"Perahu kertas mengingatkan ku, betapa ajaib hidup ini."
ketika itu aku mendapat kabar harus menghandiri sebuah pertemuan, dan aku pun seperti biasa, aku pasti semangat untuk menghadirinya, walaupun sampai di sana nanti aku tak menjamin apakah aku bisa senormal dulu apa tidak, aku juga tidak menjaminapakah aku di sana masih menjadi aku yang dulu atau aku yang sudah tidak beres ini, dan walaupun perahu kertas kecilku itu belum sampai ke tangannya. sungguh itu membuatku sangat mengganjal.
pertemuanpun dimulai, ternyata aku masih seperti yang sekarang aku kehilangan aku yang dahulu dan yang ada kini adalah aku yang tidak beres. ada yang salah dengan diriku. ada yang belok dengan perasaanku. ada yang kutolak dalam jalan ini. ada yang kusembunyikan dalam keterbukaan ini. ada yang kupendam dalam lautan kisah ini. aku terlalu banyak tidak beres ketimbang beresnya. di satu sisi aku masih 'keukeuh' menyalahkan keputusannya yang bodoh itu, di sisi lain aku tahu semua ini pasti beralasan dan dia bukanlah mahasiswa yang bodoh.
menit makin menit aku memang belum curiga atas apa yang ia bawa, sebuah kertas dengan spidol hitam menggores di atasnya, aku tak terlalu merasa apa-apa. lalu ketika yang lainnya menanyakan IDE,IDE,KONSEP,KONSEP. kuhanya bisa dia, dan kembali menjadi manusia paling tidak beres sedunia. 1 yang aku ingat yakni perahu kertas yang selalu kusimpan di dompetku. kini kudekatkan lagi jarak kami berdua. dompet takkan kuganti, dan tas sering kuganti. aku sangat mencintai perahu kertasku, karena ia lahir dari kepalaku, mungkin begini rasanya seorang ibu kalau mencintai anaknya. sama selembar kertas dan tintanya saja aku bisa seperti ini, semoga nanti anakku bisa menjadi anak yang bangga dengan ibunya, karena ibunya yang tak beres ini akan sangat menyanyanginya.
lalu tak lama kemudian, sang eksekutor membuka apa yang ia bawa. tersdak rasanya, karena perahu yang mungkin belum jadi itu berisi sebuah model, model. model adalah isi dari perahu kertasku, dan dengan mudahnya tanpa tekanan apapun sepertinya, penguasa memang lebih mudah untuk mengeluarkan sesuatu dan semua mempercayainya karena seuntai kredibilitas. rasanya sakit sekali, aku langsung mengingat sebuah perahu yang ada di dompetku, yang lahir daro otakku itu yang aku sangat menyayanginya, hingga hari ini pun aku belum mampu untuk menunjukannya pada dunia (lagi) karena saking aku tak mau dia terluka, karena aku saking tak mau dia dicela, karena saking aku tak mau dia dikembalikan ke ibunya. dia hanya sehela perahu yang rapuh, yang tak bisa membela dirinya sendiri kecuali aku yang menjelaskannya dengan sejuta bahasa sampai kalian mengerti. dia bukan anak yang mampu bertahan, dia bukan anak yang mempunyai akal pikiran, dia juga bukan anak yang punya agama dan fondasi, dia hanya butuh aku untuk bertahan. maafkan jika aku menangis lagi, izinkan aku di tengah ketidaksetujuan kalian selama ini.lalu aku berpikir, kapan aku bisa melahirkan perahu kertas ini ke dunia yang lebih terang agar mereka tahu, tak sekedar tahu.
sungguh aku tak samasekali berencana untuk membuat perahu kertas yang baru, tapi tangan ini bergerak mengambil kertas yang lebih besar, segala apa yang ada di pikiranku, kutulis dalam bentuk model, dan jadilah model kasar yang kulipat menjadi perahu kertas yang baru. kini perahu kertas kecil itu sudah memiliki teman. aku sudah tekadkan ini memang perahu kertas yang kedua dan kembali akan aku jaga agar tak akan dipermainkan oleh mereka. namun memang takdir berkata lain, keberanianku terkumpul untuk emmbongkar perahu itu dan menjelaskannya pada mereka.
alhamdulillah mereka tersadar beberapa hal yang ada, walau tetap saja aku yakin sebagian dari telinga mereka masih tertutup awan kelabu dan angin puting beliung. tapi aku akan merapihkan model yang ada di perahu yang lebih besar, dan bukan berarti aku lebih sayang pada perahu yang baru karena saat kelahirannya ia langsung melihat dunia dan potensi yang besar, karena belum semua dari kau mereka pahami.
entah air mata bahagia atau sedih, ijinkan aku menangis untuk sekadar kesal karena semua yang terjadi tadi pagi. karena aku juga tak punya waktu lama untuk menangis, karena aku ingin aku masih ingin melahirkan perahu-perahu yang lain, dan kutunjukan pada dunia, dan aku kembali beres seperti semula.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar