Kala itu memang malam sangat
menggoda. Saat bintang aku tak tahu bersinar atau tidak. Aku tahu yang jelas
ini semua adalah bagian dari sebuah kehidupan yang dirancang baik. Malam yang
kelam tiba-tiba mendadak tak menjadi kelabu karena semua itu sudah ada yang
mengatur. Aku senang esok mungkin akan menjadi hari yang indah, hari yang
pintar lebih tepatnya. Isu penguatan internal dramaturgiland sudah mulai
merebak, maka dari itu dramaturgiland akan mencoba membangun konsep mentoring
di dalam kantor, bukan lagi tutorial. Maka dari itu kami dari pihak produksi,
maupun distribusi juga harus ikut dalam pelatihan menjadi pementor.
Training ini akan berlangsung selama
3 bulan, dan ini sudah bulan kedua. Aku mendapat berita bahwa yang memandu
materi besok adalah Mas Qiu. Kenapa gitu? Terus gue harus bilang WOW gitu? Gak juga!
Ya jadi memang sebelumnya aku sudah pernah bertemu dan menghadiri acara yang
pematerinya Mas Qiu, beliau adalah sutradara terkenal yang sudah banyak
menangani film-film di Inggris. Beliau juga selalu menyisipkan nilai anti Islam
liberal dalam filmnya, sehingga film-film yang ia buat selalu berkelas untuk semua
kalangan, entah kenapa bisa begitu padahal kan sering produksinya di Inggris. Oke
itulah uniknya.
Inti dari cerita ini adalah, mari
kita flashback !
Malam itu aku sedang online, seperti
biasa. Aku melihat Pak Andhika sedang online juga. Ya maka kusapa dia, “Pak
Andika!”
“Ya”
jawabnya terlalu singkat, lalu aku bertanya tentang laporan akhir setiap
kegiatan pemberdayaan wanita. “Pak kalau programnya tidak terlaksana, apa harus
dibuat programnya juga?” “Ya harus.” *Jleb jleb jleb rasanya kayak dihunus gak
jelas gitu deh. Makin makin makin makin entah ke berapa kalinya aku harus
berteriak dalam hati, “kenapa aku gak punya anggota tetap untuk urusan
pemberdayaan wanita ini? Kenapa? Kenapa harus semua karyawan perempuan dibuat
secara langsung menjadi anggotaku? Ya berapa ribupun aku berteriak, mereka juga
tak akan pernah dengar.”
Selanjutnya makin malam, maka
berhentilah perbincanganku dengan Pak Andika. Merasa belum ngantuk maka aku
masih melihat-lihat apa saja yang ada di timeline? Ternyata!!!!! Aku melihat
iklan film dari salah satu anak perusahaan, yang judulnya “more than just
virgin” gak mungkin ini gak mungkin kata hatiku paling dalam.
Mari kita flash back lebih jauh lagi
!!!
Kala itu di suatu sore aku sedang
dikejar deadline oleh pak bos untuk mengusulkan judul film wanita terdekat yang
akan produksi tahun ini, kemudian dengan yakin aku mencoba mengusung tema “virgin”.
Aku ingin membuat film tentang virginitas yang gak esek-esek dan ingin membuat
film yang bagus. Katanya sih kalau ada tema yang sama dari anak perusahaan lain
akan dijadikan sebuah kerja sama tim produksi. So? Aku sih mengharapkan
demikian, biar kerja kita agak ringan.
Berhubung kondisi dramaturgiland
begini dan bagian pemberdayaan wanitanya juga begini. Maka terbengkalailah
semuanya. Dan akupun terlelap !
****
“Intinya sih kalau kita bikin film
tuh yang menarik lah, yang bagus kalau kata orang-orang jadul sih yang agak
berat. Tapi sebenarnya itu gak berat, dan di sanalah tantangan kita sebagai
orang-orang film buat bikin tema-tema film yang berkelas dengan tingkat
penyampaian gaya bahasa dan alur cerita di filmnya mudah dipahami. Jangan Cuma film
tentang virginitas, cinta, galau aja. Dorong lagi dong kemampuannya. Dunia ini
apalagi anak muda butuh sesuatu yang konkret buat bekalnya nanti, ekonomi,
politik yang gak semua mau makan dari buku doang. Makanya film lah yang kita
gunakan.”
Kemudian sorak sorai tepuk tanganpun
mengiringi ucapan terahir yang dikeluarkan dari bibirnya itu. Oke dapat aku
simpulkan training pementor pagi ini dan Mas Uqi benar-benar mengobati luka
hatiku.
Ini adalah singkat cerita dari sebuah
alur yang berantakan, seperti berantakannya sebuah kehidupan, porak poranda
kapal peradaban. Tapi semua itu dari sisi mana? Sisi anda? Sudut pandang ada
banyak, apakah benar-benar porak poranda? Apakah benar-benar berantakan? Itu hanyalah
sebuah mata dan makna J

Tidak ada komentar:
Posting Komentar