Selasa, 18 Desember 2012

Dan terjadi Lagi


Rasanya mungkin tak pernah kapok, sudah ratusan bahkan ribuan kali.
Terjadi terus, terjadi lagi.
Sampai membentuk yang kunamakan kisah lama. Aku tak tahu apa itu kisah lama.
Rasanya hampir bosan kalau melihat semuanya, terulang lagi terulang lagi.
Seakan-akan aku tak pernah belajar dari kesalahan, berteduh lagi, duduk lagi, senyum lagi, seakan tak terjadi apa-apa.
Apapun itu kau tak berubah sedari dulu. Perubahan melalui tebakan dan analisis teori coret rasanya tak mampu mmbuktikan kau berubah ke arah yang salah.
Kesalahan itu terletak pada kami, aku atau mereka. Kau sama sekali tidak, ketidakbisaanmu membuat kau terlihat salah.
Kesalahan seharusnya diperbaiki bukan dibiarkan, kami yg memperbaiki, karna kau tak mampu bergerak secepat angin,
sedang aku yg rapuh ini hanya bisa berteduh sedikit-sedikit jika panas matahari muncul.
Terimakasih telah mulai kembali, jujur harusnya kau dibelakangku tiap hari pastikan aku benar-benar bisa jalan.
Tak seperti pakai sepatu roda kmudian terjebak di antara salju begini, meski salju yg ada di taman depan rumah seseorg yg pasti, insya Alloh.
kalau kubilang "terjadi lagi" rasanya sudah ratusan kali. 
kalau kubilang ini "kisah lama" rasanya mungkin sudah ribuan kali.
dan memang aku atau kami yg trllu aktif brjalan sprti balita yg tak bisa diatur.
padhl kau selalu memanggil, telingaku sj yg agak2.
aku lbh memilih berteduh dan memasangkan lagu2 ombak ketimbang mencarimu untuk suatu hal yg blm kuketahui.

jalanmu jalanku memang beda, tapi bedakah skrg dan dlu? 
beda bukan?
maka prbedaan itu tiada mengapa.
krna kita pun seakan sudah terbentuk entah hampir pasti atau pasti atau sm skli tidak. aku, kamu terbagi 2 jadinya separuh aku
Aku ingin kau kembali lagi, duduk manis di belakangku atau hanya sekdara bermain di sampingku.
Kehadiran itu tidak bisa digantikan walau aku bertanya pada yang lainnya.
Perbedaan kita tak selamanya jadi masalah, latar belakangku hampir mirip dengan yang kau pegang utuh nan yakin. Jadi tidak ada alasan seharusnya.
Apakah kau kecewa karena aku selama ini tak berhasil mampu meyakinkan mereka kalau kau benar walau kau tak bisa. Rasanya tidak?
Kau terlalu baik untuk punya rasa kecewa.
Atau kau selama ini memanggil aku, namaku, bukan! Jiwaku tapi aku saja yang menenggelamkan diri dan tak pernah atau seakan mengaku tak mau kembali, padahal aku dan kamu entah pasti atau tidak rasanya dalam bentukan yang sama, dan kupatahkan begitu saja.
Aku haus dan aku kepanasan, keteduhan dan air sekan menjadi penolong padahal ‘enggak’
Rasanya bersama denganmu itu lebih baik, aku bisa tetapi minum aku bisa tetap bermain di hamparan salju yang dingin, dan aku tak akan terpeleset, minimal aku akan jatuh 2 kali lebih jarang.
Kau memang terangkai dalam noda-noda yang tak pasti, semua juga begitu tapi kau berguna walau yang lainnya tak bisa lihat.
Mereka tidak buta tapi mereka masih terlalu di permukaan saja.
Ketidaknyamanan itu aku rasakan juga, sama aku bisa merasakannya, kau tak sendiri aku juga tak sendiri namun rasanya kita selalu saling sendiri.
Aku mencarimu (lagi) walau aku tahu aku pasti akan lebih sering bermain ke tempat-tempat teduh untuk sekadar menyeka keringatku saja. tapi kau selalu memanggil, tempat teduh selalu melenakan jadi telingaku seakan dipenuhi gemuruh ombak yang bernada.
Aku rasakan semuanya, kami, kamu, mereka, dia semua beda. Lalu apa salahnya kita beda?
Aku terlalu banyak di air. Lupa daratan, lupa kamu dan lupa tentang kita.
Ini bukan cinta, cinta itu gak begini, ini kan gak pasti, kamu siapa sih?
Hanyalah puing-puing ini saksi bisu kalau semuanya memang berguna, bukan habis sia-sia dan ‘gak’ jelas. Semuanya ini berguna? Tapi aku saja yang kadang tak bisa menahan dengan seksinya deru ombak yang memanggil.
Jangan pergi lagi, ah kalimat itu mungkin untukku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar