka aku mengambil keputusan yang agak salah. Kulihat berkas milik Pak Andhika sedang tak dipegang olehnya, maka aku ganti berkas itu dengan berkas milikku. “Nih gantian aja susah, Pak Andhika jadi pendamping kelompok 11 dan 12, Mbak Upi dan Mas Chaerul.” Ujarku dengan nada yang ketus.
Setelah aku menukar berkas itu aku menjelaskan sedikit yang kuketahui tentang berkas itu. Lalu Pak Andhika pun mengerti dengan seadanya. Tak lama kemudian para sutradara itu pun datang. Aku agak kaget melihat mereka datang dengan. Oh tidak, pakaian mereka random. Ada yang pakai batik, ada yang pakai kaos oblong, aku tak bisa melihat mereka terlalu lama, rasanya makin mengiris hati, ada yang pakai jaket, aku tak mampu melihat semua ini. Mereka seperti bukan orang yang ingin melatih teknik menyutradarai.
Tidak berhenti sampai disitu, masalah lain pun muncul. Di indoor lantai 13 ternyata belum ada pelatihnya, aku geram melihat semua ini. Mengapa Pak Faiz dan Pak Andhika tak turun untuk menjadi salah satu pelatihnya? Atau minimal menjadi pentih cadangan. Aku tak mengerti, untuk sekadar bertanya, rasanya aku sudah muak, mereka selalu saja menjawab dengan kata-kata yang sama “tidak”. Padahal dengan mereka turun, itu bisa membuat pegawai dramaturgiland bangga memiliki mereka, sudahlah aku pun sulit untuk menerima semua ini. Kadang kala aku merasa Pak Faiz otoriter yang sangat lembut. Ia sudah memiliki keputusan untuk persoalan ini, tapi ia membuka kita untuk berbicara namun pada akhirnya itu semua seakan sebuah formalitas. Ia bisa menunjuk Mas Ivon untuk menjadi pelatih di lapangan belakang outdoor, padahal ivone juga baru magang tahun kemarin, padahal Mas Ivon juga sempat menolak beebrapa kali bahkan meragukan di saat detik-detik terahir latihan dimulai. Lalu apa masalahnya dengan ideku mengenai dresscode, katanya jajaran direktur, kepala writer dan sutradara umum, Pak Andhika sama-sama dan sejajar, apa ini yang disebut sejajar. Ya pikiran sebanyak ini hanya mampir sesaat di otakku. Semua berjalan sangat cepat dan begitu saja.
***
Rasa bersalah terus menghantuiku selama aku mendampingi kelompok yang seharusnya dipegang oleh Pak Andhika, aku merasa terlalu egois. Tapi aku juga tak mau menyusahkan mereka jika aku pingsan atau aku meraung-raung kesakitan karena telat minum obat. Aku hanya ingin semua berjalan lancar dan aku tak mau menjadi penghalang semua yang seharusnya berjalan lancar.
“Pak Andhika, aku minta maaf, sebenarnya aku sedang sakit dan aku butuh ruangan untuk makan, aklai di outdoor saya tak ada tempat untuk makan, saya sudah telat jam minum obatnya, saya Cuma mau lebih menjaga kesehatan saja. Trimakasih.” Itulah kalimat yang aku kirimkan via sms ke Pak Andhika. Menit demi menit berlalu dan akupun tak dapat balasan juga dari Pak Andhika. Ya sudah kuduga bahwa aku tak penting, aku ditambah penyakitku sama dengan sangat tidak penting.
Training pun usai, “Terimakasih ya mas.” Ujarku pada Mas Peni. “Iya sama-sama Mbak Andhika, nanti kita kontek-kontekkan lagi ya.” Jawabnya dengan senyum. Namun, apa? Mbak Anhika? “Maaf saya ini Bunga, bukan Mbak Andhika.”
“Ohh kirain ini mbak dika ya, soalnya kemarin saya ditulisnya didampingin sama mbak andhika gitu.” Jawabnya dengan agak polos.
“Iya sih saya tukeran sama Pak Andhika, dan Andhika itu laki-laki bukan perempuan.”
Apa-apaan sih ini aku pake acara dipanggil Mbak Andhika lagi aneh banget,kemudian setekah itu kami berkumpul kembali di ruang meeting untuk mengadakan evaluasi. Saat aku akan memasuki ruang meeting bersama April, kami berpapasan dengan Pak Andhika, April menegurnya sambil senyum sedangkan aku hanya melihatnya dengan wajah datar. Aku tak tahu apa yang ada dalam pikiranku, terlebih lagi pikirannya. Ia pergi, berarti ia tak ikut evaluasi.
Di ruangan meeting sudah berkumpul para pendamping beserta berkas yang siap untuk dievaluasi. Aku sebetulnya tak begitu tertarik dengan evaluasi kali ini. Maka jalannya evaluasi terasa biasa dan berjalan begitu saja. Hingga pada saatnya Pak Andhika datang memasuki ruangan saat evaluasi telah usai.
“Khaira....” ia memanggilku, ya ia memanggil namaku.
“Ya Pak?” jawabku ogah-ogahan.
“Kamu pulang kampung kapan?” tanyanya dengan gaya cool. Jujur aku tak suka, aku belum menemukan the best Mr Andhika, ini seperti ia yang dahulu, yang belum mengalami masa peralihan, yang jika berpapasan buang muka, yang memimpin rapat semuanya sendiri, yang memutuskan suatu putusan tanpa melihat kanan kiri, yang tak ramah, mungkin the best Mr Andhika belum juga kembali dan masih tertinggal di Paris.
“Bisa kapan aja, sesuka hati saya.” Jawabanku mulai ngelantur.
“Jadi gini, sekolah iklan bali mau ngadain kunjungan kesini. Ya pasti lihat-lihat di sini udah ada apa aja, programnya. Kan waktu itu katanya kamu mau bikin iklan dalam perusahaan. Hmmm.”
Ini merupakan sebuah teguran keras. Apa yang selama ini aku lakukan. Rasanya hati ini bagai dipukul oleh besi yang sangat besar.
“Oh iya yaaa.” Mukaku memerah saat aku memberi respon.
“Tapi sampe sekarang gak ada kan.” Oke kali ini aku kalah telak.
Program iklan adalah tanggung jawabku di samping memegang peran kepala penulis di kantor ini. Aku ingat dulu aku begitu banyak mencanangkan program iklan untuk perusahaan ini, tapi hingga detik ini tak satupun aku kerjakan. Sungguh aku malu.
“Mau membela diri apa lagi?” tantangnya.
“Saya lupa, jujur saya lupa.” Aku pun mulai menyerah pada keadaan.
“Halaaah alasan.” Katanya dengan nada makin sombong dan sinis.
Apa yang terjadi pada detik ini, bahkan alasan “saya lupa” pun dibilang “alasan” ini serasa tak masuk akal, kecuali kalau aku berkata “saya sibuk sekolah tv” itu baru aku pantas dituduh dengan kalimat “halaah alasan”. Aku tak terima dengan semua ini, tapi aku juga terlalu bersalah untuk membela diri.
“Harusnya, jangan Cuma aku yang diajak dan diandalkan, kan masih ada Mbak Rahma dan Mbak Rina. Itu pembelaan saya.” Ujarku sangat datar.
“Ya soalnya kan waktu awal-awal kamu yang paling semangat.” Jawabnya hampir membuang muka. Rasanya ini bagai pukulan keras bagiku. Aku seakan tak bisa mempertanggungjwabkan semangatku. Aku ini bodoh sekali. Sungguh aku lalai dengan segala tanggung jawab yang dilimpahkan padaku, aku menyesal dengan keadaan ini. Apa yang harus aku lakukan? Aku mengecewakan Pak Andhika, aku membuat semuanya tersendat dengan kelalaianku.
***
Acara latihan penyutradaraan ditutup dengan buka puasa bersama. Aku sungguh tak sanggup sore itu melihat sosok Pak Andhika. Aku sama sekali tak mengenalnya. Karena memang saat dulu ia dalam keadaan yang kurang baik, aku memang memilih untuk sama sekali tidak ingin mengenalnya, mencoba untuk memilih jalan membencinya atau bahkan aku memilih untuk takut padanya dan menghindar dari segala urusan dengannya. Kemudian tahun ke depan ia berubah menjadi sangat bersahabat, memiliki kuping yang besar, mata yang lebar, logika yang apik membuatku merasa menjadi rekan paling cocok dengannya, ketimbang Pak Faiz atasanku sendiri yang langsung berdampingan denganku. Berulang kali pikiranku jadi tak sejalan dengan Pak Faiz karena aku merasa jalan pikiran Pak Andhika lebih sehat dan rasional. Tapi malam ini, semua itu seperti terbunuh dan ia kembali ke masa lalu.
Maafkan aku jika aku sungguh tak bisa mengenalmu, dan aku hanya bisa memanggilmu dari jauh. “Pak Andhika!!!! Dimana kamu berada, aku sangat ingin dan butuh kau yang terbaik setelah mengalami perubahan dari masa silam ke kebaikan yang membawa kebahagiaan. Dimana kamu ada sekarang? Apa kamu meninggalkan semuanya di Paris? Apa itu benar?” dan semua itu hanyalah teriakan hati yang terdalam.
“Ibu-ibu dasar sukanya ngerumpi mulu, disuruh solat aja susah banget.” Aku mendengar gerutuan itu dari bibirnya, tak perlu berkata seperti itu bukan? Cukup berkata lewat saya maka saya bisa tangani semua, semoga. Tiada kepercayaan lagi di dadanya, mungkin karena memang aku yang mengkhianatinya terlebih dahulu. Tapi apakah aku tak bisa dimaafkan? Aku akan berubah lebih tanggap lagi.
“Khaira, Mbak Sari mana?” tanya Pak Andhika seakan yang ia butuh hanya Mbak Sari.
“Gak tau pak.”aku lemah menjawabnya, sangat lemah, seakan pita suaraku sudah mau putus saat memanggilnya dari jauh, dari jauh lubuk hatiku. “aku ingin kamu kembali terbaik.”
Mereka semua berbincang membicarakan tentang launching film yang disutradari oleh Mbak Nur. Aku hanya terdiam, aku ingin pulang malam ini, pulang jauh bertemu orang tuaku, aku ingin menenangkan diri, aku tak mau bertemu dulu dengan segala pekerjaan yang tak bisa membuka mata. Aku ingin pulang. Saat itu aku sudah membawa perlengkapan untuk pulang. Malam, aku tak peduli jam berapa malam aku sampai di rumah mama, yang penting aku ingin pulang. Biarkan saja aku terlihat tak gaul karena tak ikut premiere film perdana Mbak Nur. Jujur aku hampir tak kuat dengan perlakukan seperti ini. Aku terbiasa bekerja dengan segala fasilitas yang disediakan dari sebuah perbaikan diri seoranmng andhika, maafkan aku jika aku masih terlalu labil dengan umur 25 ini.
Tapi kalian jangan khawatir, aku akan selalu mencoba ekuat tenaga membangun perusahaan media ini menjadi lebih baik, apapun sifat kalian dan apapun medan nya. Aku masih setia. “Khaira, besok kamu ikut gak?” Pak Andhika memecah lamunanku.
“Gak tahu pak, saya gak bisa jawab.”
“Yaah kok gak ikut sih, gimana sih? Ikut dong, sekalian kita ngobrol-ngobrol. Tentang iklan terbaru.” Jawabnya dengan setengah berbisik. Aku tak tahu apa yang hatiku lakukan. Rasanya berat-berat saja aku membawa laptop dan chargernya, ponsel dan chargernya, aku tak akan jadi pulang malam ini.
Apakah kamu mendengar panggilanku yang dari jauh itu pak?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar