Kalau pada mau bilang ini pengantar My Little prince ya boleh deh.
kalo mau bilang ini 2 hari berturut-turut part 5 ?
hmmmmm actually up to you sih mau bilang ini cerita apa.
*dan kenapa juga harus selalu dihubung-hubungkan dengan cerbung itu :p
hari ini adalah pembagian tugas mata kuliah komunikasi politik. ya aku bersyukur, buku yang dibelikan oleh Niko benar, dan aku semakin lancar untuk mengerjakannya. bahkan sampe Viona juga akan meminjam buku itu, berarti bukunya berkah kan. aamiin.
Terlepas dari peminjaman buku mendadak, aku juga terlibat dengan sebuah transaksi pinjam meminjam buku. beberapa hari lalau Romeo meminjam semua buku semester 2 milikku, ya kuberikan saja. Kan setelah kutanya sama Niko, dia juga jualan buku. Masa penjual buku mau pinjam buku, kan rasanya gak mungkin. Lagi pula dari semester 1 juga dia jarang pinjam buku cetak dan pengakuannya juga, dia sudah dari lama berjualan buku.
*terlalu banyak kata buku.
Suatu hari aku tahu kalau Niko tidaklah seperti yang kukira, dia penjual buku yang masih buku juga ternyata. Sedangkan semua bukuku sudah dipinjam sama Romeo. Di satu sisi Romeo lebih berhak atas buku-buku yang kupunya, karena dia telah memesan bahkan mengambilnya lebih dulu. Di sisi lain, aku ingin selalu ada di saat Niko membutuhkan. Ya manusiawi kan kalau ingin membela orang yang sudah dianggap adik.
Lalu aku pun menanyakan tentang buku itu terhadap Romeo, "Rom, buku soskom kamu lagi kepake gak?" lalu Romeo menjawab, "Enggak teh emang kenapa?"
Singkat cerita aku meinta tolong Romeo agar membawakannya saat finnal test kursus bahasa inggris kami.
Aku hari itu tak ter[ikir apa-apa, bahkan terpikir merasa bersalah karena perbuatanku yang plin plan juga tidak. Yang aku pikirkan hanya finnal test ini apakah lulus atau tidak.
And finnaly, aku LULUS !!!!
YEAAAYYYYYY!!!!! *bangga*
Waktu pun masih tersisa banyak di kelas, Mr Iskandar menceritakan banyak hal pada kami, seperti bisalah.
Lalu ada saja yang membuatku kaget.
Tiba-tiba Romeo berkata dan perkataannya seperti mengalir begitu saja.
"Ini buku buat apa sih teh?"
"Ada deh, kamu keppo banget sih Rom."
"Ahh boong pasti buat seseorang yah, terus saya bisa pinjam lagi kapan teh?"
"Ya pas kamu butuh."
"Oggghh gitu teh." Romeo tampak kaget berbalut kecewa, ini yang mulai bikin gak enak.
"Ya kan teh pasti buat seseorang, kan teteh dihubungin, bisa pinjem buku itu gak, terus teteh jawab, wah beres itu mah. Ya kan ayo ngaku."
JLEBBBB!!!!!!!!!!!!!
Jujur saat itu aku terpukul sekali sangat mak jleb slek des. *apasih
Memang benar apa yang ditebak Romeo barusan, buku-buku yang kupinjam kembali itu untuk Niko. AKu kembali berpikir, apakah tindakanku ini salah ya? Hanya karena seonggok buku masa iya aku sampai bingung antara memilih teman atau adik sendiri.
Pikiran-pikiran dari angin yang semilir menyentuhku, mulai berdatangan.
:
====siapa saya sih kak, kan cuma dianggap adik, bukan adik======
=====oh jadi Teh Adisa mah gitu, pilih kasih padahal saya duluan yang minjem=====
=====aku kan pemilik dari pada buku ini, wajar lah kalau aku minta balik, toh hanya sementara kan=====
=======ya ampun segitunya banget kak, nih saya jadi gak enak sama Romeo=====
=====Udah Teh gak usah, saya udah ada. kasihin aja sama si dia======
PERGI PERGI PERGI !!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!
Segera kuusir semua pikiran itu dari benakku.
Aku hanya ingin yang optimal dan maksimal untuk Niko, aku hanya ingin itu.
Tapi kembali aku termenung dengan keputusanku.
Semalam Niko janji akan mengambil buku soskomnya malam ini, tapi sejak tadi pagi aku sms, tak ada satu pun smsmku yang dibalas olehnya.
Aku tahu dia kuliah full sampe sore, tapi segitu gak ada waktunya kamu Nik buat bales sms Kak Adisa?
Hingga aku menuliskan catatan ini di sini, sms Niko tak kunjung datang.
Apa ini yang disebut dengan kualat.
Aku terkesan sangat semena-mena dengan semua yang ada, aku begitu nyata ingin apa-apa semuanya Niko, ini itu Niko. Padahal balasan Niko gak seberapa, apa ini?
Niko yang membangkitkan semuanya, cinta, perhatian, kasih sayang, belajar, inspirasi, karya, kebahagiaan, harapan, semangat dan sekarang tumbuh satu lagi, kesedihan.
Masih tak mengerti dengan semua ini, aku hanya memilih untuk menuliskan kekecewaan dan perasaanku di blog ini, di blog yang sederhana ini.
Saat aku hijrah dari jaman jahiliyah, kucibirkan masalah perasaan hati. Namun kini aku menghadapinya kembali dan ternyata aku masih sama bodohnya.
Memang Alloh tak mengujiku dengan cinta lawan jenis yang ada nafsu di dalamnya yang ada rasa ingin memiliki di dalamnya, Alloh mengujiku kembali melalui adikku sendiri, Niko.
Awalnya kukira ini akan bahagia, seperti yang seminggu itu aku tulis. Namun bedakanlah Adisa, antara kehidupan asli dan kehidupan bohongan.
Bahkan hingga samapi paragraf berapa ini aku tak tahu, Niko tak ada konfirmasi apapun.
Niko, kamu di mana?
Are u okay, baby?
I miss you more and i do love you my little prince.
Mungkin saat cerita ini kuklik TERBITKAN ENTRI
Sms Niko juga belum datang.
Romeo, maafkan aku ya. Bukannya aku pilih kasih, tetapi coba kalau kamu ada di posisi aku. Kamu pasti akan merasakan hal yang sama. Memang sempat terpikir kalau kalian 22nya tak usah ada yang dapat pinjaman buku dariku, namun aku tetap tak bisa kalau tidak membantu adikku.
Terlepas dari aku pernah melahirkan karya My Little Prince dan sedang menulis My Little Prince PART 2.
Jujur aku akui, aku sedang terpengaruh dan seperti susu yang ketetsan bubuk kopi.
semua itu harus kunetralkan segera.
-Adisa in Sadland-
Tidak ada komentar:
Posting Komentar