Minggu, 07 Oktober 2012

Inspirasa 1


            Kala itu memang malam sangat menggoda. Saat bintang aku tak tahu bersinar atau tidak. Aku tahu yang jelas ini semua adalah bagian dari sebuah kehidupan yang dirancang baik. Malam yang kelam tiba-tiba mendadak tak menjadi kelabu karena semua itu sudah ada yang mengatur. Aku senang esok mungkin akan menjadi hari yang indah, hari yang pintar lebih tepatnya. Isu penguatan internal dramaturgiland sudah mulai merebak, maka dari itu dramaturgiland akan mencoba membangun konsep mentoring di dalam kantor, bukan lagi tutorial. Maka dari itu kami dari pihak produksi, maupun distribusi juga harus ikut dalam pelatihan menjadi pementor.

            Training ini akan berlangsung selama 3 bulan, dan ini sudah bulan kedua. Aku mendapat berita bahwa yang memandu materi besok adalah Mas Qiu. Kenapa gitu? Terus gue harus bilang WOW gitu? Gak juga! Ya jadi memang sebelumnya aku sudah pernah bertemu dan menghadiri acara yang pematerinya Mas Qiu, beliau adalah sutradara terkenal yang sudah banyak menangani film-film di Inggris. Beliau juga selalu menyisipkan nilai anti Islam liberal dalam filmnya, sehingga film-film yang ia buat selalu berkelas untuk semua kalangan, entah kenapa bisa begitu padahal kan sering produksinya di Inggris. Oke itulah uniknya.
            Inti dari cerita ini adalah, mari kita flashback !
            Malam itu aku sedang online, seperti biasa. Aku melihat Pak Andhika sedang online juga. Ya maka kusapa dia, “Pak Andika!”
“Ya” jawabnya terlalu singkat, lalu aku bertanya tentang laporan akhir setiap kegiatan pemberdayaan wanita. “Pak kalau programnya tidak terlaksana, apa harus dibuat programnya juga?” “Ya harus.” *Jleb jleb jleb rasanya kayak dihunus gak jelas gitu deh. Makin makin makin makin entah ke berapa kalinya aku harus berteriak dalam hati, “kenapa aku gak punya anggota tetap untuk urusan pemberdayaan wanita ini? Kenapa? Kenapa harus semua karyawan perempuan dibuat secara langsung menjadi anggotaku? Ya berapa ribupun aku berteriak, mereka juga tak akan pernah dengar.”
            Selanjutnya makin malam, maka berhentilah perbincanganku dengan Pak Andika. Merasa belum ngantuk maka aku masih melihat-lihat apa saja yang ada di timeline? Ternyata!!!!! Aku melihat iklan film dari salah satu anak perusahaan, yang judulnya “more than just virgin” gak mungkin ini gak mungkin kata hatiku paling dalam.
            Mari kita flash back lebih jauh lagi !!!
            Kala itu di suatu sore aku sedang dikejar deadline oleh pak bos untuk mengusulkan judul film wanita terdekat yang akan produksi tahun ini, kemudian dengan yakin aku mencoba mengusung tema “virgin”. Aku ingin membuat film tentang virginitas yang gak esek-esek dan ingin membuat film yang bagus. Katanya sih kalau ada tema yang sama dari anak perusahaan lain akan dijadikan sebuah kerja sama tim produksi. So? Aku sih mengharapkan demikian, biar kerja kita agak ringan.
            Berhubung kondisi dramaturgiland begini dan bagian pemberdayaan wanitanya juga begini. Maka terbengkalailah semuanya. Dan akupun terlelap !
****
            “Intinya sih kalau kita bikin film tuh yang menarik lah, yang bagus kalau kata orang-orang jadul sih yang agak berat. Tapi sebenarnya itu gak berat, dan di sanalah tantangan kita sebagai orang-orang film buat bikin tema-tema film yang berkelas dengan tingkat penyampaian gaya bahasa dan alur cerita di filmnya mudah dipahami. Jangan Cuma film tentang virginitas, cinta, galau aja. Dorong lagi dong kemampuannya. Dunia ini apalagi anak muda butuh sesuatu yang konkret buat bekalnya nanti, ekonomi, politik yang gak semua mau makan dari buku doang. Makanya film lah yang kita gunakan.”
            Kemudian sorak sorai tepuk tanganpun mengiringi ucapan terahir yang dikeluarkan dari bibirnya itu. Oke dapat aku simpulkan training pementor pagi ini dan Mas Uqi benar-benar mengobati luka hatiku.
            Ini adalah singkat cerita dari sebuah alur yang berantakan, seperti berantakannya sebuah kehidupan, porak poranda kapal peradaban. Tapi semua itu dari sisi mana? Sisi anda? Sudut pandang ada banyak, apakah benar-benar porak poranda? Apakah benar-benar berantakan? Itu hanyalah sebuah mata dan makna J

Tidak ada komentar:

Posting Komentar