Tulisan ini dibuka bahkan dibuka dengan
lirik lagu perahu kertas, tapi akan kubuka dengan :
"Air
mata ini menyadarkanku, kau takkan pernah menjadi milikku"
aku membuat perahu ini saat suasana kelas
sedang tidak kondusif memang.
mungkin kalau ini adalah film, sebelumnya
akan ada tulisan "don't try this at home" :D
ketika itu memang semua suasana sedang
tidak kondusif. mulai dari bajuku yang tak nyaman, kelas kecil berisi kurang
lebih 50 orang, duduk di pojok karena terlambat, panas, dan semuanya intinya
tanpa kenyamanan.
kemudian, pikiranku melayang tak jauh-jauh
hanya ke menembus dinding, kaca dan beberapa pohon yang ada. dan pikiranku
sampai kepada suatu tempat.
al wushul, adalah tempat ajaib yang mungkin
pernah kumiliki. di sana apapun bisa terjadi, sedih, marah, senang, senyum,
perseteruan, ikhlas, kesal, bahagia, cinta, kasih sayang, terharu, tangisan,
lolongan, dan doa-doa kami yang kami panjatkan agar hidup kami selalu berkah.
aku
mencintai tempat sederhana itu.
lalu pikiranku kembali melayang sama
seperti tadi, tak jauh-jauh, hanya menembus dinding, kaca, beberapa pohon ,
menaiki tangga, membuka pintu dan sampai ke tempat tersebut.
tempat itu adalah partnernya al wushul dan
mereka takkan pernah dipisahkan. lagi-lagi karena cinta, cinta yang membawaku
untuk tak konsen mata kuliah penting ini, tapi aku yakin, ketidak konsenanku
hari ini akan membuahkan hasil di pohon lain, walaupun harapannya hanya 0%
kuambil pulpen, kucabut kertas binderku,
lalu kumulai menggoreskan satu demi satu yang ada di otakku saat itu. aku ingin
apa, aku berharap seperti apa, aku ingin bagaimana, aku ingin ada apa, aku
ingin apa saja? semua kutulis berbentuk suatu model seperti model komunikasi
yang sering disuguhkan pada kami.
ada beberapa bulatan-bulatan kecil yang
mungkin membuatku menangis, karena di dalam bulatan kecil itu adalah harapan
terbesarku saat ini. Dan aku tahu itu rasanya memang tak mungkin terjadi. Emosi,
marah, harapan, sedih, prihatin semua tercampur jadi satu atas nama cinta. Aku pun
memang saat sekarang melihat perahu kertas itu tak bisa lama-lama, nanti pasti
aku jadi sedih. Karena memang itu semua sangat tidak mungkin bisa terjadi.
Kemudian kulipatlah kertas itu menjadi
sebuah perahu. Lalu esok harinya kutunjukan kepada beberapa orang yang sangat
dekat denganku saat ini. Namun mereka hanya diam. Satu pertanyaanku yang
beranak.
1.
Apakah
ini tidak menarik? Lalu apa yang lebih dari ini bagimu? Maka aku akan menyambut
kelahirannya bak menyambut putra raja.
Sempat kuberpikir ingin melayarkan perahu
ini di manapun yang ada airnya. Biarlah perahu dan tulisannya ini berlayar
mengarungi samudra sekuat apa yang ada di dalam tubuhnya. Tapi aku yakin kalau
kulayarkan perahu ini maka sehari saja mungkin sudah menjadi sampah. Tapi aku
tahu perahu ini juga tak akan sampai ke tangan yang benar, ke tangannya sang
eksekutor.
Aku hanya perahu ini menjadi kenyataan yang
sangat indah. Meski perahu ini takkan pernah muncul sampai kapanpun. Perahu yang
makin lama, kurasa makin sederhana isinya.
Aku ingiiiiiin sekali perahu ini dia buka
lalu ia baca dan kita bersama-sama untuk mewujudkannya. Aku tak bisa bohong,
toap lihat perahu ini makin lama perasaanku makin sakit rasanya ingin kubuang
saja, tapi ini kuanggap anugerah yang langka. Di tengah otakku yang mungkin
pas-pasan.
Aku ingiiiiiiiiiiiiiiin sekali, perahu ini
kau baca dan bersama kita jadikan kenyataan. Aku tak bisa pungkiri itu, dan aku
pun juga tak tahu bagaimana caranya perahu ini bisa sampai ke tanganmu tanpa
kau tahu itu dariku, agar aku tak begitu sakit hati jika kau memang tak bisa
mewujudkannya bersamaku dan yang lainnya. Aku ingin perahu ini sampai ke
tanganmu tanpa campur tanganku, dan tak ada yang tahu lagi ini adalah karyaku.
Aku tak tahu apa yang terjadi dengan diriku
saat ini. Aku ingin kita maju bersama, masih lurus, masih terang takkan pernah
kelam dan abu-abu. Aku benar-benar ingin, tapi aku tak tahu caranya, aku tak
tahu !!!!!
Aku mencintai kalian semua dan aku takkan
pernah pergi dan berhenti berusaha walau aku belum tahu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar