Rabu, 08 Agustus 2012

perisai panggilan

Perisai Panggilan
            Kuterbangun dari mimpiku, entah mimpi apa itu tak jelas. Yang jelas hari ini aku menunggu sebuah sms atau sebuah telepon atau apapun yang menunjukkan berita tentang kunjungan sekolah iklan ke dramaturgiland. Tadinya aku mau mengsms Pak Andhika terlebih dahulu, ah tapi rasanya dia sudah cukup dewasa dan tak perlu diingatkan lagi. Jam masih menunjukkan pukul 8 pagi, rasanya aku masih mengantuk kembali kubenamkan tubuh ini di balik kehangatan kantuk.
***

            Aku terbangun untuk yang kedua kalinya. Kulihat hp, dan di sana sama sekali tak ada sms dari siapapun yang ada hanya beberapa bbm dari teman lamaku. Rasanya tak mungkin kalau Pak Andhika salah satu orang yang meng-bbm aku, dia kan tidak pakai bb. Baiklah. Jam menunjukan pukul 10. Aku mulai bertanya-tanya, apakah benar hari ini akan ada kunjungan dari sekolah itu? Geregetan, maka aku mencoba untuk sms Pak Andhika.
“Pak hari ini jadi kunjungan?” lalu tak lama kemudian ada balasan.
“Kunjungan apa?” Pak Andhika ini hilang ingatan, mabok kecap apa kenapa sih? Sabar Bunga, bos kamu yang satu ini kan memang agak spesial.
“Kata bapak kemarin, hari ini akan ada kunjungan dari sekolah iklan.”
“Ohh itu, pihak sekolahnya belum follow up saya lagi. Dan mereka gak ada kabar.”
Aku tertegun membaca sms itu. Apa-apaan ini? Aku merasa seperti boneka, lucu, cantik, mulus, dengan rambut yang indah, tubuh yang elok tapi tak bisa berbuat apa-apa, dan hanya diperdaya oleh seorang pemain. Sungguh ini membuatku tak bisa berkata-kata, siang ini bahkan aku menemukan rumus baru :
Tak ada pembicaraan iklan di hari selasa + tak ada kunjungan di hari rabu = seharusnya aku bisa pulang ke rumah !!
            Tapi ya sudah lah, memangnya aku ini siapa mau membolak balik waktu, toh juga semuanya sudah terjadi dan sekarang sudah ada di hari rabu, aku mau apalagi? Yang aku bisa hanya menulis. Tak tahu lagi harus bagaimana, aku masih terdiam terpaku memandang jauh ke depan entah kemana. Ingin menangis rasanya tak berguna, toh juga air mata ini takut keluar, takut dimarahi Pak Andhika. Penyesalan memang selalu datang belakangan, kenapa juga aku tak senekat Khaira Bunga yang dulu? Kenapa juga aku musti termakan kalimatnya Andhika ? rasanya takkan pernah habis kalau ingatan ini mengingat kemabali ke belakang tentang kejadian malam itu. Bisikan semu.
***
            Sore ini aku dan rekan-rekan lainnya akan kembali rapat untuk merumuskan kunjungan ke panti asuhan ibu sunda. Sebelum aku menuju lokasi rapat, terlebih dahulu aku, April dan Yulia membeli keperluan untuk disumbangkan nanti. “Eh kita tuh musti beli apa aja sih?” tanya Yulia. “Bagian kita beli susu, bentar aku mau cari susu yang harganya rada murah.” Kemudian aku berkeliling supermarket.
            “Eh liat deh, ini harganya miring banget, tumben-tumbenan yah merk yang ini murah loh, ini kan produknya bagus. Kita beli susu yang ini aja yah. Eh tapi..............” kemudian aku membaca tulisan kecil yang ada di bawah harga susu. Max 5 pack untuk satu konsumen. Sepertinya aku ada ide.
            “Yul, April! Sini dulu, gue punya ide bagus nih.” Kemudian aku membisikkan mereka bertiga tentang rencanaku. Mereka nantinya masing-masing akan mengambil kernjang, dan diisi dengan 5 susu itu, nah jadi deh dapet 15 susu, dengan 1 kebutuhan yang sama. Coba kalau Pak Andhika atau siapa gitu ada, kita kan pasti bisa dapat susu lebih banyak, merk ternama dengan harga miring.
            Selesai belanja, kami langsung meluncur ke lokasi rapat. Dan di sana sudah banyak sekali barang-barang yang akan disumbangkan ke panti asuhan ibu sunda. Rapat pun dimulai. Yang datang seperti biasa, kalau acara sosial di dramaturgiland ya lumayan lah yang datang. Aku, April, Yulia, Pak Faiz, Zaky, Mas Rohman, Mas Lisu sebagai koord nya, Mbak Indah, Mbak Rina dan dimana Pak Andhika? Padahal aku berharap sekali dia datang, ya mungkin saja kalau dia ada, aku sudah bisa melihat The best mr Andhika, yang kutunggu-tunggu kembali itu, yang aku memanggilnya dari jauh.
            Rapat dibuka oleh Mas Lisu, kemudian dari kami memberikan masukan apa-apa saja yang akan diadakan besok untuk bakti sosial. Sebenarnya konsepnya sudah matang kita akan mengadakan outbond dan games-games, ya sekarang tinggal pemantapan aja. Di tengah-tengah rapat ponselku berbunyi, ternyata ada sms dan ini dari Pak Andhika.
“Khaira, jadi rapat kah?”
“Jadi Pak, bapak dimana?”
“Ya lagi di jalan.”
            Aku kembali menutup hpku dan fokus rapat. Ternyata Pak Faiz tak bisa mengikuti rapat sampai selesai, karena beliau harus menghadiri rapat yang lain.
“Bunga, nanti bantu Mas Lisu ya.” Pesannya.
 “Siap pak.”
 “Oh ya Pak Andhika dimana ya? Dateng gak dia?” lanjut Pak Faiz bertanya.
“Lagi on the way Pak Andhikanya.”
“Ok sip, duluan ya. Eh jangan lupa besok juga ada acara peduli sekolah film di Nias. Ikut tuh ya”
Aku hanya terdiam.
Setelah melanjutkan sedikit perbincangan, Pak Andhika datang dan duduk di sebelah Mas Rohman. Tak tahu mengapa rasanya hati ini agak kering entah aku pun tak mengerti. Kehadiran Pak Andhika justru membuatku makin bingung harus melakukan apa. Rasanya gamang, campur asem tapi ada manis strawberry yang emmang manisnya gak benar-benar manis. Dinginnya sikap Pak Andhika membuatku semakin kering di sini, membuatku semakin penasaran, The best mr Andhika apakah ketinggalan di Paris, sehingga yang pulang adalah seperti ini. Sesekali ia mengeluarkan kata-kata, dan aku mencoba untuk tenang, menyambungkan apa yang ia katakan dengan apa yang memang, aku setuju dengan kata-katanya.
“Kita mau mulai acara jam berapa ni, tadi pak Faiz pesen, kita harus ikutan acara peduli sekolah film Nias. Sebenernya acara itu wajib gak sih? Aku masih bingung.” Kataku mulai membuka diskusi tentang peduli sekolah Nias.
“Ya kalau menurut saya sih, kalau acaranya gak wajib ya gak usah datang. Kita fokus dulu di acara kita ini. Biar maksimal.” Komentar Pak Andhika.
“Iya, kita kan udah rencanain baksos ini dari jauh-jauh hari, dan menurut aku acara peduli sekolah film itu, ya maksudnya kita tetep bisa berkontribusi kok dalam kegiatan itu, walaupun besok kita gak dateng, itu kan bukan event jatohnya. Ya kan.”
Aku tak mengerti ini sebuah pembelaan untuk Pak Andhika atau memang aku mau benar-benar fokus dan malas ke acara itu ya? Tapi aku pikir, kita memang tetap bisa berkontribusi  di sana, misalnya menyumbangkan buku-buku, uang, kalau aku dikirim kesana untuk pelatihan menulis juga bisa. Ya ini adalah pemikiranku ekebtulan saja sama dengan Pak Andhika. Mungkin panggilanku sudah mulai terdengar, semoga saja. Karena sejauh rapat-rapat ke belakang, aku hampir tidak pernah mengalami kesulitan dengan yang namanya menyambung pikiran dengan Pak Andhika. Berbeda seperti yang lain, ada yang bialng gak habis pikir lah dengan jalan pikiran pak Andhika, ada yang bilang gak nyambung dan lain-lain.
Pak Andhika tuh rasional, tegas dan logic. Aku sendiri adalah perasaan, hati dan impian, jauh berbeda sesungguhnya. Tapi entah kenapa, penjelasan-penjelasan Pak Andhika yang smart dan elegant membuat aku bisa menerima setiap perkataan yang ia terangkan, tidak seperti yang lain. Contohnya kali ini. Pak Andhika itu beda sama Pak Faiz, tapi mereka sama-sama cerdas. Aku senang punya 2 bos yang sangat inspiratif, membangun dan berkarakter. Semoga ini adalah tanda-tanda dimana Pak Andhika, welcome back, aku lama menunggu kamu di sini.
Rapat kembali berjalan. Ide-ide entah dari mana malah berkeluaran, duh tak ingatkah mereka tentang meeting kemarin, bukankah kita sudah menyepakati apa saja barang yang akan disumbangkan, ini kok malah ide, “Harusnya ada mainan yang buat kita sumbangin.” Ujar Pak Andhika, aduh apalagi ini.
“Besok siapa aja sih yang bisa dateng, Mbak Bunga smsin sekarang aja.”
“Iya ini aku smsin kok.”
Aku pun menyebarkan sms itu termasuk ke Pak Andhika. Dia pun membalasnya. “Gak mau ah.” Aku tertawa dalam hati, ia pasti bercanda. Apakah ini tandanya dia sudah meulai mendengar panggilanku, yang mendera semakin hari makin kencang. Semoga saja. “Bapak kenapa sih gak bisa dateng?” tanyaku. Aku yakin dia pasti Cuma bercanda.
“Aku mau ke Bandung.” Jawabnya lewat sms. Tutur katanya mulai lembut, dia pasti sudah kembali. Oh Tuhan aku bahagia sekali, mungkin ini adalah jawaban mengapa aku harus stay di sini, ternyata dia kembali hari ini. Namun di tengah kami yang bersmsan, para lelaki malah rempot mencari kardus warna warni untuk pengemasan hadiah. Aku ikut pusing setahuku itu mudah, ada di toko-toko terdekat.
“Ya udah, bapak bantu dong rekan yang lain, mereka lagi pusing tuh nyari kardus.”
“Kata kamu dapetinnya gampang, yaudah.” Loh kok begini. Baru sedetik yang lalu aku senang Pak Andhika kembali lagi ke Indonesia, tapi sekarang udah ngeselin lagi.
“Ya rangkul dong pak rekan-rekannya.” Aku kesal.
“Iyaaa, mau gimana sih kamu?”
“Ya habis mereka ribet banget, aku Cuma butuh cepat, bapak bantu doong ngoordinir mereka, sebagai ganti bapak besok gak bisa hadir.” Aku pun agak gak enak merintah bos kayak gini. Tapi rasanya aku muak dengan segala yang ada. Dia yang berubah, maka otomatis aku juga bisa berubah.
“Kamu cukup percaya kalau mereka bisa.”
“Yang ada  aku percaya, kalau aku dan teman-teman bisa membuat pengemasan dalam waktu yang tak bisa ditentukan atas kerandoman kalian. Kan biar adil, biar semua kerja” Mengapa smsannya jadi marah-marahan begini. Sesak dada ini? Ya sesak memang. Entah salah siapa, selama 6 bulan terahir, aku termanja oleh tugas-tugas dari pak Andhika, kenyambungan omongan kami, kekompakan kami, ya aku memang sudah lalai. Hingga sekarang aku tak siap mental kalau harus diperlakukan seperti dulu lagi. Ingin rasanya aku tak pernah mengenal yang namanya The best Andhika. Ingin banget, aku gak tahu kalau the best andhika pernah hidup dan memimpin perusahaan ini bersama Pak Faiz. Rasanya hidupku jauh lebih tenang, saat aku tak peduli ada atau tidaknya Andhika itu. Tapi semua gak bisa semaunya.
“Adil bukan berarti sama.” Ya Tuhan balasan macam apa ini. I’m too lost in you Mr Andhika. Aku yang hanya meminta tolong sama orang yang berkuasa untuk mengoordinir anak buahnya, sebagai ganti ketidak hadiran dia besok hari. Koordini dan kehadiran. Sama saja dengan pensil baru dan jangka baru untuk porsian antara anak TK dan anak kelas 4 SD. Beda tapi adil kan. Mengapa dia bilang seperti itu??? Aku kan emminta tolong hal yang berbeda. Kalau adil itu sama maka aku akan menyuruh mereka semua untuk datang. Sabar Bunga !
Zaki dan yang lainnya datang membawa kardus warna. Jujur aku malu sendiri, jauh dari ekspektasi yang aku bayangkan, mereka pergerakannya sangat cepat. “Untung Zaky cepet.” Aku membalas smsnya. “Makanya jangan cerewet dulu.”
Tersinggung sih iya, tapi random deh. Pernah denger kalau Pak Andhika itu, prinsipnya ‘kalau butuh ya bilang. Kalau gak bilang dia gak akan gerak. Dia mau insiatif’ aku tergolong terlalu insiatif kali ya sampe merintah bos segala. Aku Cuma ikutin aturan main kamu Pak. Tapi kamu yang kebingungan sendiri kan.
