Jumat, 10 Agustus 2012

Akhir ini harus indah !!

Akhir ini harus indah !
            Aku berada di sebuah rumah yang catnya dominasi putih. Di sana ada beberapa kamar dan di tengah ruangan ada sebuah tangga yang berwarna putih pula. Rumah itu adalah sebuah kos-kosan. Ada April, Yulia, Trisiana mereka satu kosan di sini. Namun di depan kamar mereka adalah kamar Pak Faiz dan Pak Andhika. Aku melihat Pak Andhika mengenakan jaket hitam dan tas yang biasa ia bawa, ia sedang berbincang dengan Pak Faiz. Lalu aku dan teman-teman sedang berbincang juga dalam keadaan pintu kamar terbuka, jadi aku bisa melihat Pak Andhika dari kejauhan.

            “Ihhh itu ada ular mbak.” Ujar Trisiana mengagetkanku. Lalu kulihat sesosok ular warna hitam yang pendek namun gemuk. Ular itu seperti 2 badan yang terlipat. Kemudian sesekali ia mencekungkan badannya seperti yang sering ada di tv. Aku melihatnya dari jendela. Aku takut.
            “Ihh serem.” Aku hanya bergumam singkat. Namun tiba-tiba ular itu masuk menyusup ke kamar April, masuk  ke bawah kasur April yang terletak di depan pintu. “Yahh yaah ularnya masuk.” Ujar pemilik kamar dengan santainya. Ini kenapa April santai-santai begini? Aku pun bingung. Karena takut aku langsung keluar kamar. “Hiiiihhh aku takut.”
            “Yaudah yuk, kita mau pergi kan.” Kata April menyusulku keluar.
            “Iya yuk cepetan, nanti ularnya ngejar lagi.” Aku masih ketakutan.
            Kemudian kami berdua jalan keluar rumah putih itu. Kami melewati kamar Pak Andhika, April menegurnya dengan sapaan senyum. Aku pun juga ikut demikian, namun sayangnya saat aku senyum Pak Andhika malah sedang nunduk ke leptopnya. Selang beberapa detik saja hasilnya begini. Lalu aku pusing dan aku merasa kepala ini sangat berat, dingin menusuk tulangku, kurasakan kamar ini memeluk begitu dalam, sebelum kemudian kembali aku terlelap.
***
            Suasana kampus saat aku kuliah. Aku berjalan bersama April, kami membawa beberapa buku di tangan. Kulihat Pak Andhika sedang duduk di bangku warna warni, April kembali melemparkan senyumnya dan aku juga kembali mengikutinya, tapi lagi-lagi Pak Andhika keburu nunduk dan kami berjalan lagi, aku lihat dia lagi, aku melihat ia berjalan, aku melihat ia melintas di dekat kami, aku melihat sosoknya, aku lihat ia. “Haaahhhh...” “Haaaahhh gak, gaaaakkk.” Aku setengah sadar dalam kedinginan ini.
            “Mbak, sadar mbak.” Suara Trisiana membangunkan.
            “Haaahhhhh, ehhhaaahhhh.” Aku ingin memanggil namanya namun aku tak mampu lalu aku membuka mata ini perlahan.
            “Mbak?”
            “Aku gak mau tri, gak mau! Kenapa harus dia sih horor banget.” Aku mungkin masih ngelantur.
            “Siapa? Pak Andhika?”
            “Iya tadi dia ada di mimpi aku, kita ketemu dia satu kosan gitu, ada ular juga, terus kita di kampus, gak jelas sih. Hmmmhh..” kepalaku serasa sangat terbeban atas mimpi-mimpi tadi.
            “Duh Mbak sampe kebawa mimpi gitu.” Komentar Trisiana.
            Memang segitunya ya? Sampai terbawa mimpi segala? Baru pertama aku mimpi seseram ini. Yang tak seram sih, tapi apa persoalan perasaan ini sampai segininya, sampai di mimpipun dia hadir. Apa aku terlalu bersemangat ya untuk memanggil dia kembali? Kepala ini rasanya habis memikirkan beban yang berat, aku agak pusing karena aku setengah masih berpikir untuk merangkai beberapa gambar di dalam mimpiku. Mimpi yang aneh. Kemudian kubuka hpku, kulihat ada notif di facebook, ternyata pesan karena lambang messagenya berbintang. Aku mengklik, ini dari siapa ya?
            “Hah??? Hah hah!!!” aku panik, tertera di paling atas adalah dari Pak Andhika, buru-buru aku mengklik nama itu untuk melihat apa isi pesannya. Karena urutan nama pasling atas adalah pengirim pesan terbarau atau penerima pesan terbaru. Aku masih dilanda kepanikan, apa komentarnya ya atas beberapa tulisan yang kukirim itu? Tapi setelah aku lihat, tak ada pesan apa-apa. Ini masih kiriman lamaku, 4 file cerita, lalu mana pesannya? Tapi tadi kan ada notif, lalu aku kembali ke daftar pengirim pesan, dan itu adalah lama semua, aku sudah membacanya. Aku kembali ke nama Andhika, meneliti kembali mungkin memang ada pesan tapi belum terlihat. Aku pun terus menggulirkan kursor ke bawah, ke bawah dan terus ke bawah. Kulihat beberapa pesan lama, dan perhatianku jatuh pada satu pesan dari Pak Andhika.
“Jangan pernah berpikir yang jelek tentang seseorang karena kita gak tahu apa yang sedang terjadi pada orang tersebut.”
            “Tapi terkadang kita selalu egois, kita hanya memikirkan kepentingan kita sendiri.”
            Inikah jawaban dari pak Andhika. Masih pagi, haruskah aku mengelus dada atas jawaban setegas ini? Namun kulihat tanggalnya, 30 Juni. “Tri, sekarang 30 Juni?” aku menanyakan pertanyaan bodoh sebenarnya. “Ya gak lah mbak, ini kan udah agustus.”
“Kamu lihat ini deh, ini pesan yang dikirim 30 Juni dan aku benar-benar lupa, aku merasa belum pernah membaca pesan ini saat itu. Tapi kok isinya, kayak menjawab pertanyaan aku selama ini.” Aku kembali bergelut dengan kebingungan.
“Mana mbak sini coba aku liat.” Kemudian kutunjukan layar hpku pada Trisiana dan ia mulai membacanya. “Hmmm iya sih mbak, nyambung juga sama yang mbak pertanyakan selama 4 hari belakangan ini. Ini kan pesan yang waktu itu katanya banyak karyawan yang ngeluh di facebook dan Pak Faiz agak gak suka itu.”
“Oh ya aku ingat Tri, tapi aku bener-bener lupa kalau ada pesan kayak gini, aku lupa. Dan aku malah harus membacanya sekarang, seperti waktu yang tepat. Dia menjawab semua kegelisahanku tanpa harus berkata apapun, seakan semua terjadi begitu saja. Kok bisa ya? Horor banget.”
Sejenak aku berpikir atas pesan yang baru kubaca itu, namun dikirimkan pada bulan juni. Benar juga sih memang, aku terlalu egois, aku mementingkan diri sendiri, aku pingin Pak Andhika selalu menjadi Pak Andhika yang sama setiap hari, aku juga gak pernah tahu persis keadaan dia lagi gimana. Berhubung dia juga kayaknya gak mau diketahui sedang terjadi apa, ya adakalanya kalau aku diam saja dan terus berpikir positif, bukankah begitu?
Dunia ini ajaib, seakan Pak Andhika saat ini dekat sekali denganku dan sedang menjawab semua keluh kesahku atas perubahan sikap dia. Tapi ini sepertinya bukan perubahan sikap, dan kayaknya gak cuma cewek kalau lagi dapet aja deh yang bisa jutek, walaupun cowok gak mens, yaaa pasti ada fase mereka jutek, kayak pak Andhika sekarang, oh kemarin-kemarin. Karena aku yakin, hari ini adalah hari terahir prahara gak jelas ini!
***
Tiba pada waktunya aku dan teman-teman mengadakan bakti sosial ke panti asuhan ibu sunda. Sebelumnya aku pulang dulu ke rumah untuk packing, karena hari ini aku akan pulang ke rumah orang tuaku. Waktu sudah menunjukan pukul 4 sore dan aku masih repot bersiap-siap.
“Halo, Yulia, ini aku masih harus ke rumah kamu dulu bantuin ngambil barang apa langsung ke Jalan surya?” tanyaku lewat telepon.
“Langsung ke jalan Surya aja Bung.”
“Beneran gak mau dibantuin?”
“Ini tinggal 2 dus lagi kok.” Jawabnya
“April kemana?”
“Gak tahu.” Yulia menjawab makin lemas. Apaan sih ?
Aku pun melanjutkan kemas-kemas hingga akhirnya selesai. Aku masih ragu kalau aku harus ke Jalan Surya. Soalnya tadi anak-anak pada kumpul semua di rumah yulia buat packing keperluan baksos. Lalu aku menelepon April.
“Pril, kamu langsung ke jalan surya apa ke rumah Yulia dulu?”
“Aduh Bung, aku masih di kantor nih ngurus pelatihan. Sekarang masih nunggu ttd orang keuangan.”
“Ohhh gitu ya. Yaudah deh.”
“Kamu langsung ke Jalan Surya aja Bung, kayaknya udah banyak juga cowok-cowok yang ngambil barang ke rumah Yulia.”
“Yaudah deh aku beneran kesana nih.”
***
Sepi, tandus dan gak jelas, itulah jalan Surya. Ternyata belum ada satupun kawanan yang sampai di sini. “Halo April, mana? Di sini gak ada siapa-siapa. Gimana sih ini?” nadaku mendadak agak emosian. Karena aku merasa tak berguna sendiri di sini. Sedangkan yang lainnya sibuk ngangkutin barang. Aku terkesan pegawai yang sangat manja. Aduh!.
“Ya maaf dong aku sekarang lagi sama Mbak Rina ngangkat barang.” Makin aja deh ini aku ngerasa gak guna saat April mengatakan fakta barusan. “Halo Bunga, bunga maaf ya Bung.”
“Ya gak apa-apa kok Pril.” Aku menutup telepon.
Aku menunggu di sini sendiri, sudah beberapa menit tapi tak ada juga yang datang ke sini. Aku yakin raut wajahku pasti berubah. Lalu aku mencoba mengingat nasihat dari Pak Andhika, “sabar” atau “Biarkan saja mereka yang bekerja.” Atau “Jangan salah menilai orang.” Maka sedikit demi sedikit senyumku mulai merekah. Aku yakin hari ini adalah akhir yang indah.
Tak alam kemudian satu per satu dari mereka datang dengan motor. Bohong kalau aku masih biasa aja. Masih agak gondok sih, tapi aku coba lebih ikhlas lagi.
***
Baksos berjalan selesai, smeuanya selesai jam 8 malam dan aku langsung menuju bandara untuk pulang. Sembari menunggu peswat, aku mengingat-ingat adakah kejadian indah hari ini? Yang bisa dijadikan alasan bahwa hari ini adalah akhir yang baik akhir yang indah. Tadi baksosnya lancar, aku lambat laun bisa terbawa suasana bahagianya anak-anak sehingga aku bisa tertawa lepas. Aku, Yulia dan April sudah mulai bercanda lagi setelah kesalahpahaman dan sentimentil kemarin. Itu semua indah bukan?
Tapi rasanya ada yang kurang kalau kebahagiaan ini tak dibagi ke Pak Andhika. Tadi kan Pak Faiz ada, tinggal Pak Andhika yang belum kecipratan. Oke.
~”Selamat malam Pak, tadi baksosnya lancar loh, anak-anak di panti ibu sunda pada seneng gitu kita dateng. Kita juga sempet bikin video amatir gitu deh. Tapi tadi agak ada kendala sih, yang anak kuliahannya gak pada bisa balik ke panti karena banyak yang ikut SP.”
Tak lama kemudian Pak Andhika membalas, “Ya udah tapi barang-barang buat mereka yang gak dateng udah dikasihin kan?”
“Udah kok pak. Oh ya bapak kapan pulang ke Ut?” semoga kau mendengar panggilanku, ujarku dalam hati. Aku yakin hari ini adalah akhir yang indah!
“Hari selasa, kenapa? Kamu mau ikut?” aku senyum-senyum sendiri membaca balasan dari Pak Andhika. Sepertinya semuanya sudah mulai mencair. Aku kira dengan segala pikiran positif dan bentuk-bentuk tertentu, Pak Andhika memang sudah kembali. Yeah dia kembali.
“Eummm gimana ya Pak. Pengen sih, kata anak keuangan mereka pernah ke sana dan di sana indah banget pantainya. Saya sebenernya lebih pro kesana dari pada ke lombok kayak yang diidein sama Yulia. Hehehe.”
“Ya ke Ut kan deket.”
“Ya pak, dan ada bapak juga jadi penunjuk jalan.”
Kemudian panggilan untuk penumpang pesawat berkumandang. Aku pun segera mematikan ponsel dan menuju penerbangan. Have a nice fly.
Tamat !

2 komentar: