Alone Nada Alona
Ruangan ini cukup luas untuk menampung semua hujan dan pelangi di hariku. Rumah ini seakan menjadi peneduh yang cukup padat untuk memeluk perasaanku. Aku duduk di rumah ini, rumah hasil jeripayah aku bekerja, hasil jeripayah aku belajar menjadi manusia yang lebih maksimal lagi. Rumah ini senantiasa memelukku ketika aku senang begitu juga ketika aku terjatuh. Namun kadang kala aku terjatuh atau merasa terjatuh, aku tak ingin mengakuinya aku sedang merasakannya. Itu hanya perasaan yang semu, aku hanya sedikit menginjak kerikil yang sengaja mungkin kuinjak.
Dalam pelukan kehangatan bangunan semen ini, aku bercerita tentang warna hari. Seperti rasa hati kemarin, aku menganggap bahwa Pak Andhika mendengar panggilanku dari jauh, jauh di dalam benakku yang tak bisa dilihat siapapun kecuali Tuhan. Kemudian aku memutuskan untuk tidak pulang malam itu dan memilih tetap tinggal dan menghadiri premiere film yang disutradarai oleh Mbak Nur, berjudul “pantai wisudawan”. Dengan janji atau pun kalimat yang tak bisa dikatakan sebagai sebuah janji juga, atau bisa disebut dengan rayuan, iming-iming dan segala macam kategorinya. Pria yang lebih pendek dari pada aku itu katanya, yang katanya kalau ikut premiere film “pantai wisudawan” aku dan dia dan siapa lagi aku pasti terima akan sambil membicarakan tentang iklan. Karena besok juga setelah malam ini katanya akan ada kunjungan. Perfilman Indonesia seperti menjadi sel darah bagiku maka itu yang membuat aku tinggal.
Pagi itu aku bersiap-siap untuk pergi bersama rekan-rekan kerja yang lain. “Yulia tunggu aku ya, macet ni jalanannya.” Kataku lewat sms. Dan ternyata Yulia juga masih terjebak macet. Kami berjanjian di sebuah perumahan untuk jalan bersama, karena kebanyakan dari kami belum tahu studio yang dipakai untuk pemutaran film perdana ini.
Sesampainya aku di tempat janjian, aku melihat mobil Yulia dan mobil April sudah ada di sana. Aku tak melihat ada mobil Pak Andhika. “Baru kalian aja yang dateng?” tanyaku dengan meragu. “Pak Andhika udah dateng kok, tapi dia gak bawa mobil.” Jawab yulia. “Terus dia naik apa?” tanyaku. “Nanti mobilnya dianterin sama supirnya kan abis dari bengkel.” Lalu tak lama kemudian aku melihat Pak Andhika yang jalan mendekati kami. Wajahnya merengut, aku memang tak mengenal dia dengan baik sekali, aku memang tak lebih lama mengenal dia dibanding Pak Faiz yang pernah tinggal satu apartment dengannya, aku memang hanya pegawai baru yang dapat rejeki menjadi kepala writer di dramaturgiland. Tapi aku juga bisa membedakan mana muka ceria dan muka suntuk. Aku punya mata dan aku punya hati, modalku selama ini.
“Baru segini, yaudah yuk berangkat aja,” sapanya dengan seadanya.
“Kan Pak Faiz belum, Silla juga belom dateng.”
“Pak Faiz katanya belakangan masih ada meeting sama bagian produksi.” Jawabnya masih seadanya.
“Terus Silla gimana?” tanya Yulia dengan gayanya yang polos. Namun Pak Andhika hanya terdiam dan kembali berjalan menjauhi kami.
“Aduh aku lagi nunggu orang nih. Lama banget lagi.” Ujar April memecah suasana.
“Nunggu siapa sih Pril?” tanyaku
“Ahh kamu keppo ya. Hahahaa.” Jawab April bercanda.
“Hahaha yaudah kalo gak mau ngasih tahu.” Aku pun ikut bercanda juga untuk sedikit membalut lukaku atas kenyataan pagi ini.
“Ini loh berkas-berkas pelatihan buat Mbak Ririn. Katanya tadi dia udah on the way ke sini.”
“Eh ngomong-ngomong soal pelatihan kemarin aku smsan loh sama dokter Hudan. Dia baik banget, udah dokter, pinter jadi sutradara kayaknya pas banget ya kalau jadi kepala sutradara hahaha, kan kalau krunya sakit bisa langsung diatasin. Terus dia kayak bisa misahin gitu gimana komunikasi sama orang film sama pas jadi dokter, kemarin sempet nanya-nanya juga sih tentang sakit aku.” Ujarku dengan senyum yang gemilang. Dan tanpa kusadari ternyata saat aku berbicara seperti itu Pak Andhika sedang melintas di belakangku. Kukira tadi dia sudah menjauh, ternyata balik lagi.
Wajahnya makin merengut, semakin tak enak untuk dilihat, maksudku semakin tak enak untuk berada satu tempat dengan orang yang memiliki aura seperti itu. Apa yang terjadi aku tak mau menebak, Pak Andhika mungkin memang belum dan tak akan pernah mendengar panggilanku yang dari jauh itu, tak akan pernah. Analisa singkatku, mana mungkin dalam keadaan yang buruk seperti ini ia bisa memulai sebuah perbincangan tentang iklan yang menguras kreativitas, tentunya dari jiwa yang sehat dan semangat. Aku mulai mengubur mimpiku atas rayuannya. Aku tulus di sini untuk menyelamati Mbak Nur yang pertama kali membuat film.
“Udah jam berapa ini, udah ya saya duluan aja. Tu mobil saya udah dateng.” Katanya dengan nada sinis kemudian pergi menghampiri mobilnya. Mobil warna hitam mewah itu seakan memang benar-benar akan membawanya pergi. Yulia pun sedikit berteriak untuk menanyakan sesuatu pada Pak Andhika, “Pak Faiz gimana? Silla belum dateng.” Kemudian April bergumam, “Kalo aku gak nungguin orang aku juga mau duluan sih.” Tapi seakan tak memiliki telinga Pak Andhika tetap berjalan begitu saja lalu memasuki mobil.
“Isssh gitu banget apaan sih.” Yulia kesal sambil memonyongkan bibirnya. “Kan aku mau bareng Pak Faiz biar ada direktur gitu.kok dia kayak marah gitu sih” Lanjutnya. “Ohh mungkin Pak Andhika gak enak kali cowok sendiri hehehe. Eh tapi kalo alasan itu kenapa gak di sini aja ya nungguin pak Faiz.” April mulai menganalisa. Aku geram melihat semua ini, Pak Andhika yang berubah, Yulia yang membela Pak Faiz, April yang masih ada urusan lain dan aku yang gamang.
“Kalian tahu kan kalau Pak Andhika itu selalu pake logika, pake logika kalian juga dong. Dia gak marah, coba deh pikir filmnya Mbak Nur tuh booming banget, dan banyak yang mau nonton. Pasti di sana bakalan macet, ada wartawan, ada para artis, fans-fansnya Mbak Nur, dan macem-macem kita juga bawa mobil kan. Mungkin Pak Andhika gak mau aja kalau udah sampe sana, filmnya udah selesai atau gak sempet ketemu Mbak Nur karena dia keburu ada agenda lain, namanya juga film perdana.kalian ngerti kan?” aku pun mencoba untuk memberi pengertian kepada sahabat-sahabatku itu. Ya di samping memberi pengertian, sebenarnya aku juga tak mau kalau Pak Andhika kembali dicap sebagai bos yang galak. Pak Andhika itu baik, tapi kenapa sekarang begini, aku selalu berusaha untuk memandang semuanya menjadi lebih indah, walaupun pada kenyataannya, aku juga sedih melihat pemandangan yang tak elok ini.
Setelah beberapa menit mobil Pak andhika juga belum jalan karena supirnya juga masih sedikit mengecek mesin. Kemudian Silla datang dan kami pun bersiap untuk pergi ke studio pemutaran film.
***
Sesampainya di sana, aku melihat Pak Andhika langsung turun dari mobilnya lengkap dengan kaca mata hitamnya. Ia berjalan lurus dan menolak para wartawan yang ingin mewawancarainya. Kemudian ia memasuki toko bunga terkenal yang ada di sekitar studio. Ia membeli beberapa ikat bunga, ya itu pasti untuk diberikan kepada Mbak Nur. Sepanjang jalan ia hanya terdiam, menunjukan wajah masa lalu, wajah dimana saat itu bahkan aku pun tak peduli ada atau tidaknya seorang Andhika.
Pikiran ini mulai melayang. Aku sebagai seorang penulis selalu membiarkan pikiran ini jauh terbang ke angkasa. Kadang aku berpikir, jika nanti film perdanaku yang berjudul “My Little Prince” sudah tayang, apakah Pak Andhika akan bergegeas se-semangat ini untuk membelikan bunga untukku? Apa nanti pihak dramaturgiland akan punya waktu untuk hadir di pemutaran film perdanaku, atau jangan-jangan nanti mereka sedang mengurusi projek lain. Atau jangan-jangan bulan depan aku akan bertemu sutradara yang sedang launching film, tapi ia sendiri dan hanya pihak keluarga yang mensupport, dan aku pasti akan mencintai pangeran yang tampak menderita itu, dan aku akan membahagiakannya sampai maut memisahkan.
Aduh !!!!! Khaira Bunga, please memangnya ini dunia dongeng apa? Lalu aku kembali ke dunia nyata, kulihat Pak Andhika sudah jalan terlebih dahulu ke depan seakan tak mau ketinggalan dalam memberikan ucapan selamat kepada Mbak Nur. Kami bahkan sempat berpisah jalan. Aku dan rombongan April ke bilik kiri. Dan aku hanya terdiam mengikuti jalannya mereka. Aku tak tahu harus bagaimana? Pak Andhika berdiri di tengah kerumunan orang-orang penting di ruang VIP, berbincang asik dengan mereka, raut wajahnya juga agak berubah menjadi cair. Apa Pak Andhika sekarang lebih cocok dengan mereka? Dan aku hanyalah sedang menunggu waktu untuk dibuang dari jajaran direksi? Lalu apa arti dari pekerjaan yang aku lakukan selama ini? Aku tahu aku salah telah lalai dalam pembuatan iklan itu. Pantaskah aku dihukum seperti ini? Pantas memang, tapi kenapa harus hukuman tarik ulur perasaan, bersilat lidah, bisikan semu? Kenapa? Kenapa aku tak disuruh membuat 100 iklan dalam semalam? Tapi aku akan selalu tetap menjaga hati ini agar aku bisa terus mendampingi dan bekerja saat kau nanti kembali.
Rasanya aku tak bisa mengingat, aku tak mampu untuk mengingat semua kejadian malam itu. Sungguh itu sangat merangsang air mataku untuk jatuh berderai berai, dan aku tak mau itu terjadi. “Yaah kok gak ikut sih, gimana sih? Ikut dong, sekalian kita ngobrol-ngobrol. Tentang iklan terbaru.” Jawabnya dengan setengah berbisik. --------------“Yaah kok gak ikut sih, gimana sih? Ikut dong, sekalian kita ngobrol-ngobrol. Tentang iklan terbaru.” Jawabnya dengan setengah berbisik.------------- “Yaah kok gak ikut sih, gimana sih? Ikut dong, sekalian kita ngobrol-ngobrol. Tentang iklan terbaru.” Jawabnya dengan setengah berbisik.------------------- “Yaah kok gak ikut sih, gimana sih? Ikut dong, sekalian kita ngobrol-ngobrol. Tentang iklan terbaru.” Jawabnya dengan setengah berbisik.Tidaaaaak!!! Aku ingin menutup telinga pikiranku jika kalimat itu datang. Tolong hapus itu semua dari otakku, itu kan hanya akal-akalan Pak Andhika saja untuk mengelabui seorang Khaira Bunga yang dipandang gampang untuk dirayu dengan sebuah meeting, konsep acara atau berbagai urusan kerja. Aku sekarang sadar untuk apa aku ada di sini? Ya aku memang ingin bertemu Mbak Nur memberi ucapan selamat dan memeluknya agar aku tertular bisa membuat film. Tapi terlepas dari itu, seharusnya aku sudah ada di rumah dan bisa menenangkan diri.
Dulu aku juga pernah kok masuk ke ruangan VIP macam itu dan berbincang sesama penulis. Kami bisa sambil berdiri dan minum-minum membicarakan sebuah buku, atau rencana apapun. Tapi Pak Andhika? Ia malah pergi, seakan ingin menemukan Mbak Nur pertama kali, bukankah seharusnya ia bisa membicarakannya sambil berjalan bersama kawanan kami? Jika memang ini rahasia, maka tak usah lah pak anda merayu saya dan membisikkan kalimat semu semacam ini.
Aku makin terdiam sambil berjalan gontai mengikuti kawanan April. Pak Andhika ini macam mau memberi kejutan lamaran saja. Sudahlah ! aku kembali sedikit demi sedikit memulihkan perasaan ini. Mungkin memang iklan adalah hal yang penting jadi tidak bisa dibicarakan sembarangan. Oke fine -__-“
“Bung, kata Pak Andhika dia minta dismsin kalau ketemu sama Mbak Nur duluan.” Ujar April memecah lamunanku. Pak Andhika sms April, kucek hpku tak ada sms dari siapapun. Sebegitu mengecewakannya aku di mata dia. Ya aku tahu ini tugas penting. Baiklah mungkin hari ini aku sedang dihukum.
***
Semua kediaman Pak Andhika tetap abadi di studio itu. Hingga kami beranjak untuk pulang. Kami pulang naik bis khusus karena akan dibawa ke pers confference Mbak Nur. Kami menaiki mobil khusus bergaya bis namun agak elegant. Aku naik setelah semuanya naik dan ternyata aku melihat Pak Faiz duduk bersebalahan dengan Silla, dan Pak Andhika dengan Mirna. Apa-apaan ini? Ups mungkin aku salah. Lalu pikiranku melayang jauh ke belakang saat masih ditraining di dramaturgiland bersama Aldino.
Saat itu kami menaiki bis besar untuk menuju lokasi syuting pertama. Aku naik bis dan semua sudah duduk dengan pasangannya masing-masing. Yang tersisa hanyalah bangku Arif sendirian dan satu bangku kosong. Aku memilih untuk duduk di debelah Arif. Rasanya memang gak enak sih duduk di sebelah laki-laki, tapi kalau aku duduk sendiri nanti malah makin ansos aja.
Tak lama kemudian kursi kosong itu diduduki oleh seorang perempuan, aku tadinya mau pindah tapi aku tak enak meninggalkan Arif. Lalu kursi terahir pun diisi oleh Aldino. Aku melihat raut wajahnya yang ragu-ragu untuk duduk di sebelah wanita. Ya aku sangat mengenal Aldino, dia adalah teman saat aku kuliah. Bis berjalan, gelagat tak nyaman Aldino makin terlihat jelas. “Bunga, tukeran dong, kamu sini.” Katanya tiba-tiba. “Iyaaa.” Jawabku dengan senyum penuh pengertian. Tentu saja aku mengerti apa yang dirasakan oleh Aldino. Lalu kami pun bertukeran, maka jadilah aku di sebelah wanita itu dan kami berkenalan.
Tapi rasanya hal itu tak akan terjadi pada Pak Faiz atau pun Pak Andhika. Kesal sih tidak tapi aku hanya ingin semua punya prinsip saja. Aldino yang pegawai kacangan saja bisa bertindak tegas, lalu mereka yang jajaran direksi? Aku tak mau melanjutkan pertanyaanku, karena hanya hati hati mereka yang bisa menjawab.
****
Kami kembali sampai di kantor setelah aktivitas seharian. Lalu mereka berjalan menuju arah masing-masing? Ini pulang? Fix tak ada pembicaraan apapun antara aku dan dia.
“Yaah kok gak ikut sih, gimana sih? Ikut dong, sekalian kita ngobrol-ngobrol. Tentang iklan terbaru.” Jawabnya dengan setengah berbisik.-------------- “Yaah kok gak ikut sih, gimana sih? Ikut dong, sekalian kita ngobrol-ngobrol. Tentang iklan terbaru.” Jawabnya dengan setengah berbisik.------------------------------- “Yaah kok gak ikut sih, gimana sih? Ikut dong, sekalian kita ngobrol-ngobrol. Tentang iklan terbaru.” Jawabnya dengan setengah berbisik.------------------------------- “Yaah kok gak ikut sih, gimana sih? Ikut dong, sekalian kita ngobrol-ngobrol. Tentang iklan terbaru.” Jawabnya dengan setengah berbisik.
Aku sekarang tak mau lagi melawan pikiranku, sungguh aku tak mau ! biarkan saja ia mengingat semua perkataan rayuan semu itu, biarkan saja. Ia bagaikan sebuah ikan, yang kadang menggemuk kadang duri saja. Ikan indah yang selalu ingin kuelus. Saat ia menjadi duri aku tetap mengelusnya, namun setiap kali sentuhan itu kujatuhkan maka saat itu juga tanganku pasti berdarah.
Entah dasar apa ia mengatakan hal itu semalam, tak tahu aku. Apakah ia hanya ingin mencegahku pulang malam? Atau ia punya indera keenam kalau aku pulang kemarin malam aku akan dibunuh, atau ia hanya ingin melihatku ada di studio itu, atau dia sedang mabuk.
Dalam menulis cerita bodoh ini, air mata itu mengering, mungkin mataku saja tahu kalau pak andhika gak suka lihat aku menangis, makanya dia aja takut untuk keluar dari mataku. Tapi air mata itu milikku, milik bunga maka air mata itu akan sama beraninya denganku. Ia bisa keluar juga walau sedikit sedikit. Bunga yang berani memaksa untuk ia tampil di presentasi, walau gagal, bunga yang berani mengajukan berbagai konsep walau ditolak, bunga yang mengaku lalai dan ingin memperbaiki walau didiamkan.
Ini hal sepele, tapi seharusnya sekarang aku sudah ada di rumah, bertemu dengan adikku, bertemu dengan kedua super heroku ummi dan ayah. Tapi semua aku relakan dan aku lebih memilih untuk tinggal karena aku ingin tahu, karena aku ingin memperbaiki kesalahanku, aku mau mendengar konsep dengan baik agar bisa melaksanakannya dengan baik pula. Seharusnya aku gak melihat wajah itu, seharusnya aku tak mau diperdaya oleh kalimat-kalimat dan segala kelembutan yang kau tawarkan. Seharusnya aku tetap menjadi Bunga yang nekat kalau mau pulang ya pulang. Bunga-bunga, Cuma dengan kalimat segitu aja kok kamu bisa kepancing membatalkan kepulanganmu sih. Membatalkan janjimu 2 minggu yang lalu saat akan bertolak ke dramaturgiland saat hari libur???
***
KRIIIINGGGGGG !!!!!
“Halo Pak Faiz ada apa pak ??”
“Bukan ini Mas Lisu. Kamu lagi dimana Bung?”
“Di rumah aja, kenapa mas?”
“Kamu bisa ke Cafe Mortana gak sekarang? Rapat mendadak nih buat kunjungan panti asuhan yang lusa itu loh.”
“Ohhh hmmm yaudah 10 menit lagi aku sampe sana. Makasih ya mas Lisu yaaa.”
Kemudian aku menaiki mobilku untuk segera meluncur ke cafe Mortana. Rapat apapun, konsep apapun, kekecewaan hanyalah meninggalkan luka, masih banyak acara yang butuh tenaga saya, pinggirkan saja Pak Andhika, jika ia kembali semangat ini masih terbuka J
Tidak ada komentar:
Posting Komentar