“Oke ini kardusnya udah ada kan, sekarang pada mau ngerjain di mana ini?” tanya Lisu.
“Di rumah aku aja.” Yulia langsung mengajukan diri.
“Jangan di rumah akua aja, lebar.” Dalam artian semua orang bisa msuk dan langsung bisa bikin tanpa harus merasa gak bisa gerak sana sini.
“Jangan kejauhan.” Suara itu pun seakan meruntuhkan semuanya. Pikiranku yang kacau tambah kacau, bilang saja mereka tak mau boros bensin mengantar barang-barang ke rumahku yang yaaa memang agak jauh sih, tapi kan besar dan pasokannya luas. Tapi ya sudahlah, mungkin lagi ngetrend kerja di ruangan sempit supaya lebih kebersamaan kali.
“Jangan yang jauh-jauh.” Suara lain melanjutkan, melanjutkan membela lebih tepatnya. Berpikir positif saja, mungkin gaji dramaturgiland gak cukup buat beli bensin, jadi rumahku gak terjangkau. Sudahlah Khaira Bunga kamu sedang random, apa saja bisa keluar dari mulutmu.
***
Melihat rumah Yulia, rasanya aku tak mampu untuk bergabung dengan mereka. Aku terlalu lemah, tadi saja rasanya aku menahan tangis. Tapi, air mata itu haram Khaira, air mata itu haram di siang hari, air mata itu haram untuk sebuah sosial, haram pokoknya haram.
Maafkan aku teman-teman aku terlalu lemah!
Maafkan aku teman-teman, sepertinya kalian memang gak butuh aku, salah satu dari kalian tak ada yang menghubungiku ya kan?
Sempat terpikir, apa aku ikut jadi Pak Andhika saja yah. Yang bakal ada kalau dipanggil yang bakal gerak kalau diminta. Tapi dia ya dia, aku ya aku. Maka aku masih baik untuk mengsms April.
“Butuh bantuan gak?”
10 menit kemudian
Masih tak ada balasan. Mungkin mereka lebih nyaman tanpa saya. Walaupun di sini, hati saya tak karuan. Kenapa ya? Kenapa? Aku bisa jawab karena.........................
Air mata masih tertahan, dan takkan bisa keluar, karna ia takkan pernah keluar, selama aku masih membentuk perisai panggilan untuk menyambut Pak Andhika, the best mr Andhika
Tapi........................
Besok aku benar-benar mau pulang. Masa sih ending dari projek dramaturgiland di hari libur seperti ini? Kali ini aku beneran menangis,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,
Mulai dari menyambut anak magang, Vindi.
Dijanjikan akan membahas iklan dengan Pak Andhika.
Mengisi training anak magang 2012.
Jadi anak konsumsi.
Melihat Pak Andhika pulang dari Paris.
Presentasi serial drama “pergilah kasih” tanpa Pak Andhika
Dan masih banyak lagi, dan tak lupa selama ini Tuhan kirimkan Trisiana untukku. Karena setiap aki aku kecewa atau sedih bahkan menangis seperti malam ini aku selalu menuliskannya di sebuah situs. Dan Trisiana selalu menjadi pembaca setia yang menenangkan aku. Trisiana adalah karyawan bagian pelatihan dan keuangan.
Aku tahu mereka di sana tak merasa ada masalah denganku, ya aku tahu
Tapi kenapa sms itu tak dibalas sampai sekarang juga?
terus berderai, derai derai derai...
Dan pasti berhenti karena esok aku akan kembali seperti semula.

1 komentar:

  1. Aku gatau mesti ngomen apa sel...
    Hidup kita, jalani aja dengan upaya untuk terus berusaha menjadi lebih baik.
    Semakin hari, insyaAllah kita harus lebih bisa kuat. Salah satu pesan Rasulullah kepada para pemuda yaitu jaga terus "perahumu", jaga terus imanmu. Kalau kita bisa jatuh hanya karena masalah kecil seperti ini, bagaimana jika Allah memberikan kesulitan yang berlipat-lipat dari ini? Rasanya sayang sekali kalau air mata kamu, harus jatuh hanya karena masalah ini. Banyak hal yang bisa membuat kita lebih pantas menitikan air mata.
    Maap, aku juga bukan orang yang sempurna, kita yakin aja Sel, kalau Allah lebih besar dari masalah yang membuat kita menangis....

    BalasHapus