aku tak tahu apa yang terjadi 2 hari ke belakang ini? bahkan bukan 2 hari, ya beberapa hari yang kau rasakan. rasanya aku tak bisa memahami walaupun tahu atau tidaknya kau, pasti aku akan selalu mencoba memahami apa yang ada saat ini. apa yang ada saat ini adalah, perahu kertasku memang masih nyaman di dalam tas itu dan aku pun juga enggan mengeluarkannya (lagi). saking lamanya kini keadaan perahu kertas itu sudah mulai memburuk, beberapa bagiannya sudah mulai bolong dan sobek. mungkin buruknya sama dengan keadaanku yang semakin memburuk. oh sungguh aku sayang perahu kertasku.
keadaan yang semakin menyadarkanku kalau aku sudah sampai di titik ini, atau aku sebentar lagi akan sampai di titik ini. titik jenuh yang kukira aku tak akan pernah menyentuh area ini, karena aku memiliki prajurit yang banyak, prajurit yang cantik, prajurit yang nantinya akan ada beberapa yang setia. memang aku tak bisa mengatakan "andai saja dulu aku dibekali beberapa potong bambu dan kayu, maka saat ini aku tak akan seperti ini" kata andai sudah haram bagiku dan seakan diharamkan juga bagi mereka.
aku hanya ingin bersama selamanya dan menjadi bagian terindah yang kalian kenang. atau menjadi bagian terbaik yang laian punya, atau menjadi ide terbaik yang dilaksanakan, atau menjadi ....... menjadi seperti ini yang kalian inginkan.
keadaanku semakin rumit kendati masa lalu masih membayangi kehidupanku yang sekarang. keadaanku juga semakin rumit karena semakin banyak kata, kalimat, paragraf dan semuanya yang kalian lontarkan yang seharusnya kalian lontarkan dengan embel2 "mari kita siapkan" maka aku akan bahagia. tapi semuanya tak ada! rasanya perahu kertasku juga mempunyai kapasitas untuk bertahan di dalam sana. rasanya ia juga punya umurnya sendiri.
lantas?
haruskah aku melayarkan perahu kertasku sekarang?
lantas apakah ini saatnya perahu itu ditunjukan lagi pada manusia lainnya?
oohh langit yang biru kau tentu melihat saat aku memberikannya pada manusia, dia hanya terdiam seakan tak bisa membaca dari TK. oh langit penuh bintang yang gelap namun indah tentu kau ingat, kau pernah jadi saksi bisu, ia juga terdiam seperti orang yang buta sedari dulu. oh awan yang cerah haruskah aku mendulang lagi kejadian yang sama hanya demi memuaskan apa yang ingin mereka ketahui. aku tak mau !
haruskah sekarang aku tunjukan (lagi) walau rasanya berat. perih itu masih menggores, tidak dalam hanya saja perih ya namanya erih pasti membuat tidak nyaman, kamu tau kan perasaanku. aku memang tak pernah membaca bukunya, aku memang tak pernah membaca e-booknya, aku saja tak kenal lagu-lagunya, aku juga tak punya pengalaman yang pasti, tapi kalian tak pernah melihat aku sekolah ?! aku belajar dari sana dan aku tahu apa yang aku tulis, apa yang aku gambar, apa yang aku bentuk, aku sudah pernah mencoba, kalian juga merasa. aku tak mau menuduh kalian tak pernah mau mengenal ;fakta; tapi kalian yang memaksa aku untuk berteriak. "semua itu kulakukan berdasarkan fakta" tapi semakin kencang kuberteriak, semakin kalian tidak akan pernah mendengar suaraku.
langit yang biru smeerbak wangi salju .......
apa sekarang saatnya aku mencoba lagi, tapi aku juga sudah pernah dan hasilnya aku juga sudah tahu. kembali lagi aku berangkat dari fakta, aku sudah lelah mencoba dan mencari walau tanpa bergerak seperti ini aku makin tersiksa sendiri.
perahu kertasku, aku mencintaimu !!!!!!
kau tak pernah membuat aku sakit
tapi mereka yang tak pernah mau tahu kalau kamu ada

Tidak ada komentar:
Posting Komentar