Selasa, 25 September 2012

OST Perahu Kertas(milik)Ku


 “Begitu banyak hal yang ku alami, yang ku temui
Saat bersamamu ku rasa senang, ku rasa sedih”
Memang aku sangat senang saat bersama mereka. Mereka adalah tempat bersandar yang indah di dunia ini. Bersama mereka kami selalu mengingat Tuhan bersama mereka kami lantunkan ayat-ayat suci yang mungkin jika bersama yang lain, 5 waktu saja mungkin akan dipangkas semena-menanya saja. aku bahagia. Kehidupan yang kami jalani, benar-benar nyaris sempurna. Aku begitu menyukai semua ini, hingga mungkin aku bisa dikatakan berada di zona paling nyaman. Ya apapun itu.
          Di sana kami bisa melukis cerita bersama, menghasilkan karya-karya baru, hingga kami selalu berusaha aroma wangi yang diridhoi tersebar luas dan semua bisa merasakan betapa wangi dan sejuknya. Kami berusaha atas nama Tuhan dan kami selalu bersama-sama. Kadang juga kami berselisih paham, tangis, amarah, egoisme, itu semua biada karena itu merupakan dinamika kelompok yang memang tercipta di antara kelompok yang saling mencintai. Konflik dan segala kepelikannya aku bisa rasakan begitu indah karena semakin lama kami semakin pintar dan belajar.

“Air mata ini menyadarkanku
Kau takkan pernah jadi milikku”
          Hingga pada suatu hari, aku menyadari bahwa air mataku takkan bisa berhenti. Hingga pada suatu saat aku tahu kalau jalan pikiran kami tak berjalan dengan kecepatan yang sama lagi. Bahwa pikiran kami pun berbalapan. Berbalapan walau dengan jalur yang sama. Berbalapan walau dengan arah yang sama. Bersalip-salipan walau dengan alamat yang sama. Tapi apa gunanya jika seperti ini?
          Saat yang di depan meneriakan bahwa di jalan simpang akan ada batu api, maka yang di belakang belumlah tentu percaya karena tak melihatnya sendiri. Ketika sampainya perkatannya itu benar maka alibi-alibi sampah yang mungkin dilemparkan dengan penuh kekejian. Padahal kami di jalan yang sama, jalan yang inginkan paling terang. Bagaimana ini? Akankah ini tak boleh terjadi. Aku hanya bisa diam. Beberapa perjalanan yang tlah kulalui hanya air mata saja yang ada di tengah-tengahnya.


“Tak pernah ku mengerti aku segila ini
Aku hidup untukmu, aku mati tanpamu
Tak pernah ku sadari aku sebodoh ini
Aku hidup untukmu, aku mati tanpamu”
                              kesalahan demi kesahan yang ada justru memperkeruh suasana. Kesalahan yang mereka anggap sebagai sebuah kesalahan yang sejati. Kesalahan yang kebenarannya tertutup karena sebuah kesalahan. Aku kembali terdiam dengan semua yang terjadi. Aku putus asa, dan aku tahu itu tak boleh, itu sesat! Aku memang bodoh kalau caranya murah seperti itu, mereka mempunyai pandangan mata yang terbatas. Semua karena mata yang sangat terbatas. Itu saja, hingga kutahu, cara lama takkan mungkin bisa dipakai, padahal seribu kali kumenjelaskan otak mereka takkan sampai., kembali lagi aku hanya bisa diam menyendiri, mencari-cari, menerka-nerka, mengasumsikan sesuatu. Aku masih sakit hati. Sedikit.


 “Perahu kertasku kan melaju
Membawa surat cinta bagimu
Kata-kata yang sedikit gila
Tapi ini adanya”

                              Kemudian seperti tulisan sebelumnya, kutuliskan semua yang kupikirkan, kutuliskan semua yang ada dlaam kepalaku ini ke dalam sebuah kertas di tengah carut marut pikiranku pada pagi itu. Aku tahu ini mungkin kurang sehat makanya tertulis beberapa kalimat dan kata-kata yang agak terkesan gila dan kurang bersyukur, tapi yakinlah dan percayalah ini adalah perahu terbaik sampai saat ini yang pernah kubuat. Perhau ini memang kutujukan padamu karena hanya kau yang bisa mengeksekusinya, seperti kau dulu yang mengeksekusi bahwa aku lebih baik sendiri. Begitu bukan. Tapi entah bagaimana caranya perahu ini bisa sampai ke genggaman otakmu, bukan sekedar tanganmu yang kekar. 


“Perahu kertas mengingatkanku
Beratapa ajaibnya hidup ini
Mencari-cari tambatan hati
Kau sahabatku sendiri”

                              Hidup ini memang ajaib, aku percaya itu. Maka syukur adalah jalan sederhana untuk tahu hidup ini memang snagat ajaib. Tak perlu aku jauh-jauh mencari suasana yang sunyi, suasana yang tenang untuk menuliskan sebuah model yang kukira memang model ajaib, yang kugambarkan di dalam perahu kertas itu. Ternyata di dalam kelas mata kuliah penting itu aku menemukannya dan aku bahagia dapat menggambarkannya walau tak sempurna. 


“Hidupkan lagi mimpi-mimpi
(cinta-cinta) cita-cita
Yang lama ku pendam sendiri
Berdua ku bisa percaya”

                              Setelah menggambar dan menuliskan isi dari perahu kertas itu. Aku merasakan angin cita-cita berhembus sangat kencang, diiringi dengan gemercik hujan cinta, sempurna. Ini sungguh sebuah kompilasi yang begitu menarik. Selama ini semua itu hanya bisa kupendam sendiri di dalam otakku, ide, konsep, model, susunan, asumsi dll dan hanya bisa kukeluarkan sebagai gumaman yang tiada guna. Sungguh lama mungkin aku memendamnya, hingga kini aku bisa menghidupkannya kembali dan tertuanglah di dalam perahu kertas itu.
          Tapi, tetap saja aku tak bisa hidup sendiri, aku tak bisa memutuskan sendiri lebih tepatnya. Maka itu perahu ini kutujukan pada seseorang, kalau aku sendiri dan didengar maka aku sudah duduk tenang bahagia di tengah kemakmuran yang ada. Maka itu perahu ini masih punya tujuan. Perahu ini masih butuh dibaca banyak orang yang berpikiran luas seperti dia. Karena jika kami berdua dan bersama yang lainnya aku percaya kita pasti bisa perbaiki semua ini. Kita akan kembali menebar keharuman yang apik.


“Ku bahagia kau telah terlahir di dunia
Dan kau ada diantara milyaran manusia
Dan ku bisa dengan radarku menemukanmu”

                              Terlepas dari buruk baiknya, kreatif atau tidaknya apa isi dari perahu yang tetap kuyakini adalah baik. Aku tetap bersyukur perahu itu ada, perahu itu tercipta dariku dan perahu itu ada di dunia ini, ada di dalam tasku setiap hari, aku mencintai kalian. Aku bersyukur ide itu ada di antara milayaran pemikiran lainnya, dan aku bisa menemukan ide itu di tengah pemikiran yang ada, kutemukan ide itu dengan radar cintaku pada kalian. Meski kalian belum bisa melihatnya. Yaaah semua ini terlepas dari benar atau tidaknya, efektif atau tidaknya isis dari perahu kertas yang tetap kuyakin adalah efektif dan bersahabat.


“Tiada lagi yang mampu berdiri halangi rasaku
Cintaku padamu…”

               Walau sudah terpagar besi seribu tombak yang menghalangiku untuk berekspresi, aku masih punya sejuta cara lain untuk tetap berkarya.

Sumber :

NOAH – Hidup untukmu mati tanpamu
Begitu banyak hal yang ku alami, yang ku temui
Saat bersamamu ku rasa senang, ku rasa sedih

Air mata ini menyadarkanku
Kau takkan pernah jadi milikku

Air mata ini menyadarkanku
Kau takkan pernah menjadi milikku

Tak pernah ku mengerti aku segila ini
Aku hidup untukmu, aku mati tanpamu

Tak pernah ku sadari aku sebodoh ini
Aku hidup untukmu, aku mati tanpamu

Air mata ini menyadarkanku oooh
Kau takkan pernah menjadi milikku ooo

Tak pernah ku mengerti aku segila ini
Aku hidup untukmu, aku mati tanpamu

Tak pernah ku sadari aku sebodoh ini
Aku hidup untukmu, aku mati tanpamu..
***
Maudy Ayunda – Perahu Kertas
Perahu kertasku kan melaju
Membawa surat cinta bagimu
Kata-kata yang sedikit gila
Tapi ini adanya

Perahu kertas mengingatkanku
Beratapa ajaibnya hidup ini
Mencari-cari tambatan hati
Kau sahabatku sendiri

Hidupkan lagi mimpi-mimpi
(cinta-cinta) cita-cita
Yang lama ku pendam sendiri
Berdua ku bisa percaya

Reff:
Ku bahagia kau telah terlahir di dunia
Dan kau ada diantara milyaran manusia
Dan ku bisa dengan radarku menemukanmu

Tiada lagi yang mampu berdiri halangi rasaku
Cintaku padamu…


Tidak ada komentar:

Posting Komentar