“Begitu
banyak hal yang ku alami, yang ku temui
Saat bersamamu ku rasa senang, ku rasa sedih”
Saat bersamamu ku rasa senang, ku rasa sedih”
Memang aku
sangat senang saat bersama mereka. Mereka adalah tempat bersandar yang indah di
dunia ini. Bersama mereka kami selalu mengingat Tuhan bersama mereka kami lantunkan
ayat-ayat suci yang mungkin jika bersama yang lain, 5 waktu saja mungkin akan
dipangkas semena-menanya saja. aku bahagia. Kehidupan yang kami jalani,
benar-benar nyaris sempurna. Aku begitu menyukai semua ini, hingga mungkin aku
bisa dikatakan berada di zona paling nyaman. Ya apapun itu.
Di
sana kami bisa melukis cerita bersama, menghasilkan karya-karya baru, hingga
kami selalu berusaha aroma wangi yang diridhoi tersebar luas dan semua bisa
merasakan betapa wangi dan sejuknya. Kami berusaha atas nama Tuhan dan kami
selalu bersama-sama. Kadang juga kami berselisih paham, tangis, amarah,
egoisme, itu semua biada karena itu merupakan dinamika kelompok yang memang
tercipta di antara kelompok yang saling mencintai. Konflik dan segala
kepelikannya aku bisa rasakan begitu indah karena semakin lama kami semakin
pintar dan belajar.
“Air mata ini menyadarkanku
Kau takkan pernah jadi milikku”
Kau takkan pernah jadi milikku”
Hingga
pada suatu hari, aku menyadari bahwa air mataku takkan bisa berhenti. Hingga pada
suatu saat aku tahu kalau jalan pikiran kami tak berjalan dengan kecepatan yang
sama lagi. Bahwa pikiran kami pun berbalapan. Berbalapan walau dengan jalur
yang sama. Berbalapan walau dengan arah yang sama. Bersalip-salipan walau
dengan alamat yang sama. Tapi apa gunanya jika seperti ini?
Saat
yang di depan meneriakan bahwa di jalan simpang akan ada batu api, maka yang di
belakang belumlah tentu percaya karena tak melihatnya sendiri. Ketika sampainya
perkatannya itu benar maka alibi-alibi sampah yang mungkin dilemparkan dengan
penuh kekejian. Padahal kami di jalan yang sama, jalan yang inginkan paling
terang. Bagaimana ini? Akankah ini tak boleh terjadi. Aku hanya bisa diam. Beberapa
perjalanan yang tlah kulalui hanya air mata saja yang ada di tengah-tengahnya.
“Tak pernah ku mengerti aku segila ini
Aku hidup untukmu, aku mati tanpamu
Tak pernah ku sadari aku sebodoh ini
Aku hidup untukmu, aku mati tanpamu”
Aku hidup untukmu, aku mati tanpamu
Tak pernah ku sadari aku sebodoh ini
Aku hidup untukmu, aku mati tanpamu”
kesalahan demi kesahan yang ada
justru memperkeruh suasana. Kesalahan yang mereka anggap sebagai sebuah
kesalahan yang sejati. Kesalahan yang kebenarannya tertutup karena sebuah
kesalahan. Aku kembali terdiam dengan semua yang terjadi. Aku putus asa, dan
aku tahu itu tak boleh, itu sesat! Aku memang bodoh kalau caranya murah seperti
itu, mereka mempunyai pandangan mata yang terbatas. Semua karena mata yang
sangat terbatas. Itu saja, hingga kutahu, cara lama takkan mungkin bisa
dipakai, padahal seribu kali kumenjelaskan otak mereka takkan sampai., kembali
lagi aku hanya bisa diam menyendiri, mencari-cari, menerka-nerka, mengasumsikan
sesuatu. Aku masih sakit hati. Sedikit.
“Perahu kertasku kan melajuMembawa surat cinta bagimu
Kata-kata yang sedikit gila
Tapi ini adanya”
Kemudian
seperti tulisan sebelumnya, kutuliskan semua yang kupikirkan, kutuliskan semua
yang ada dlaam kepalaku ini ke dalam sebuah kertas di tengah carut marut
pikiranku pada pagi itu. Aku tahu ini mungkin kurang sehat makanya tertulis
beberapa kalimat dan kata-kata yang agak terkesan gila dan kurang bersyukur,
tapi yakinlah dan percayalah ini adalah perahu terbaik sampai saat ini yang
pernah kubuat. Perhau ini memang kutujukan padamu karena hanya kau yang bisa
mengeksekusinya, seperti kau dulu yang mengeksekusi bahwa aku lebih baik
sendiri. Begitu bukan. Tapi entah bagaimana caranya perahu ini bisa sampai ke
genggaman otakmu, bukan sekedar tanganmu yang kekar.
“Perahu kertas
mengingatkankuBeratapa ajaibnya hidup ini
Mencari-cari tambatan hati
Kau sahabatku sendiri”
Hidup
ini memang ajaib, aku percaya itu. Maka syukur adalah jalan sederhana untuk
tahu hidup ini memang snagat ajaib. Tak perlu aku jauh-jauh mencari suasana
yang sunyi, suasana yang tenang untuk menuliskan sebuah model yang kukira
memang model ajaib, yang kugambarkan di dalam perahu kertas itu. Ternyata di
dalam kelas mata kuliah penting itu aku menemukannya dan aku bahagia dapat
menggambarkannya walau tak sempurna.
“Hidupkan lagi
mimpi-mimpi(cinta-cinta) cita-cita
Yang lama ku pendam sendiri
Berdua ku bisa percaya”
Setelah
menggambar dan menuliskan isi dari perahu kertas itu. Aku merasakan angin
cita-cita berhembus sangat kencang, diiringi dengan gemercik hujan cinta,
sempurna. Ini sungguh sebuah kompilasi yang begitu menarik. Selama ini semua
itu hanya bisa kupendam sendiri di dalam otakku, ide, konsep, model, susunan,
asumsi dll dan hanya bisa kukeluarkan sebagai gumaman yang tiada guna. Sungguh lama
mungkin aku memendamnya, hingga kini aku bisa menghidupkannya kembali dan
tertuanglah di dalam perahu kertas itu.
Tapi, tetap saja aku tak bisa hidup
sendiri, aku tak bisa memutuskan sendiri lebih tepatnya. Maka itu perahu ini
kutujukan pada seseorang, kalau aku sendiri dan didengar maka aku sudah duduk
tenang bahagia di tengah kemakmuran yang ada. Maka itu perahu ini masih punya
tujuan. Perahu ini masih butuh dibaca banyak orang yang berpikiran luas seperti
dia. Karena jika kami berdua dan bersama yang lainnya aku percaya kita pasti
bisa perbaiki semua ini. Kita akan kembali menebar keharuman yang apik.
“Ku bahagia kau
telah terlahir di duniaDan kau ada diantara milyaran manusia
Dan ku bisa dengan radarku menemukanmu”
Terlepas
dari buruk baiknya, kreatif atau tidaknya apa isi dari perahu yang tetap
kuyakini adalah baik. Aku tetap bersyukur perahu itu ada, perahu itu tercipta
dariku dan perahu itu ada di dunia ini, ada di dalam tasku setiap hari, aku
mencintai kalian. Aku bersyukur ide itu ada di antara milayaran pemikiran
lainnya, dan aku bisa menemukan ide itu di tengah pemikiran yang ada, kutemukan
ide itu dengan radar cintaku pada kalian. Meski kalian belum bisa melihatnya. Yaaah
semua ini terlepas dari benar atau tidaknya, efektif atau tidaknya isis dari
perahu kertas yang tetap kuyakin adalah efektif dan bersahabat.
“Tiada lagi yang
mampu berdiri halangi rasakuCintaku padamu…”
Walau sudah terpagar besi seribu tombak
yang menghalangiku untuk berekspresi, aku masih punya sejuta cara lain untuk
tetap berkarya.
Sumber
:
NOAH – Hidup untukmu mati tanpamu
Begitu banyak hal yang ku alami, yang ku temui
Saat bersamamu ku rasa senang, ku rasa sedih
Air mata ini menyadarkanku
Kau takkan pernah jadi milikku
Air mata ini menyadarkanku
Kau takkan pernah menjadi milikku
Tak pernah ku mengerti aku segila ini
Aku hidup untukmu, aku mati tanpamu
Tak pernah ku sadari aku sebodoh ini
Aku hidup untukmu, aku mati tanpamu
Air mata ini menyadarkanku oooh
Kau takkan pernah menjadi milikku ooo
Tak pernah ku mengerti aku segila ini
Aku hidup untukmu, aku mati tanpamu
Tak pernah ku sadari aku sebodoh ini
Aku hidup untukmu, aku mati tanpamu..
Saat bersamamu ku rasa senang, ku rasa sedih
Air mata ini menyadarkanku
Kau takkan pernah jadi milikku
Air mata ini menyadarkanku
Kau takkan pernah menjadi milikku
Tak pernah ku mengerti aku segila ini
Aku hidup untukmu, aku mati tanpamu
Tak pernah ku sadari aku sebodoh ini
Aku hidup untukmu, aku mati tanpamu
Air mata ini menyadarkanku oooh
Kau takkan pernah menjadi milikku ooo
Tak pernah ku mengerti aku segila ini
Aku hidup untukmu, aku mati tanpamu
Tak pernah ku sadari aku sebodoh ini
Aku hidup untukmu, aku mati tanpamu..
***
Maudy Ayunda – Perahu
Kertas
Perahu kertasku kan melajuMembawa surat cinta bagimu
Kata-kata yang sedikit gila
Tapi ini adanya
Perahu kertas mengingatkanku
Beratapa ajaibnya hidup ini
Mencari-cari tambatan hati
Kau sahabatku sendiri
Hidupkan lagi mimpi-mimpi
(cinta-cinta) cita-cita
Yang lama ku pendam sendiri
Berdua ku bisa percaya
Reff:
Ku bahagia kau telah terlahir di dunia
Dan kau ada diantara milyaran manusia
Dan ku bisa dengan radarku menemukanmu
Tiada lagi yang mampu berdiri halangi rasaku
Cintaku padamu…

Tidak ada komentar:
Posting Komentar