Semenjak
pagi enggan kembali, aku merasa malam adalah teman yang sangat berarti. Semenjak
gunung menjadi banyak, rasanya aku tak memiliki kaki yang pas untuk mendaki
gunung yang terbaik. Semenjak itu pula aku makin merasa aku terbawa arus ombak yang
begitu deras.
Dahulu
malamku adalah malammu, malammu adalah malamku dan begitu seterusnya. Walau sering
kali kami menyembunyikan malam bersama agar menunda pagi kembali, tapi kami tak
lupa dengan siang yang kalian butuhkan walau kami memang gila.
Mengapa
kau rebut malam kami? Mengapa kau tukar malam kami dengan sebagian. Kalian katakan
bahwa malam nya adalah palsu dan aku yang jahat, kalian bilang malamku adalah
buatan dan ia yang menghancurkannya.
Mengertilah
aku masih bernafas. Aku butuh malam untuk melukis segala bintang yang ada di
pikiranku, aku butuh siang untuk bernafas, dan aku butuh semua yang dulu, walau
kalian selalu bilang tidak.
Taukah
kau aku menangis, taukah aku berteriak sekadarnya saja. bahwa aku juga tak
sanggyp kalau kehilangan pagi. Dan aku belum mau dipisahkan dengan malam. Sekarang
ini semua seakan terasa sangat berbeda, aku hanyalah bagian dari apa yang
kalian inginkan, aku akui itu adalah sebuah pagar baru yang memang menuju
keabadian. Tapi aku tahu tak selamanya kalian mengerti, karena aku pun tidak,
semua menuju sempurna tapi takkan pernah ada yang sampai.
Aku
hanya ingin bertanya,
Mengapa tidak?
Mengapa tidak bisa?
Mengapa harus?
Mengapa tidak harus?
Memngapa tidak boleh?
Mengapa begitu?
Mengapa begini?
Aku bahkan tak tahu harus menulis apa
karena aku tak bisa menulis lagi !!!!!!
Aku pun tak mengerti apa yang sedang
kutulis di atas barusan?
Aku tak tahu apa itu?
Jika memang sudah saatnya aku harus melepas
semua, mengapa tidak aku menggapai hal yang lain.
Dan aku kembali tak tahu apa yang aku tulis
saat ini. Apa itu? Aku tak tahu huruf, aku tak tahu angka, dan aku tak tahu
kalau kamu ada.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar