Kamis, 20 September 2012

Teriakan Lainnya

            Semenjak pagi enggan kembali, aku merasa malam adalah teman yang sangat berarti. Semenjak gunung menjadi banyak, rasanya aku tak memiliki kaki yang pas untuk mendaki gunung yang terbaik. Semenjak itu pula aku makin merasa aku terbawa arus ombak yang begitu deras.
            Dahulu malamku adalah malammu, malammu adalah malamku dan begitu seterusnya. Walau sering kali kami menyembunyikan malam bersama agar menunda pagi kembali, tapi kami tak lupa dengan siang yang kalian butuhkan walau kami memang gila.
            Mengapa kau rebut malam kami? Mengapa kau tukar malam kami dengan sebagian. Kalian katakan bahwa malam nya adalah palsu dan aku yang jahat, kalian bilang malamku adalah buatan dan ia yang menghancurkannya.

            Mengertilah aku masih bernafas. Aku butuh malam untuk melukis segala bintang yang ada di pikiranku, aku butuh siang untuk bernafas, dan aku butuh semua yang dulu, walau kalian selalu bilang tidak.
            Taukah kau aku menangis, taukah aku berteriak sekadarnya saja. bahwa aku juga tak sanggyp kalau kehilangan pagi. Dan aku belum mau dipisahkan dengan malam. Sekarang ini semua seakan terasa sangat berbeda, aku hanyalah bagian dari apa yang kalian inginkan, aku akui itu adalah sebuah pagar baru yang memang menuju keabadian. Tapi aku tahu tak selamanya kalian mengerti, karena aku pun tidak, semua menuju sempurna tapi takkan pernah ada yang sampai.
            Aku hanya ingin bertanya,
Mengapa tidak?
Mengapa tidak bisa?
Mengapa harus?
Mengapa tidak harus?
Memngapa tidak boleh?
Mengapa begitu?
Mengapa begini?
Aku bahkan tak tahu harus menulis apa karena aku tak bisa menulis lagi !!!!!!
Aku pun tak mengerti apa yang sedang kutulis di atas barusan?
Aku tak tahu apa itu?
Jika memang sudah saatnya aku harus melepas semua, mengapa tidak aku menggapai hal yang lain.
Dan aku kembali tak tahu apa yang aku tulis saat ini. Apa itu? Aku tak tahu huruf, aku tak tahu angka, dan aku tak tahu kalau kamu ada.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar