Kamis, 01 Maret 2012

2 Hari Berturut-turut PART 5

setelah huru hara mengenai "bisa aja sih ini diilang 2 hari berturut-turut part 4" sekarang inilah versi asli 2 hari berturut2 part 5.

Hari ini gue kuliah seperti biasa ya seperti biasanya kuliah, belajar, menyendiri, mencari ilmu, bicara sedikit-sedikit, ya membosankan di tengah rasa syukur yang selama ini selalu melekat dalam hatiku.
kuliah itu sebenrnya asyik dan akan selalu asyik kalau orang-orang yang ada di sekitar kita memang pemikirannya sejalan.

Setelah melalui 2 mata kuliah untuk hari rabu ini, aku mendapat kabar kalau sore nanti kumpul mtv, itu oh manajemen produksi siaran tv, mata kuliah yang paling aku takuti. Tapi mau bagaimana lagi? Suka tidak suka semua itu harus kujalani. Hingga suatu sore mendapatiku berada di kampus itu lagi.
hmmm udah capek-capek ngojek ternyata belum kumpul juga, yaaah capek deh.
Kemudian aku menunggu bersama teman-teman kelas, hmmmm bete sih, soalnya keadaannya seperti biasa.
Setelah beberapa menit duduk bersama di samping lampangan basket, kami berpindah ke depan kampus. Saat itu aku sedang jalan bersama Wibdyo, dia salah satu teman baikku di kelas.
"Eh Adisa, foto kamu seberapa?"
"Ya 3x4 biasa aja wib."
"Ya iya seberapa? Gue kan gak tahu, liat napa, dibalik aja fotonya."
"Segini nih." kataku sambil mempraktekannya menggunakan jari.
saat jalan bersama, tak sengaja kulihat ada Addin, Aji, Lisu, dan teman-teman BKI lainnya. Aku sangat kaget, kaget melihat keadaanku yang sedang bersama seseorang lelaki. Huhhhh malu sih, keliatannya kayak gak punya temen cewek aja.

Ya tapi mau bagaimana lagi, bukannya aku seperti Viona yang rangkul cowok sana sini atau seperti Beni yang deket sama cewek manapun. Lalu mau bagaimana lagi? Memang saat itu yang mengerti aku dan perasaanku hanyalah mereka, mereka sang kaum lelaki pilihan dari kelasku, *bukan lelaki sembarangan.
Gak enak aja sih, tapi ya mau bagaimana lagi, biarlah saja Addin, salah satu sahabatku itu melihatnya.
setelah berpindah-pindah maka rapat angkatan mata kuliah mtv pun dimulai. Memang banyak cerita seram, bukan hantu.

"Kalian harus sudah mulai terbiasa sama rapat seperti ini, sama juga di kampanye nanti. Bisa aja rapat kampanye jam 3 sore, rapat mtv jam setengah 4. Dan kalau kalian gak kumpul bisa aja tim dosen bilang wah ni anak gak interest sama mata kuliah ini, begitu juga sebaliknya. Tapi sebenernya itu bisa disiasati kok."

"Saya gak terima alasan hujan, macet atau apapun itu. Emangnya kalau ada kebakaran, kebakarannya bisa distop dulu? Bilang, tunggu ya cameramen saya belum datang. Kan gak bisa."

Dan masih banyak cerita lainnya yang menurutku tak perlu kuceritakan. Aku hanya dapat terdiam mendengar semua itu. Ya suka tidak suka aku harus menjalaninya. Beres rapat aku dan teman sekelompok berkumpul untuk pembagian tugas. Awalnya bingung, mau ngambil job apa. Kayaknya gak bisa semua, Adisa bodoh sekali.
Di BKI biasanya jadi director, namun itu tak mungkin diterapkan di sini. Kalau jadi scriptwriter kayaknya aku masih trauma dengan pengalaman buruk di komunitas film, scriptku dibilang seperti sinetron. Hmmm tau gitu aku kerja aja yah di persinetronan itu, jelas penghasilannya.
Menit demi menit berjalan, dan pada akhirnya.
"Ummm scriptwriter perlu gak sih?" tanya Viona kepada Mino
"Perlu laaah."
"Naaaah ni Adisa aja." celetuk Marni.
"Naahh iya lo bisa kaaan." sekarang malah Adit ikut mendukung.
Ya pada akhirnya aku jadi script writer.
Buang semua trauma yang ada, banyak berdoa, baca bismillah sebelum bekerja dan rajin-rajin ibadah, insya Alloh aman. Aku hanya berpikir seperti itu.
Aku bersyukur, tanpa harus pikir-pikir dan pilih ini itu, aku sudah dapat tempat yang pasti yang lebih penting lagi tidak dibuang kemana-mana.
Rapat selesai lalu aku sholat magrib di masjid kampus. Imamnya Addin, hmmm pasti lama deh baca surat pendeknya *loh...
Di dalam sholatku, aku menitikan air mata. Air mata bahagia sekaligus air mata pengharapan.
Harapan agar aku bisa menjalani ini semua, beserta kebahagiaan yang ada.
Lihatlah! Pada hari pertama Mtv, Alloh telah menunjukan kebesaran dan anugerahnya, bagiku semua ini keajaiban.
Keajaiban kecil yang begitu aku syukuri.
Air mata semakin tumpah dan berlumeran di pipi setelah aku selesai sholat.
Lalu, aku membuka hp dan membaca sms yang masuk, ternyata Niko sudah di depan untuki menjemputku sekalian mengambil buku.
Ya, buku yang di cerita sebelum ini, di blog ini juga aku ceritakan, *baca doong makanya.
Akhirnya saat itu, malam itu, Niko balas sms aku dan ingin mengambil bukunya hari ini.
Kusegera berlari untuk menghampiri Niko, saat aku menembus gelap kemudian menemukan terangnya lampu, yang mana lampu itu menerangi wajah adik kecilku, Niko.
"Niko...."
"Kak Adisa."
"Ini Nik bukunya, dari tadi pagi aku berat loh bawanya."

"Ya udah mana sini....."
lalu kami berjalan menembus kegelapan menuju jalan raya.
"Nik kamu udah makan belom?"
"Udah kak."
"Yaaah padahal aku mau ngajak makan Nik."
"Yaaah Kak Adisa, besok aja ya kak. Malem deh, sekalian kita ke tempat yang ada wifinya. Laptopku aneh gak bisa nangkep wi fi."
"Ohhh iya-iya oke.. Eh kayaknya kemaren kamu mau nanya sesuatu sama aku, apaan sih?" tanyaku mulai penasaran.
"Ah jangan sekarang deh, besok aja."
"Besok? Kenapa gak sekarang? Kamu paling jago ya bikin orang penasaran." candaku.
"Besok aja sekalian makan, biar bisa ngobrol banyak."
"Emang tentang apa sih Nik?" aku mulai santai.
"Tentang blog sih hehehehe." Niko menjawab dengan ketawa garingnya.

JLEGGGG!!!

Kaget sih sebenernya saat Niko akan menanyakan hal sakral menurutku.
Ada apa dengan blog aku ya, aku mulai menebak-nebak dalam hati. Apa jangan karena cerita 2 hari berturut-turut yang ber part2 ini?
Apa isinya terkesan tidak senonoh baginya?
Apa isi dari cerita ini ada yang patut menjadi pertanyaan?
Apapun itu, apapun semua itu, apapun yang kelak akan Niko tanyakan.
Aku hanya punya satu harapan, Niko..............
Jangan pernah putuskan pertemanan ini, pertemanan yang bahkan aku sudah menganggap kamu sebagai adikku sendiri. Adik kecil yang aku sayang, seperti one little brother in my house, and i think he is a bad boy, but sometimes i miss him..
Ya kamu seperti Dino., adik kecilku di rumah.
Aku pun masih menabk-nebak, apa selama ini aku telah salah dengan blog ini?
Baiklah kembali lagi, aku hanya berharap apapun yang terjadi, apapun yang akan kamu tanyakan besok. Aku hanya ingin kita tak akan pernah berubah, kita tak akan pernah berubah, kita tak akan pernah berubah, selamanya...

Pemikiranku yang panjang tadi hanyalah memakan waktu beberapa detik, semua seakan mengalir begitu cepat sepersekian detik di benakku, itulah hebatnya sistem dari Tuhan. Otak manusia.
"Apaan sih Nik? Tambah bikin penasaran deh. Aku aja udah cukup tersiksa tahuuuu!!" aku mulai memanja.
"Ihh tersiksa kenapa sih ni orang." Niko mulai ngeselin.
"Ya yaaa yaa aku kan kuliah semester 4, lagi sibuk-sibuknya, lagi pusing-pusingnya ada mtv, kamu malah bikin penasaran gini. Seharusnya kamu hibur kakak doong dengan ngasih tahu pertanyaan kamu itu."
"Besok aja kak, sekalian makan ya ya ya."
Lalu jalan kami makin dekat dengan perpisahan. Maksudanya, sebentar lagi kita akan pisah jalan, Niko ke kanan menuju jalan Ciseke untuk kembali ke kos-kosan teman untuk emngerjakan tugas dan aku ke kosan teman juga untuk yaaa pjamas party gitu deh *apasih gaya banget *sok deehhhh.
"Yaudah ya, udah sana-sana." tanganku emngisyarat mengusir ala bercandaan. Padahal aku masih kangen sama kelucuan adik kecilku itu.
"Jangan panggilin angkot lagi." ancamku sambil melotot, habisnya ahir-ahir ini kalau udah mau pisah jalan, Niko suka manggil angkot paksa dan terpaksa aku harus menaikinya.
"Iya-iya siapa yang manggil angkot sih."
Saat kulihat Niko berbalik dan kini hanay terlihat punggungnya saja, barulah aku ikut berbalik untuk menuju tujuanku, kosan Evina.
"Kak Adisa." panggilnya. Lalu aku menengok, entah kenapa itu seperti tengokan yang asing, kukira dia sudah benar-benar pergi.
"Iya?" senyumku.
"Besok jangan lupa ya kak."
dan aku hanya membalasnya dengan senyuman lagi., dan kami pun berlalu bersama.

Keesokan harinya, aku pikir aku masih terlalu rindu dengan Evina.
Maka aku kembali bermain di kosannya yang mewah itu.
Main laptop, internetan, dan lain-lain. Sampai aku menemukan status terbarunya Kang Brian. Aku suka kata-katanya soalnya ada "Nikmat mana lagi yang kamu dustakan."
Aku sangat suka kalimat itu. Lalu aku klik like untuk statusnya, tanpa sadar setelah aku lihat lagi.
Ardo Syaeful Mitra and You like this
Apa? Ardo kenal sama Kang Brian, lagi-lagi sepertinya Ardo masuk ke dalam kehidupanku. Tapi tidak, itu tidak akan aku ijinkan untuk yang kesekiankalinya. Tugas dia hanya mengacak-acak hidup aku, dan itu tidak akan aku ijinkan lagi.
Jam demi jam aku tentunya menunggu sms dari Niko. Katanya Niko mau ajak makan hari ini, sekaligus tentang pertanyaan itu.
Aku penasaran walaupun penasaran yang dibalut dengan rasa takut sih.
Intinya aku gak mau pertemanan ini berakhir gara-gara sesuatu yang kecil, seperti blog.
Apa ada kakak-kakak lain yang cemburu karena aku adalah kakaknya Niko?
Apa ini masalah kakak lain?
Yah kuulang lagi, aku hanya ingin semua yang ada di antara kita tak pernah berubah untuk selamanya sampai nanti, jika novel yang aku tulis benar-benar jadi kenyataan. Beberapa pointnya saja. sudahlah jangan bicarakan itu.

Pukul 17.00 no
Pukul 18.00 no
Pukul 19.00 no more.
aku masih menunggunya sampai saat ini, kasusnya hampir sama di cerita sebelumnya, aku menunggu kabar dari Niko.
Setelah aku keluar dari dunia novel, aku sadar kalau Niko memang anak yang pelupa. Contohnya soal pertanyaan itu, sesungguhnya sudah dari 3 hari lalu dia ingin mengutarakannya, tapi apa? Lupa juga kan.
Bukannya aku penasaran berlebihan, aku cuma ingin tahu apakah itu akan berdampak pada pertemanan kita saat ini atau tidak.
Itu saja, sangat simple kan.
Sampai pada setengah sembilan malam, rasanya tak mungkin akalu Niko mau memboyongku malam-malam seperti ini.
Lalu sampai akhirnya aku pulang dari kosan Evina dan mengetik tulisan ini di laptopku.
Bahkan samapi bagian ini belum juga ada kabar dari adikku itu. Ya aku tahu kalau para adik memang suka membatalkan janji seenaknya.
Adik kandungku, Dino juga seperti itu kalau di rumah. Janjinya mau main warnet jam 1 siang, pulang sekolahnya jam 3 sore. Kapan mainnya?
Aku sendiri tak tahu Niko asli akan emmbaca tulisan ini atau tidak, yang jelas aku tak akan post kan tulisan ini di facebooknya. Blog ku tak sembarang orang bisa baca alias aku tak promosi gede-gedean.
JAdi aku anggap ini sebagai rasa kecewa yang terpendam aja.
Yang penting aku anggap, hari ini aku bahagia, aku dapat anugerah aku bisa menikmatai apa yang diberikan Tuhan, Alloh SWT.
Kalau Niko menganggap aku bagian terkecil dari hidupnya, maka aku juga bisa demikian, tapi kalaua ku demikian maka itu bukan aku. Aku pasti akan selalu ingat Niko.

Anywhere, anyone, anytime.

sekarang aku hanya butuh waktu sendiri, untuk terima kenyataan kalau Novel dan keajadian nyata memang berbeda, ya aku tahu itu beda, plis jangan marahi aku gara-gara aku baru sadar malam ini.
Diamkan saja aku, aku bisa menolong diriku sendiri.
Aku punya banyak ide untuk melanjutkan novel itu, tapi kalau Niko begini, ide itu seperti daging yang masih beku yang belum bisa dimasak. Tapi daging itu ada.



From Adisa To Niko With Miss -___-"








.

.


.


.



.

.
Pukul 20.41
there's one

"Kak Adisa lagi banyak tugas yah?"
WHAT? sms itu?
aku langsung melakukan analisis kilat,
ini kayaknya Niko ngira aku gak sms dia karena aku banyak tugas, padahal aku yang mikir kalau barangkali aja dia yang lagi super sibuk...

"Hah? emang kenapa? Dari tadi aku nungguin sms kamu."
"Nanya aja, laah aku juga nungguin."

AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!!!!!
Aku berteriak tanpa peduli ada tetangga kanan kiri apa enggak, tanpa peduli kalau aku masih tercatat sebagai anak kosan ini.

maka lahirlah karya ini sebagai 2 hari berturut-turut PART 5.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar