Kalau Ariel dkk bisa bikin kisah lainnya, puisi Ariel saat di penjara, mungkin penny akan membuat Tulisan lainnya, puisi penny saat diseret ke kebon singkong.
angin berhembus sangat kencang saat aku tiba di lokasi.
ini bukanlah bandara, ini juga bukan pelabuhan
ini adalah penjajakan baru di umur yang baru
di kehidupan yang lama
BODOH !
aku masih bodoh.
embun itu memang menyejukkan bagi sebagian
tapi bisa saja menghangatkan bagi sebagian dan bisa juga menggerahkan bagi sebagian
sebagian ada 3 maka keganjilan memang selalu menyelimuti muka bumi ini.
embun memanggilku, hanya beberapa tetes bahkan satu tetes saja.
angin dan embun = sempurna bagiku
dingin memeluk jiwa dan tak pernah ada lara
sesekali berlari menjauhi badai matahari
dan aku semakin tertantang untuk menggapai angin utara.
aku setia menjadi pengikut dan berjanji takkan pindah,
hingga masanya aku semakin mengikuti arah mata angin yang benar
dan menganggap bahwa arah mata angin tak ada yang selatan.
aku baik-baik saja, tak pernah kandas dimakan waktu
hingga suatu saat,,,
di belakangku muncul beberapa tawaran.
tawaran yang menawar dengan berbagai tawaran.
dengan mudah kulepas semua yang terjadi
dengan mudah kucabik semua yang tertata rapi
hanya dengan sebuah embun yang masih tak jelas embun atau hujan?
perisai dari air yang mengalir, membentuk sebuah lukisan emas bertabur berlian.
semua memandang sebagai lukisan terindah sepanjang masa.
aku tersenyum di balik berlian yang ternyata hanya perak
di depan mereka tertawa sebagai perhiasan yang mahal
rapi hampir tanpa cacat
aku sendirian tak merasa mengotori kepingan emas yang ada
hanya saja tiba-tiba smeua terganti
angin jadi gemuruh'
hujan semakin deras
padahal tahun lalu
hujan seharusnya membanjiri kota mati ini
semua tercabik bak daging yang menyegarkan
semua terasa mati rasa
mati rasa
padahal aku telah hanyut sekian ribu mil ke arah selatan
aku tak sadar !
hingga mungkin darahku mengalir ke kota kehidupan
dan aku ditemukan dalam keadaan yang paling indah
sebelum mereka semua menusukku tepat di jantungku
keindahan rupawan rupanya tak bisa menyembunyikan kebusukan
padahal keindahan ini sejatinya tumbuh subur dengan sendirinya bukan dibuat-buat.
darah kembali tercecer
dan aku ahanya bisa mneyentuh darah ini dengan pelukan hangat
sambil mempertanyakan, mengapa darah ini bisa dikeluarkan ??
salam semu !
Puisi Penny bagus, Penny suka.
BalasHapus